BAB 47

1953 Words

Azlan menginjak pedal gas sedalam mungkin, membelah jalanan Jakarta yang padat tanpa memedulikan rambu lalu lintas. Klakson mobilnya berbunyi berkali-kali, disusul makian kasar yang keluar dari mulutnya setiap kali ada kendaraan lain yang menghalangi jalan. Pikirannya kacau. Satu hal yang paling ia sesali hari ini adalah keputusannya untuk pergi bekerja dan meninggalkan Kaira di rumah. Beberapa menit yang lalu, Safira meneleponnya dengan suara bergetar, mengabarkan bahwa Kaira telah menghilang dari rumah baru mereka. Begitu mobilnya berhenti di depan pagar rumah, Azlan langsung melompat keluar dan berlari masuk. Di ruang tengah, Safira tampak berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat pasi. Sekujur tubuh wanita paruh baya itu terasa dingin karena disergap rasa takut yang luar biasa. “Bi P

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD