Suasana koridor rumah sakit terasa begitu dingin dan asing bagi Kaira. Begitu ia melihat siluet Emir—pria yang baru saja ia ketahui sebagai ayah kandungnya namun telah mengabaikannya seumur hidup—melangkah mendekat, Kaira segera memutar tumit. Ia bergegas masuk ke dalam kamar rawat inap, menutup pintu dengan napas yang memburu. Ia belum siap. Hatinya masih berupa luka terbuka yang berdarah-darah, dan kehadiran Emir hanya akan menaburkan garam di atasnya. Kaira sempat menangkap sayup-sayup kata maaf dari lisan pria itu, namun ia memilih menutup telinga rapat-rapat. Bagaimana bisa ia percaya pada kata-kata yang keluar dari bibir yang sama yang selama puluhan tahun tak pernah membela atau memujinya? Bagi Kaira, permintaan maaf haruslah lahir dari ketulusan yang murni. Namun yang ia lihat da

