Malam itu, lampu-lampu di fasad rumah mewah bergaya modern itu menyala terang, membiaskan kemewahan yang seolah tanpa batas. Azlan memarkirkan taksi tepat di depan lobi rumah tersebut. Ia turun, membukakan pintu untuk Khalisa dan Samira, lalu menuntun mereka masuk ke dalam hunian yang ia pinjam dari salah seorang rekan bisnisnya. Dalam benak Azlan, ini adalah panggung terakhir. Biarkan kedua wanita ini mencicipi puncak kemenangan semu mereka malam ini, sebelum besok ia meruntuhkan segalanya tanpa sisa. “Mas, rumah ini ... luar biasa besar,” puji Khalisa dengan mata berbinar. Ia melangkah masuk ke ruang tamu yang luasnya hampir menyamai lobi hotel berbintang. Kakinya yang beralaskan sandal rumah mahal melangkah takjub di atas lantai marmer impor. Samira pun tidak bisa menyembunyikan rasa

