Monic menatap ponselnya dengan putus asa. Respons dari orang yang diharapkan belum juga tiba. Sejak setengah jam lalu, Monic menghubungi Bang Michael untuk minta jemput. Namun, si abang nomor dua pastilah sedang deadline karena banyak tanya, banyak alasan, dan butuh banyak waktu untuk menjawab pesannya. Sementara itu, sumber kegelisahan Monic, yang membuat pantatnya nggak nyaman, tengah duduk di kubikel David, yang berada tepat di samping kubikel Monic, terpisahkan oleh jalan untuk keluar masuk. Pria itu menunduk dan menggulir ponselnya. “Belum selesai?” Pria itu mendongak tiba-tiba. Monic menggeleng. Nasib memutuskan menjadi sangat jahat kepada Monic hari ini. Sudahlah pekerjaan membludak yang membuatnya jadi penghuni terakhir ruang legal 2, ditambah pula dia ditongkrongi oleh bos yan

