Suara isak tangis Kaira masih memenuhi ruang kabin mobil yang kedap udara. Bahunya naik turun secara tidak teratur, sementara tangannya mencengkeram kemeja Azlan dengan erat, seolah pria itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang ia miliki. Mereka kini berada di area parkir sebuah pemakaman umum yang sunyi. Langit yang mendung seolah ikut berduka, memberikan suasana mencekam sekaligus haru bagi Kaira yang baru saja dihantam kebenaran yang teramat pahit. Butuh waktu lama bagi Kaira untuk sekadar berani membuka pintu mobil. Ia takut melihat nisan itu. Ia takut menghadapi kenyataan bahwa wanita yang melahirkannya telah lama beristirahat di bawah tanah, tanpa pernah ia kenali aromanya. Terlebih lagi, fakta-fakta yang baru diungkapkan Azlan tentang masa lalu orang tuanya membuat hati Kaira se

