Suara rintihan yang dibuat-buat itu bergema di ruang tamu yang luas. Khalisa mencengkeram perutnya, wajahnya dipaksakan meringis sedemikian rupa seolah-olah ia sedang menahan beban rasa sakit yang tak tertahankan. Samira dengan sigap memeluk putrinya, memberikan sandiwara perlindungan yang terlihat sangat dramatis. “Mas Azlan ... akh, sakit sekali, Mas ...” rintih Khalisa dengan napas yang memburu. Samira mendongak, matanya menatap tajam ke arah Azlan yang masih duduk dengan tenang di samping Kaira. “Azlan! Jangan sampai kamu menyesal seumur hidup! Khalisa sedang mengandung anakmu. Jika sampai terjadi apa-apa pada kandungannya, jika dia keguguran, kamulah orang pertama yang akan disalahkan atas kematian anakmu sendiri!” teriak Samira dengan suara melengking. Azlan tidak bergeming. Ia ba

