Bab 5. Rasa yang sama

2009 Words
“Dokter Kiandra… ada yang nyariin.” Kiandra yang baru saja menggigit martabak manis spontan mengangkat kepala. Ia duduk santai di ruang istirahat dokter bersama beberapa rekan jaga malam lainnya. Kotak martabak di meja sudah hampir habis, lengkap dengan gelas kopi dan bungkus mie instan yang berserakan. Jam sudah lewat tengah malam. Waktu-waktu di mana rasa lelah biasanya bercampur dengan lapar kedua. “Siapa?” tanya Kiandra dengan mulut masih penuh. Perawat yang datang tadi mengangkat bahu. “Nggak tahu. Katanya sih penting mau ketemu dokter.” Kiandra mengernyit kecil. Penting? Selarut ini? Ia buru-buru mengunyah lalu mengelap mulut dengan tisu. “Jangan-jangan pasien baru tuh,” celetuk Refandi dari sofa sambil tertawa kecil. “Kalau pasien baru ya ke IGD, bukan nyari aku makan martabak,” balas Kiandra datar. “Siapa tahu fans.” Kiandra mendengus malas sebelum akhirnya berdiri. “Aku bentar.” Ia berjalan keluar ruang istirahat sambil masih membawa rasa penasaran. Lorong rumah sakit malam itu lebih tenang dibanding siang tadi. Lampu-lampu putih memantul di lantai mengilap, menciptakan suasana dingin khas rumah sakit. Begitu sampai di ruang tunggu VIP anak, langkah Kiandra melambat. Di sana berdiri dua wanita paruh baya. Salah satunya langsung ia kenali sebagai pengasuh Raka yang tadi menemani di kamar rawat. Namun wanita satunya lagi… Kiandra belum pernah melihatnya. Perempuan itu tampak anggun dengan pakaian sederhana namun rapi. Wajahnya lembut, sorot matanya hangat. Rambutnya yang mulai memutih tersanggul rapi, memberi kesan tenang dan berwibawa sekaligus. Begitu melihat Kiandra datang, wanita itu langsung tersenyum lebar. “Dokter Kiandra?” tanyanya ramah. Kiandra mendekat sambil mengangguk sopan. “Benar… saya dokter Kiandra. Ada perlu apa ya?” Di luar dugaan, wanita itu langsung meraih kedua tangan Kiandra hangat. “Saya senang sekali akhirnya bertemu denganmu.” Kiandra sedikit terkejut. “Terima kasih…” lanjut wanita itu tulus. “Karena sudah membuat cucu saya mau makan.” Kiandra berkedip kecil. Cucu? “Raka nggak berhenti cerita tentang dokter dari tadi,” tambahnya sambil tertawa kecil. Dan saat itulah Kiandra mengerti. Wanita ini… Ibunya Ardan. Neneknya Raka. “Oh…” Kiandra tersenyum tipis. “Nggak perlu sampai seperti ini, bu. Saya cuma menjalankan tugas.” “Kalau semua dokter cuma menjalankan tugas, mungkin Raka nggak akan seceria tadi.” Wanita itu menatapnya lembut. “Saya ibunya Ardan. Nama saya Ratih.” Kiandra langsung menunduk sopan sedikit. “Salam kenal, bu Ratih.” Ratih masih memegang tangan Kiandra seolah benar-benar bersyukur. “Tadi pengasuh Raka cerita banyak tentang kamu. Katanya kamu berani sekali memarahi Ardan.” Kiandra langsung salah tingkah. “Eh… saya nggak memarahi…” Ratih justru tertawa pelan. “Tidak apa-apa. Sesekali anak saya memang perlu ditegur.” Kiandra diam sejenak. Jujur saja, ia sempat membayangkan ibunya Ardan akan datang dalam keadaan marah atau tidak terima anaknya diperlakukan begitu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ratih terlihat hangat dan rendah hati. “Saya minta maaf kalau Ardan sempat bersikap kasar,” ujar Ratih lagi, kali ini nada suaranya sedikit melemah. “Dia memang… sulit.” Kiandra menggeleng cepat. “Nggak apa-apa bu. Saya ngerti kok.” “Tidak,” Ratih tersenyum pahit kecil. “Saya ibu kandungnya sendiri. Saya tahu dia lebih sulit dari yang orang lihat.” Kiandra tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di mata wanita itu. Kesedihan yang sangat dalam. “Mama.” Suara berat itu membuat Kiandra spontan menoleh. Ardan berdiri beberapa langkah dari mereka. Masih memakai kemeja kerja yang sama, hanya jasnya sudah tidak ada. Lengannya tergulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan seolah berkali-kali diusap frustrasi. Tatapan lelaki itu langsung jatuh pada tangan Kiandra yang masih dipegang ibunya. “Bukannya disuruh istirahat?” tanyanya pada Ratih. “Nggak bisa tidur.” Ratih melepaskan tangan Kiandra perlahan lalu tersenyum kecil. “Mau lihat dokter favorit cucu mama.” Kiandra langsung tersedak ludah sendiri. Dokter favorit? Sementara Ardan tampak memijat pelipis pelan. “Raka belum tidur?” tanya Ratih lagi. “Baru mau.” Jawaban Ardan singkat. “Tapi dia nanya dokter Kiandra terus ya?” goda Ratih santai. Untuk pertama kalinya sejak mengenal lelaki itu, Kiandra melihat Ardan terlihat… canggung. “Iya,” jawabnya pendek. Ratih tertawa kecil puas. “Biasanya Raka susah dekat sama orang baru.” Tatapan wanita itu kembali pada Kiandra. “Tapi sama kamu cepat sekali nyaman.” Kiandra tersenyum kecil sambil merapikan rambutnya gugup. “Mungkin karena Raka anak baik.” “Karena kamu juga baik.” Kalimat itu keluar begitu tulus sampai Kiandra sedikit terdiam. Sudah lama rasanya tidak ada orang yang mengatakan hal sesederhana itu padanya. Ardan berdiri diam memperhatikan. Entah kenapa, melihat ibunya berbicara hangat dengan Kiandra terasa… aneh tapi nyaman. “Mama jangan ganggu dokter malam-malam,” katanya akhirnya. Ratih langsung melotot kecil. “Mama nggak ganggu. Mama cuma berterima kasih.” “Saya nggak merasa terganggu kok, bu,” sela Kiandra cepat. Ratih tersenyum puas seolah mendapat dukungan. “Nah dengar tuh.” Ardan menghela napas pasrah. Kiandra menahan senyum kecil. Sulit dipercaya lelaki setegas dan sedingin Ardan ternyata bisa kalah hanya oleh satu tatapan ibunya. “Dokter Kiandra sudah makan?” tanya Ratih tiba-tiba. “Baru tadi, bu.” “Makan apa?” “Martabak.” Ratih langsung tertawa kecil. “Masih muda ya, makannya manis-manis tengah malam.” Kiandra ikut tertawa pelan. Percakapan ringan itu terasa begitu hangat sampai Kiandra sedikit lupa bahwa ia sedang berbicara dengan keluarga pemilik rumah sakit. “Kalau ada waktu nanti mainlah ke rumah,” ujar Ratih tiba-tiba. Kiandra langsung terkejut. “Eh?” “Raka pasti senang.” “Bu…” Ardan langsung memotong dengan nada pasrah. “Apa? Mama cuma ngajak.” Kiandra jadi salah tingkah sendiri. “Tidak perlu repot bu…” “Bukan repot.” Ratih tersenyum lembut sekali. “Saya cuma sudah lama nggak lihat cucu saya seceria tadi.” Kalimat itu membuat Kiandra perlahan memahami sesuatu. Mungkin selama ini bukan hanya Raka yang kesepian. Keluarga itu juga sama. Dan di tengah semua kecanggungan itu, Kiandra tanpa sadar melirik Ardan sebentar. Tatapan lelaki itu ternyata sudah lebih dulu tertuju padanya. Tidak setajam biasanya. Tidak sedingin sebelumnya. Namun justru itu yang membuat Kiandra cepat-cepat membuang pandangannya lebih dulu. Kiandra kembali ke ruang istirahat dokter dengan langkah pelan sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Waktu menunjukkan hampir pukul satu dini hari, namun ruang istirahat masih cukup ramai oleh dokter dan perawat yang bergantian mengambil waktu makan atau sekadar duduk melepas lelah. Begitu pintu dibuka, aroma martabak manis yang tadi nyaris habis masih tercium samar. “Wihhh… balik juga akhirnya.” Rita, salah satu perawat paling cerewet di lantai anak, langsung mendekat dengan ekspresi penuh rasa penasaran. “Mamahnya pak Ardan ya?” tanyanya antusias. Kiandra langsung duduk di sofa sambil mengambil minum. “Iya.” “Nagapain?” “Cuma ngobrol.” Rita menyipitkan mata jahil. “Jangan-jangan mau minta dokter Kiandra jadi menantunya.” Kiandra langsung menoleh cepat. “Apa ih… ngaco.” Ia tertawa kecil tak percaya. “Siapa juga yang mau sama lelaki kasar kayak gitu.” Beberapa dokter muda lain yang mendengar langsung ikut tertawa kecil. “Jangankan sama pasangan,” lanjut Kiandra sambil membuka botol air mineralnya, “sama anaknya aja kasar banget.” Rita yang tadi masih senyum jahil perlahan menghela napas kecil. “Tapi pak Ardan dulu nggak gitu.” Kiandra berhenti minum. “Kamu tahu dari mana?” “Dari gosip yang beredar sih…” Rita terkekeh kecil sambil duduk di samping Kiandra. “Katanya dulu dia baik banget. Ramah, penyayang, terus sabar.” Kiandra mengangkat alis tipis. Sulit dibayangkan. Lelaki yang dikenalnya sekarang lebih mirip gunung es berjalan dibanding sosok hangat dan ramah. “Terus kenapa berubah?” tanyanya tanpa sadar terlalu cepat. Rita langsung menyeringai lebar. “Nahhh… dokter ternyata penasaran juga.” “Aku cuma nanya.” “Iya iya.” Rita mendekat sedikit seperti mau membahas rahasia besar. “Katanya sih setelah cerai dan jadi single dad, dia berubah total.” Kiandra diam mendengarkan. Entah kenapa ia jadi benar-benar ingin tahu sekarang. “Maksudnya berubah gimana?” “Ya lebih dingin, emosian, jarang senyum. Bahkan staf lama di sini bilang dulu pak Ardan tuh tipe suami idaman.” Kiandra spontan mendengus kecil. “Yang bentak anak tiap lima menit itu?” “Makanya aneh kan?” Kiandra tidak menjawab. Pikirannya malah kembali ke wajah Ardan tadi malam. Lelaki itu memang terlihat gampang marah… tapi juga terlihat lelah. Sangat lelah. “Memangnya cerai karena apa?” tanya Kiandra lagi. “Meninggal?” “Nggak.” Rita menggeleng cepat. “Cerai biasa kok. Mantan istrinya masih ada.” “Oh…” Kiandra berusaha terdengar biasa saja meski rasa penasarannya semakin besar. “Siapa?” “Katanya salah satu artis negeri ini.” Rita berpikir sebentar. “Namanya kalau nggak salah… Lusi.” “Lusi?” Kiandra mengernyit bingung. “Siapa itu?” Rita langsung melotot tak percaya. “Dokter Kiandra nggak tahu?” “Nggak.” “Ya ampun…” Rita tertawa sampai menepuk paha sendiri. “Ternyata dokter selain pintar juga kudet banget ya.” Beberapa orang di ruangan ikut tertawa kecil. Kiandra mendengus malas. “Aku nggak ngikutin dunia artis.” “Padahal dulu heboh banget loh perceraian mereka.” Kiandra mulai tertarik tanpa sadar. “Memangnya kenapa?” “Karena istrinya selingkuh katanya.” Kiandra sedikit terdiam. “Selingkuh?” Rita mengangguk mantap. “Makanya dulu sempat viral. Pak Ardan tuh yang urus anak sendirian setelah cerai.” “Lusi ninggalin anaknya?” “Katanya sih gitu.” Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi bagi Kiandra. Entah kenapa, informasi itu membuat cara pandangnya pada Ardan sedikit berubah. Bukan membenarkan sikap kasarnya. Tapi… Sedikit membuatnya mengerti. “Mungkin itu sebabnya dia jadi kayak sekarang,” gumam salah satu dokter lain yang ikut mendengar. “Kalau aku sih pasti hancur.” Rita mengangguk setuju. “Bayangin aja. Istrinya artis terkenal, cantik, terus tiba-tiba ketahuan punya laki lain.” Kiandra memegang botol minumnya erat. Tanpa sadar, ia jadi membandingkan rasa sakit itu dengan miliknya sendiri. Bedanya, Ardan ditinggalkan. Sedangkan ia yang memilih pergi. “Kasihan sih sebenarnya,” lanjut Rita pelan. “Apalagi Raka masih kecil waktu itu.” Kiandra menunduk sebentar. Mendadak ia teringat bagaimana Raka tadi bilang, “ayah marah terus.” Mungkin bukan hanya Raka yang terluka. Ardan juga sama. Hanya saja lelaki itu melampiaskannya dengan cara yang salah. “Eh tapi serius deh,” Rita kembali menyenggol lengan Kiandra pelan, “aku belum pernah lihat pak Ardan mau banyak ngomong sama dokter lain.” Kiandra langsung mengangkat wajah. “Biasa aja kali.” “Nggak biasa.” Rita menggeleng keras. “Dia biasanya dingin banget. Bahkan sama direksi aja seperlunya doang.” “Mungkin karena aku sering marahin dia.” “Nah itu!” Rita malah makin semangat. “Mungkin dia suka.” Kiandra spontan melempar tisu ke wajah perawat itu. “Ngawur.” Rita tertawa puas. “Eh tapi dokter cocok loh sama dia.” “Rita.” “Iya iya aku diem.” Namun senyum jahil di wajah perempuan itu sama sekali tidak hilang. Kiandra menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuh ke sofa. Pikirannya kembali penuh. Tentang Ardan. Tentang perceraiannya. Tentang anak kecil bernama Raka yang tumbuh tanpa ibu dan anehnya untuk pertama kali, Kiandra mulai melihat lelaki itu bukan cuma sebagai pria kasar yang hobi marah. Tapi seseorang yang mungkin terlalu lama menanggung luka sendirian. “Dok…” Rita memanggil lagi pelan. “Apa?” “Kalau dipikir-pikir, dokter sama pak Ardan mirip ya.” Kiandra langsung mengernyit. “Mirip apanya?” “Sama-sama keliatan kuat padahal kayaknya nyimpen banyak masalah.” Kalimat itu membuat Kiandra langsung terdiam. Untuk sesaat ia bahkan tidak tahu harus membalas apa, arena sayangnya Rita tidak sepenuhnya salah. Kiandra buru-buru berdiri sambil meraih map pasien di meja. “Aku mau cek pasien dulu.” “Loh kabur.” “Aku kerja.” Rita terkekeh puas melihat pipi Kiandra sedikit memerah. Sementara Kiandra berjalan cepat keluar ruang istirahat, berharap udara dingin lorong rumah sakit bisa mengusir rasa aneh yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Namun semakin ia mencoba mengabaikannya… Semakin jelas wajah Ardan muncul di kepalanya dan itu cukup membuat Kiandra kesal pada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD