“Arghhh!” Jeritan Kaira melengking tinggi, memecah keheningan ruangan pengap itu dengan sangat memekakkan telinga. Suaranya bergetar hebat, sarat akan rasa sakit yang teramat sangat. Bagaimana tidak? Samira baru saja mengayunkan tas besar berisi benda tumpat itu dengan sekuat tenaga, menghantam tepat di permukaan perut buncit Kaira yang sudah memasuki bulan kesembilan. Benturan keras itu seketika mengirimkan gelombang rasa sakit yang luar biasa, menjalar dari pusat perutnya hingga ke seluruh persendian tubuhnya. Napas Kaira tercekat, matanya melotot lebar menahan pasokan udara yang mendadak hilang. Rasanya seperti ada sesuatu yang remuk di dalam sana, dan fokus utamanya langsung tertuju pada janin di rahimnya yang kini menegang hebat. “Lagi, Mah! Pukul lagi sampai anak di dalam kandunga

