Bab 9. Ke Pasar

1071 Words
Rana dan Sisilia melangkah menuju area parkiran mobil tempat di mana Rana memarkirkan kendaraan roda empatnya itu. Niatnya mereka langsung mencari barang-barang yang akan dibeli oleh Sisilia dan akan dijual kembali. Perempuan cantik itu berencana untuk meluaskan usahanya dan tidak membiarkan tabungan di rekeningnya menganggur begitu saja. Maka siang ini setelah selesai bekerja di sekolah, keduanya langsung memutuskan untuk pergi. Motor milik Sisilia sudah dibawa pulang oleh Bagaskara atas permintaan perempuan itu sendiri dengan catatan Bagaskara tidak boleh ke mana-mana selain pulang ke kosannya. Ada anak kos yang akan memantau jika Bagaskara tidak pulang ke kosannya. Sisilia tentu percaya jika Bagaskara tidak akan mengabaikan peringatan darinya. Bukan tidak percaya jika Bagaskara akan melarikan motornya, hanya saja jika anak itu diberikan kendaraan pasti akan kelayapan. Pernah sekali Sisilia dengan baik hati meminjamkan Bagaskara motor, pemuda itu justru pergi terlalu jauh dan membuat kedua orang tuanya panik. "Mbak percaya sekali kasih motor Mbak ke Bagas. Nanti kalau dia bawa tawuran gimana?" Rana menggelengkan kepalanya, melihat kepercayaan yang begitu besar diberikan oleh Sisilia pada Bagaskara, salah satu murid paling berlangganan dengan Sisilia selain karena merupakan anak kosnya, juga merupakan murid bandel yang sering membuat masalah. "Walaupun Bagaskara itu begajulan, tapi dia nepatin janji. Lagi pula motor itu nggak bisa dibawa kebut-kebutan." Sisilia membalas sambil terkekeh. Tak lama kemudian ia melihat sosok yang dikenalnya berdiri dengan ekspresi bingung di depan motornya. "David? Kamu ngapain berdiri bengong di depan motor kayak gitu?" Pemilik nama yang ditegur oleh Sisilia langsung menolehkan kepalanya. Pemuda itu tersenyum manis menatap Sisilia. "Ban motorku pecah, Mbak. Nggak bisa dibawa pergi, makanya aku bingung mau pulang ini kayak gimana." Terlihat sekali raut wajah David yang begitu kebingungan, membuat Sisilia menundukkan kepalanya dan melihat ban motor yang memang pecah, membuatnya mengerut keningnya. "Apa mungkin ini perbuatan anak-anak yang jail?" David yang ditanya menggelengkan kepalanya. "Kalau tahu motor kamu ada masalah kayak gini, mendingan pulang sama Bagas tadi. Motor saya dibawa sama dia. Ini kami lagi mau pergi ke pasar, jadi nggak bisa kasih tumpangan ke kamu soalnya kita juga berlawanan arah." Rana yang berdiri di sebelah Sisilia menatap David, kemudian menatap wajah temannya itu. Dari raut wajah David sepertinya pemuda ini ingin berada di dalam satu mobil yang sama dengan mereka alias ingin diberikan tumpangan. Namun, terlalu sungkan untuk mengatakannya secara langsung. "Gimana kalau Pak David ikut kami aja? Kami mau belanja dulu ke pasar. Sekalian buat jalan-jalan," usul Rana memberi ide. "Nggak apa-apa, 'kan, Mbak?" Rana mendekatkan bibirnya di telinga Sisilia dan berbisik, "anggap aja ini sebagai kurir gratis. Nanti Pak David bantu kita bawa barang-barang." Sisilia membalas tatapan Rana. "Memangnya nggak apa-apa kalau dia ikut dengan kita? Memangnya dia mau kalau dijadikan kurir gratis?" "Maulah pasti." Rana tersenyum lalu menatap ke arah David dengan senyum manisnya. "Pak David bisa menyetir mobil?" David yang ditanya menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sisilia. "Bisa, Bu." "Ya sudah kalau begitu bapak yang menyetir. Berhubung kita mau ke pasar, nanti aku yang nunjukin arahnya. Mbak Sisil duduk di depan sama Pak David. Biar aku fokus di belakang," ujar Rana. Perempuan itu segera membuka pintu mobilnya, memaksa Sisilia untuk duduk di kursi depan, sementara dirinya langsung berpindah ke kursi belakang sambil melempar kunci mobilnya pada David yang langsung diterima oleh pemuda itu. Sisilia yang kebingungan memasang seatbelt di tubuhnya. Kepalanya menoleh ke belakang menatap Rana dengan bingung. "Bukannya kamu sudah tahu alamat pasarnya? Kenapa memerlukan arah jalan lagi?" "Aku lupa-lupa ingat arah pasarnya. Makanya aku duduk di belakang biar bisa fokus cari informasi," jawab Rana santai. Sisilia menganggukkan kepalanya. Ditatapnya David yang sudah duduk di balik kemudi. Mobil kemudian melaju pergi meninggalkan area sekolah. Sementara itu David fokus menyetir, tangannya yang terlihat sangat putih dan kekar, terlihat sekali seperti tangan laki-laki yang sangat keren jika difoto. Sisilia menelan ludahnya, melihat tangan yang menurutnya agak tanganable ini. Segera perempuan cantik itu menggigit bibir bawahnya, mengenyahkan pikirannya yang seharusnya tidak ada karena bisa-bisanya ia berpikir yang tidak-tidak tentang laki-laki yang lebih muda 5 tahun darinya itu. Tak lama kemudian akhirnya mereka tiba di pasar yang dimaksudkan oleh Rana. Mencari area untuk memarkirkan kendaraan, mereka kemudian memutuskan untuk langsung masuk ke area gedung pasar lima lantai yang berdiri di hadapan mereka. "Aku sudah hubungi teman-teman aku dan mereka sudah memberikan alamat yang spesifik. Aku juga ingat beberapa toko yang memang jual busana muslim murah-murah. Soalnya pernah mengantarkan tetangga belanja di sana." "Memangnya nggak apa-apa kamu kasih tahu pelanggan tetangga kamu sama Mbak?" Sisilia mengalihkan tatapannya pada Rana yang berdiri di sebelahnya. Sementara di sisinya yang lain berdiri David dengan jarak yang begitu dekat sehingga Sisilia diapit oleh dua orang ini. "Mbak tenang saja. Tetanggaku sudah tidak jualan lagi. Kalaupun jualan juga, beliau nggak masalah. Rezeki di tangan masing-masing dan sudah ada yang mengatur. Lagian juga, Mbak nggak jualan di area tempat tinggal aku, kok." Rana membalas dengan santai. "Ayo." Segera perempuan itu menarik tangan Sisilia melangkah masuk ke area gedung diikuti oleh David yang tentu tidak akan mau ketinggalan. Mereka bertiga berkeliling dari toko satu ke toko yang lainnya, tentunya mencari produk-produk yang sangat murah. Terutama untuk dijual kembali. Beruntungnya sekarang ini serba digital sehingga Sisilia tidak perlu repot-repot untuk membawa uang cash di dalam tasnya. Barang-barang yang dibeli oleh Sisilia tentunya akan dikirim melalui mobil pick up yang kebetulan disediakan oleh pihak pasar dan disewakan. "Nanti kalau Mbak mau buka toko besar-besaran, aku cari tahu pabrik pakaiannya." Segera setelah mereka menyelesaikan tugas belanja mereka yang membutuhkan waktu berjam-jam bahkan sampai malam, mereka kemudian berniat untuk mengisi perut di sebuah warung makan yang terletak di pinggir jalan. Ada David yang masih sedia duduk di sebelah Sisilia, dengan Rana yang duduk di hadapan mereka. "Kamu baik sekali, Ran. Mbak jadi nggak enak karena merepotkan kalian harus menemani Mbak sampai malam seperti ini," ujar Sisilia merasa sungkan. "Enggak apa-apa, Mbak. Aku senang-senang aja kalau mau bantuin Mbak," jawab David, yang diangguki oleh Rana. "Pokoknya terima kasih. Makan malam ini, Mbak yang traktir. Sekalian Mbak juga mau beli makan malam untuk Bagas. Tuh bocah minta upah jagain motor sama rumah buat beli makanan." Sisilia memang mendapatkan pesan dari Bagaskara tadi, meminta untuk dibelikan oleh-oleh atau makanan untuk mengganjal perut. "Ngelunjak juga si Bagas ini. Tapi, Mbak tetap belikan dia makanan." Rana menggelengkan kepalanya. "Mbak udah anggap dia seperti adik sendiri. Kadang walaupun dia jengkelin, kalau kita minta tolong, dia nggak pernah bilang nanti. Langsung ditolong," ujar Sisilia. David mencatat dengan cermat apa yang dikatakan oleh Sisilia dan tentunya akan ia praktikkan nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD