BAB 54

1730 Words

Langkah kaki Azlan terdengar tergesa-gesa saat melewati koridor lantai atas. Pria itu baru saja meninggalkan ruang rapat di kantornya begitu menerima panggilan telepon dari rumah, yang hanya berisi suara tangisan histeris Kaira tanpa kejelasan mendasar. Kepanikan yang sempat mencengkeram dadanya perlahan berubah menjadi rasa lelah saat ia mendorong pintu kamar tidur utama mereka. Di atas ranjang, Kaira sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan wajah yang basah oleh air mata. “Sayang, kenapa menangis?” tanya Azlan sembari melangkah cepat mendekati ranjang, lalu ikut naik dan duduk di sisi istrinya. Kaira menoleh, menatap Azlan dengan sepasang mata yang sembap dan tatapan yang sarat akan kekesalan. “Mas kenapa pulang?” tanyanya, ketus. “Bukannya rapat di kantor jauh lebih pen

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD