Lampu koridor rumah sakit berpijar putih, kontras dengan kegelapan malam yang baru saja mereka lalui. Kaira tiba di rumah sakit dalam keadaan darurat, ketubannya telah pecah di perjalanan dan pemeriksaan kilat menunjukkan pembukaan rahimnya sudah hampir lengkap. Tubuhnya yang lelah langsung dipindahkan ke atas brankar dan didorong cepat menuju ruang persalinan. Azlan menggenggam jemari istrinya tanpa putus, ikut melangkah lebar di sisi brankar yang bergerak cepat. “Enghh ... sakit, Mas. Sakit sekali,” rintih Kaira saat gelombang kontraksi berikutnya menghantam. Wajahnya yang pucat sudah dibanjiri oleh peluh dan air mata yang terus mengalir ke pelipis. Rasa sakit fisik yang mendera perut bawahnya terasa berlipat ganda karena tekanan mental yang luar biasa. Pikirannya terus berputar pada k

