Bab 8. Kasih Makan

1011 Words
Sisilia membawa beberapa cup minuman dan juga makanan yang sengaja ia pesan secara delivery menuju perpustakaan yang letaknya berada di gedung lain. Perempuan cantik itu dengan santai menyusuri koridor, masih mengenakan sepatu heels dan juga celana panjang. Langkah kakinya terlihat sangat santai dan anggun, melewati beberapa murid yang saat ini sedang menunduk membaca buku di koridor. Sisilia beberapa kali menganggukan kepalanya ketika berpapasan dengan mereka. Sampai kemudian ia menemukan sebuah pintu perpustakaan yang memang menjadi tujuannya. Sisilia menatap dua daun pintu dengan cat berwarna hitam yang sudah tertutup. Ekspresi jahat ditampilkan oleh wajahnya, kemudian perlahan ia mendorong pintu tersebut dengan satu tangannya. Pintu perpustakaan terbuka, cahaya dari luar masuk menyilaukan di dalam ruangan yang memang ukurannya sangat luas dengan jajaran rak-rak buku yang tersusun rapi. Di sudut, dapat dilihat seorang wanita dengan kacamata yang dikenakannya, langsung mendongak ketika merasakan kehadirannya. "Bu Sisil, mau kasih jatah ke anak-anak?" Perempuan itu bernama Dona, penjaga perpustakaan yang langsung tersenyum menyapanya. "Iya, Bu Dona. Kasih jatah buat anak-anak, kasihan mereka kelelahan." Bu Dona tersenyum. "Anak-anak di bagian belakang, mereka lagi merapikan buku-buku. Kalau bagian depan sudah selesai semua," balas Bu Dona. Sisilia tersenyum kemudian membagikan 1 cup minuman dan juga satu kotak makanan untuk Bu Dona yang langsung mengucapkan terima kasih. Baru kemudian Sisilia melangkah ke arah belakang, melewati jajaran rak-rak buku yang sudah tersusun dengan sangat rapi. Ada beberapa anak yang sedang membaca buku maupun mengerjakan tugas di meja. Melihat itu, Sisilia tersenyum. Ingat sekali zaman SMA, dirinya memang anak yang sangat rajin dalam hal belajar. Hanya saja, bergaul dengan Debora yang memang sudah salah arah, membuatnya harus pintar-pintar mengatur waktu karena Debora adalah manusia paling anti dengan buku pelajaran yang menurutnya tidak terlalu penting untuk hidupnya. Padahal menurut Sisilia buku adalah gerbang pengetahuan yang sangat luas. Tidak ada suara berisik, hanya ada suara kertas yang dibolak-balikkan, meski begitu perpustakaan yang berukuran luas ini memang sangat tenang dan sunyi. "Gue capek banget. Pengen kabur, tapi nanti bu Sisil pasti datangin orang tua gue." Suara keluhan datang dari balik rak buku di mana Sisilia masih bisa mendengar suara mereka. Ini adalah anak-anak yang mendapatkan hukuman karena membolos saat upacara. Tiga di antara yang dijaring olehnya tadi pagi, masih ada beberapa lagi yang berhasil didapatkannya. "Lo takut banget sama Bu Sisil. Kalau gue nggak bakalan takut," sahut sebuah suara. Sisilia mengenali suaranya meskipun tidak melihat wujudnya secara langsung. "Hebat banget lo nggak takut sama Bu Sisil yang galak itu, Gas. Apa ilmu yang lo pakai?" Sahutan tidak percaya terdengar dari temannya, diiringi suara kekehan membuat pemuda bernama Bagas itu menjawab dengan bangga. "Soalnya gue ganteng, makanya Bu Sisil nggak tega mau menghukum gue yang berat-berat." "Pe-de banget lo jadi manusia. Gue yang ganteng aja nggak pernah mengakui kalau gue ganteng." Tawa kecil terdengar dari beberapa anak laki-laki yang memang sedang beristirahat setelah mereka bekerja merapikan perpustakaan yang memang berantakan. Sisilia menggelengkan kepalanya mendengar Bagaskara yang begitu percaya diri dengan ketampanannya. Tidak diragukan lagi memang anak itu memiliki wajah yang tampan. Paling langganan mendapatkan hukuman darinya, yang sayangnya tidak dibeberkan olehnya. "Ehem!" Sisilia berdeham kecil, menarik atensi 6 pasang mata yang langsung berdiri dari tempat mereka saat melihat keberadaan wanita cantik satu ini. "Eh, Bu Sisil yang cantik jelita, kok tadi nggak ada suaranya mau datang? Tahu begitu kami bakalan menyambut Bu Sisil dengan meriah," kata Bagaskara, sambil terkekeh. Pemuda itu berusaha untuk menutupi kegugupannya, membuat teman-temannya memutar bola mata mereka. "Ngomongin ibu di belakang, nggak takut kualat kalian?" "Bukan aku yang ngomong, Bu. Tapi, mereka yang ngomongin ibu. Aku mana berani ngomongin ibu yang cantik ini," sahut Bagaskara cepat. Hal ini spontan membuat teman-temannya langsung menatapnya dengan tatapan tak terima, meski begitu mereka terlalu malas berdebat dengan Bagaskara yang memang tidak punya malu sama sekali. Melihat mereka satu persatu, Sisilia menggelengkan kepalanya. Bagaskara padahal tadi pagi sudah ia lihat berangkat sekolah bersama temannya dan nyaris hampir bersamaan dengannya. Namun, sesampainya di sekolah, ia justru tidak melihat keberadaan batang hidung pemuda ini. Beruntungnya ada murid yang memberitahunya jika Bagaskara bersembunyi di belakang gedung kesenian yang membuatnya langsung bergegas menghampiri Bagaskara bersama dua orang temannya. "Ini minuman juga makan siang untuk kalian. Kalau pekerjaan kalian sudah rapi, langsung laporan sama Bu Dona di depan sana, biar Bu Dona bisa langsung kasih tahu ibu. Pekerjaan kalian merapikan perpustakaan selesai, hukuman kalian juga selesai." Sisilia menyodorkan dua buah plastik pada mereka yang disambut dengan antusias. "Terima kasih, Bu Sisil. Kalau rajin kasih makan kayak gini, nggak apa-apa deh dihukum setiap hari juga." Salah seorang murid berbicara dengan santai, membuat Sisilia mendelik. "Enak aja dapat hukuman dikasih jatah makan sama minuman. Ini karena kalian pekerjaannya banyak, makanya Ibu kasih makanan dan minuman." Perempuan itu berucap dengan santai. "Ya sudah, kalian lanjutkan lagi pekerjaan kalian kalau udah selesai makan. Ibu mau kembali ke kantor dulu." "Makasih, Bu Sisil!" "Semoga Bu Sisil cepat ketemu jodoh." "Semoga Bu Sisil nyeberang lancar-lancar." "Semoga Bu Sisil nggak kesandung." Sisilia yang mendengar ucapan mereka satu persatu hanya bisa menggelengkan kepala sebelum akhirnya perempuan itu memutuskan untuk keluar dari perpustakaan sebelum kadar kesetresannya semakin meningkat akibat ulah anak-anak yang selalu membuat masalah setiap harinya. Sepertinya mereka jika tidak membuat masalah, tubuh mereka akan terasa sangat gatal. "Bu Sisil dari mana?" Sisilia terperanjat kaget saat masih menyusuri lorong berniat untuk pindah ke gedung depan menuju kantornya berada ketika tiba-tiba saja David membuka sebuah pintu ruangan yang diketahui merupakan ruang praktik untuk anak-anak. Entah apa yang dilakukan oleh pemuda itu di sini, Sisilia juga tidak tahu. Tersenyum manis, Sisilia kemudian menjawab, "habis dari mengantar makanan untuk anak-anak yang dapat hukuman. Kamu sendiri dari ngapain?" David menganggukkan kepalanya. "Tadi diminta tolong sama Pak Reno buat mengantarkan barang-barang praktek yang mau digunakan nanti." Mendengar penjelasan David, Sisilia menganggukkan kepalanya sambil melangkah dengan David yang melangkah di sebelahnya, dan mencoba untuk membuka pembicaraan. Sesampainya di ruang kantor, sudah ada beberapa guru yang duduk di tempat mereka, mengerjakan tugas ataupun memahami materi. Melihat kehadirannya bersama David, beberapa guru yang sudah paruh baya tersenyum, ada pula yang mengedipkan matanya membuat Sisilia mengerut dahinya merasa aneh dengan sikap mereka. Meski begitu, ia mengangkat bahunya, mengabaikan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD