“Huekk.” Kaira refleks menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan, lalu segera membalikkan badan untuk berlari menjauh begitu menangkap sosok suaminya melangkah masuk melewati pintu depan. Rasa mual yang pekat mendadak naik ke tenggorokannya, dipicu oleh aroma tubuh pria itu yang mendadak terasa begitu menyengat di indra penciumannya. “Sayang ...” teriak Azlan dengan nada putus asa. Ia menghentikan langkahnya, urung mengejar sang istri. Bahunya merosot turun saat mendengar pintu kamar mandi di bagian dalam rumah tertutup dengan cepat. Sambil mengembuskan napas panjang bercampur rasa kesal yang tertahan, Azlan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu keluarga Alzahir. Pandangan matanya tertuju pada sebuah piring kecil di atas meja konter yang masih menyisakan potongan buah dan

