Mereka tiba di malam hari dengan sebuah mobil pick up yang mengikut dari belakang.
David turun dari mobil diikuti oleh Rana dan Sisilia.
Di depan kos ada Bagaskara yang sedang bersantai sambil memetik gitar bersama beberapa anak kos lainnya.
Saat melihat kedatangan Sisilia dan yang lainnya, spontan saja Bagaskara langsung menghentikan kegiatannya.
Dihampirinya Sisilia yang sedang membuka pintu rumah.
"Bu Sisil dari mana aja? Dari tadi aku tunggu nggak muncul-muncul. Terpaksa deh aku nggak ke luar nongkrong sama teman-temanku karena menunggu rumah dan motor Bu Sisil," kata Bagaskara, panjang lebar. "Itu nurunin banyak karung, ibu habis beli hewan qurban?"
Sisilia mendelik mendengar penuturan anak kos-nya ini.
"Enak aja bilang beli daging qurban. Ini ibu beli barang-barang kayak tas, sepatu, dan baju buat dijual lagi," kata Sisilia. "Kamu, tolong bantu turunin barang-barang sekalian. Itu ibu belikan kamu makan malam."
"Jadi, maksudnya, aku diupah buat jadi kuli angkut dan dibayar cuma makan malam doang? Ugh, ini namanya eksploitasi terhadap anak di bawah umur namanya, Bu."
Menghela napas, Sisilia yang sudah berhasil membuka pintu rumahnya kemudian memutar tubuhnya menatap Bagaskara dengan tatapan tajamnya.
"Bagaskara Jalendra--"
Tubuh pemuda itu langsung terputar dan menghampiri pick up di mana beberapa orang sudah mendekat untuk membantu menurunkan barang-barang belanjaan Olivia.
Melihat itu, Olivia menghela napas lalu masuk ke dalam rumahnya. Menyalakan semua lampu di dalam rumahnya, perempuan itu membuka pintu dan membiarkan mereka membawa masuk barang-barangnya.
"Letakkan di situ aja," ujarnya.
Ada space kosong antara sofa ruang tamu dan area dapur yang langsung terlihat sehingga semua barang yang dibeli langsung diletakkan saja di lantai.
Ada David juga yang ikut membantu sehingga pekerjaan memindahkan barang dari mobil ke rumah berlangsung cepat. Setelah mengucapkan terima kasih pada sopir dan rekannya, Sisilia kemudian membuka lemari pendingin di dapur dan mengeluarkan beberapa botol minuman dingin maupun segar dan langsung ia hidangkan di teras rumah pada Bagaskara dan 3 anak kosnya. Ada pula David yang memilih untuk ikut bergabung dengan empat orang itu.
"Ini makan malam buat kalian. Untung tadi ibu belinya banyak. Kalau nggak, ini cuma bisa masuk perutnya Bagas dong," kata Sisilia.
Bagaskara tersenyum. "Ini karena Bu Sisil ingat gue makanya dibelikan makanan. Kalian harus berterima kasih sama pangeran ganteng ini karena gara-gara pangeran ganteng ini, kalian makan malam gratis, tis, dan tis," timpal Bagaskara dengan bangga, membuat teman-temannya mendengus.
"Nggak usah kepedean, Gas. Bisa aja Bu Sisil memang belinya banyak buat makan Bu Sisil juga."
Ibrahim berucap santai sambil membuka kotak makan di hadapannya.
"Sirik aja bang Baim. Bu, aku mau lapor kalau kemarin bang Baim bawa cewek ke kamar kos-nya," kata Bagaskara pada Sisilia yang sedang di dalam rumah.
"Cewek? Cantik? Pakai dress warna pink?" Sisilia muncul sambil menatap Bagaskara yang mengangguk sebagai tanggapannya. "Oh, ibu tahu itu. Kemarin Ibrahim udah izin sama ibu karena mereka lagi mengerjakan tugas," timpal Sisilia.
"Ibu percaya? Gimana kalau ternyata tugas bang Baim itu ternyata buat anak."
Ibrahim langsung melempar kotak rokok di depannya yang untungnya langsung ditahan Bagaskara sambil melempar cengirannya.
"Fitnah aja lo jadi manusia. Nggak mungkin gue kemarin buat anak rame-rame di kos. Mana pintu kos juga kebuka. Ada Mbak Andita juga di kamar sebelah. Jadi, tahu gue nggak mungkin Jaenah." Baim menyampaikan protesnya, tidak terima dengan tuduhan Bagaskara yang memang mulutnya terkadang melebihi ember bocor.
"Iya mana tahu gue kalau lo udah izin dengan Bu Sisil, Bang. Gue ini sebagai anak kos cuma menjalankan amanat dari Bu Sisil supaya tetap menjaga keamanan dan ketentraman kosan ini. Biar nggak ada cerita ada orang kumpul kebo kayak di kos-kos yang lain," kata Bagaskara, membela diri.
Sisilia melihat perdebatan Ibrahim dan Bagaskara menggelengkan kepalanya. "Ibrahim kemarin juga sudah izin sama ibu. Lagian juga, Ibrahim itu anak baik-baik, nggak mungkin mau berbuat nakal. Kalau kamu memang nakal, Gas, nggak diragukan lagi."
Sisilia memutuskan untuk membersihkan diri karena tubuhnya sudah terasa gatal dan ingin mandi. Bergantian dengan Rana yang sudah selesai membersihkan diri.
"Pak David naksir dengan Mbak Sisil?"
Rana duduk tak jauh dari posisi David yang saat ini sedang bersiap untuk pulang setelah beberapa saat yang lalu ia membantu membereskan bekas makan mereka dibantu oleh Bagaskara dan yang lainnya.
Langkah kaki David yang baru saja akan pergi langsung berhenti begitu saja ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Rana.
Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Terlihat punggungnya tampak sunyi dan dingin, tidak terlihat ramah seperti saat berhadapan dengan Sisilia. Ini adalah penilaian yang diberikan oleh Rana terhadap David.
Pemuda itu tidak menjawab, lebih memilih untuk pergi kembali ke kosnya yang memang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri saat ini berada.
Sementara Rana mengangkat bahunya, memilih untuk masuk ke dalam rumah dan tidak lupa untuk mengunci pintu.
Ada banyak tumpukan barang di ruang tamu sekaligus ruang tengah. Sisilia menghabiskan puluhan juta untuk membeli barang-barang ini sehingga membuatnya sangat berharap jika semua barang bisa sold out.
"Udah pulang semua anak-anak?" Sisilia terlihat keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster dan juga handuk yang menutupi rambutnya.
"Mbak Sisil cantik banget kalau habis mandi kayak gini." Bukan menjawab pertanyaan Sisilia, Rana justru fokus ke arah lain sehingga membuat perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Semua perempuan itu cantik, kecuali kalau nggak dandan. Memangnya kamu pikir mbak masih cantik kalau nggak pakai make up kayak gini?"
Rana menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. "Seriusan, Mbak Sisil cantik banget. Aku aja sampai kagum."
Sisilia berdecak. "Anak-anak udah pulang belum?"
"Udah dari tadi. Terakhir Pak David yang pulang setelah membereskan teras tadi."
Mendengar itu, Sisilia menganggukkan kepalanya.
Mereka mengobrol sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing.
Sisilia berada di kamar depan, sementara Rana berada di kamar belakang.
Kedua kamar bersampingan.
Tubuh mereka terasa lelah karena harus berkeliling pasar tadi mencari toko-toko dengan harga yang murah.
Kantuk langsung menyerang Sisilia begitu saja, membuatnya lebih memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa menyadari jika ada sepasang mata yang saat ini sedang mengawasinya dalam gelap di dalam sebuah ruangan yang hanya ada pencahayaan dari layar laptop di hadapannya.
Sosok itu tersenyum manis, menatap Sisilia yang wajahnya begitu cantik meskipun tidak mengenakan make up. Bulu matanya yang lentik tertutup, senyumnya yang manis tidak terlihat, dan rambutnya yang basah dia abaikan.
"Kalau aku udah jadi suami kamu, aku yang akan bantu kamu mengeringkan rambut kamu," kata sosok itu, menatap kagum Sisilia.
Kantuk mulai dirasa membuatnya segera mengangkat laptop tersebut dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Kemudian, dengan wajah menghadap layar, sosok itu kemudian merebahkan tubuhnya seolah-olah saat ini perempuan yang sudah terlelap di kamarnya, berada tepat di sampingnya.