Bab 4. Jejak tertinggal

1968 Words
Terkadang Kiandra membenci kebiasaannya sendiri. Tubuhnya lelah, sangat lelah bahkan. Punggungnya pegal setelah berjaga semalaman, matanya terasa berat, dan kepalanya sedikit berdenyut karena kurang tidur. Semua tanda itu seharusnya cukup membuatnya terlelap begitu kepala menyentuh bantal. Namun kenyataannya tidak pernah semudah itu. Kiandra memang pulang ke apartemen untuk tidur, tapi sering kali yang benar-benar beristirahat hanyalah tubuhnya. Pikirannya tetap terjaga ke mana-mana. Lampu kamar sudah dimatikan sejak tadi. Gorden tertutup rapat membuat ruangan terasa redup meski matahari siang mulai naik. Pendingin ruangan menyala pelan, menciptakan suasana nyaman yang biasanya cukup ampuh membuatnya tertidur. Tapi tidak hari ini. Kiandra justru berbaring telentang sambil memegang ponselnya di atas wajah. Jemarinya bergerak otomatis membuka media sosial tanpa tujuan jelas. Scrolling. Satu postingan. Lewat. Postingan lain. Lewat lagi. Sampai akhirnya jemarinya berhenti. Napasnya ikut tertahan sesaat. Nama itu muncul lagi. Andra. Kiandra menatap layar ponselnya diam-diam. Sudah hampir satu bulan sejak pernikahan itu berlangsung. Ia pikir semuanya akan terasa biasa saja setelah hari itu berlalu. Toh ia sendiri yang memilih pergi. Ia juga yang menolak menikah waktu itu. Harusnya ia baik-baik saja. Harusnya. Namun ternyata beberapa luka tidak benar-benar sembuh hanya karena waktu berjalan. Foto yang diunggah Andra sederhana, hanya tangan seorang wanita yang memegang test pack dengan dua garis merah jelas terlihat. Di sampingnya ada tangan Andra menggenggam erat jemari istrinya. Caption-nya singkat. “Finally.” Satu kata. Tapi cukup membuat d**a Kiandra terasa diremas pelan. Komentarnya sudah ribuan. Ucapan selamat memenuhi layar. “ akhirnya!” “Congrats calon papa muda!” “Pasti ganteng atau cantik banget nanti.” “Bahagia selalu buat keluarga kecilnya.” Kiandra membaca semuanya dalam diam. Lalu tanpa sadar matanya mulai terasa panas. Ia buru-buru mematikan layar ponsel dan meletakkannya di samping bantal. Langit-langit kamar menjadi satu-satunya yang ia lihat sekarang. Hening. Terlalu hening sampai suara detak jantungnya sendiri terdengar jelas. Kiandra menghembuskan nafas perlahan. “Kan bagus…” gumamnya lirih pada diri sendiri. “Akhirnya dia dapet apa yang dia mau.” Bukankah itu yang selama ini Andra inginkan? Keluarga. Anak. Rumah yang hangat. Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah bisa Kiandra janjikan. Ia memejamkan mata erat, namun justru bayangan masa lalu mulai bermunculan satu per satu. — “Aku pengen punya anak perempuan.” Andra pernah mengatakan itu sambil menyetir malam-malam sepulang mereka makan bersama. Kiandra waktu itu hanya tertawa kecil. “Kenapa perempuan?” “Biar mirip kamu.” “Kalau mirip kamu gimana?” “Boleh juga.” Andra tersenyum lebar. “Yang penting jangan keras kepala kayak ibunya.” Kiandra mendengus sambil memukul lengan lelaki itu pelan. “Belum apa-apa udah ngomongin anak.” “Ya emang maunya sama kamu.” Kalimat itu dulu terdengar begitu indah. Begitu tulus dan Kiandra percaya sepenuhnya waktu itu. — Perempuan itu membuka mata lagi cepat. Dadanya semakin sesak. Ia menarik selimut sampai menutupi separuh wajahnya, seolah itu bisa melindunginya dari kenangan yang tiba-tiba menyerang tanpa izin. Andra akan jadi ayah dan ia yakin lelaki itu akan jadi ayah yang baik. Pikiran itu membuat bibir Kiandra tersenyum tipis… sekaligus nyeri. Karena jauh di dalam hatinya, pernah ada masa di mana ia membayangkan dirinya yang berada di posisi wanita itu. Dirinya yang menunjukkan test pack dengan tangan gemetar. Dirinya yang mendengar Andra tertawa bahagia. Dirinya yang dipeluk erat sambil menangis senang. Tapi hidup tidak memilih jalan itu untuk mereka. Atau lebih tepatnya Kiandra yang tidak membiarkan jalan itu terjadi. Ponselnya kembali ia ambil pelan, postingan itu masih terbuka. Jemarinya bergerak tanpa sadar menyentuh wajah Andra di layar. Lalu cepat-cepat ia menarik tangannya sendiri seolah tersadar itu tindakan bodoh. “Apa sih, Kiandra…” bisiknya pelan sambil tertawa pahit. Ia ingin berhenti peduli. Sungguh. Tapi ternyata tidak mudah melihat seseorang yang pernah menjadi seluruh duniamu kini membangun dunia baru tanpa dirimu di dalamnya. Air mata mulai jatuh satu per satu tanpa suara. Kiandra buru-buru mengusapnya kasar. Ia membenci dirinya sendiri saat seperti ini. Lemah. Rapuh. Padahal selama ini semua orang mengenalnya sebagai dokter Kiandra yang tenang, mandiri, dan sulit ditebak. Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam tertentu, ia masih bisa hancur hanya karena satu postingan sederhana. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pesan masuk dari ayahnya. Adrian. “Udah makan?” Kiandra langsung menarik napas panjang sebelum membalas. “Udah.” “Jangan lupa tidur.” “Hmm.” Balasan dari ayahnya datang lagi cepat. “Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini.” Kiandra menatap pesan itu cukup lama. Ayahnya selalu tahu. Meski mereka jarang bicara panjang, Adrian selalu bisa merasakan saat putrinya sedang tidak baik-baik saja. Namun seperti biasa, Kiandra memilih diam. “Cuma kurang tidur.” Kali ini Adrian tidak langsung membalas dan Kiandra bersyukur untuk itu. Karena kalau ayahnya terus bertanya, mungkin pertahanannya akan runtuh hari ini. Ia kembali mematikan layar ponselnya. Ruangan kembali gelap, sunyi, namun pikirannya tetap ramai. Tentang Andra. Tentang bayi yang akan segera lahir. Tentang kehidupan yang seharusnya bisa ia miliki… kalau saja keadaan berbeda. Tangannya perlahan bergerak ke perutnya sendiri. Kosong. Dan anehnya, itu membuat air matanya jatuh lagi. Kiandra menggigit bibir kuat-kuat. Ia tahu keputusan meninggalkan Andra dulu adalah hal yang benar. Ia tahu itu. Sangat tahu. Namun tidak ada yang pernah bilang bahwa keputusan benar tidak akan menyakitkan. Karena kenyataannya, Ia masih mencintai lelaki itu. Mungkin terlalu dalam, sampai bahkan setelah semua berakhir, sebagian hatinya tetap tertinggal di sana. Di masa lalu. Di seseorang bernama Andra. Dan di mimpi sederhana tentang keluarga yang tidak pernah sempat mereka wujudkan bersama. Alarm berbunyi tepat pukul enam sore. Suara nyaring itu memaksa Kiandra membuka mata dengan malas. Kepalanya terasa berat, tubuhnya justru semakin lelah dibanding sebelum tidur. Ia melirik langit-langit kamar apartemennya beberapa detik sambil menghela napas panjang. Tidurnya bahkan tidak sampai benar-benar nyenyak. Mungkin hanya satu jam penuh ia benar-benar terlelap. Sisanya? Hanya memejamkan mata sambil membiarkan pikirannya mengulang kenangan lama yang seharusnya sudah selesai. Tentang Andra. Tentang postingan test pack itu. Tentang hidup yang terus berjalan tanpa menunggunya sembuh lebih dulu. Kiandra duduk perlahan di tepi tempat tidur. Rambutnya berantakan, matanya sembab samar karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia tetap memaksa dirinya bangkit. Hidup tidak berhenti hanya karena hatinya sedang berisik. Setelah mandi cepat dan mengganti pakaian, Kiandra kembali ke rumah sakit dengan secangkir kopi hangat di tangan. Aroma kopi sedikit membantu menahan kantuk yang terus menyerang. Baru masuk ke area koridor dokter, seorang perawat langsung menyapanya. “Dok…” Kiandra menoleh sambil tetap berjalan santai. “Haiii…” “Dok… Raka nggak mau makan tuh. Kebetulan dokter datang.” Langkah Kiandra melambat sedikit. Nama itu lagi. Ia menyesap kopinya sebentar sebelum bertanya datar, “Kenapa?” “Perawat udah coba bujuk, tapi Raka tetap nangis.” Kiandra mengembuskan napas panjang. Bukan karena ia tidak peduli pada Raka. Justru sebaliknya. Anak itu terlalu mudah membuatnya iba. Masalahnya adalah ayahnya. Setelah tahu siapa Ardan sebenarnya, Kiandra jadi sedikit enggan bertemu lelaki itu lagi. Bukan takut—lebih tepatnya malas berurusan dengan pria keras kepala yang hobi marah-marah itu. Namun tetap saja… Raka pasiennya. “Baiklah…” gumamnya akhirnya. Ia membuang gelas kopi ke tempat sampah lalu berjalan menuju ruang rawat anak VIP. Lorong rumah sakit malam itu cukup ramai. Suara roda troli, langkah kaki tenaga medis, dan bunyi monitor pasien bercampur menjadi rutinitas yang sudah terlalu akrab bagi Kiandra. Namun semakin dekat ke kamar Raka, langkahnya perlahan melambat. Karena lagi-lagi… Ia mendengar suara Ardan. “Jangan dibela!!” Suara lelaki itu menggema sampai keluar kamar. “Kalau sudah berani melawan artinya siap dihukum!” Nada bicaranya keras, penuh tekanan dan emosi. Kiandra spontan mengernyit. Jujur saja, ia benar-benar bingung dengan cara Ardan memperlakukan anaknya sendiri. Kenapa harus selalu marah? Kenapa harus selalu membentak? Apa lelaki itu tidak sadar kalau Raka masih terlalu kecil untuk memahami semua tuntutan itu? Kiandra mempercepat langkah lalu membuka pintu kamar tanpa mengetuk lagi. Pemandangan di dalam langsung membuat emosinya naik. Raka berdiri di atas ranjang sambil menangis ketakutan. Wajah kecilnya basah oleh air mata, tubuhnya gemetar. Di lantai dekat ranjang terlihat pecahan gelas plastik dan bubur yang tumpah berantakan. Sementara Ardan berdiri beberapa langkah di depan anak itu dengan wajah dingin dan rahang mengeras. “Bagus!” bentaknya lagi. “Sekarang nangis! Kerjaannya cuma nangis!” “Pak.” Suara Kiandra langsung memotong suasana. Ardan menoleh cepat. Tatapan tajam lelaki itu langsung bertemu dengan mata Kiandra yang sama dinginnya sekarang. “Dokter Kiandra,” gumam wanita paruh baya yang menjaga Raka dengan wajah lega. Kiandra melangkah masuk tanpa melepas pandangannya dari Ardan. “Ada apa lagi ini?” “Dia sengaja buang makanannya,” jawab Ardan singkat. “Dan dia lempar gelas.” “Aku nggak sengaja…” isak Raka lirih. “Diam!” Tubuh kecil itu langsung tersentak takut. Dan itu cukup membuat kesabaran Kiandra habis. “Pak Ardan,” ucapnya tegas, “tolong jangan bentak anak di depan saya.” Ardan tampak menahan emosi. “Dokter nggak tahu apa yang terjadi.” “Kalau begitu jelaskan tanpa teriak.” Suasana kembali hening. Perawat yang tadi ikut masuk bahkan tidak berani bergerak sedikit pun. Ardan mengusap wajahnya kasar lalu menunjuk Raka. “Dia nolak makan dari tadi. Begitu saya paksa sedikit, dia malah lempar semuanya.” “Karena dia takut.” “Dia terlalu manja.” Kiandra tertawa kecil saking kesalnya. “Pak… dia sakit.” “Dan saya capek.” Kalimat itu keluar begitu cepat, begitu mentah, sampai membuat Kiandra sedikit terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat kelelahan di wajah Ardan. Bukan sekadar marah. Tapi lelah. Sangat lelah. Dasi lelaki itu sudah longgar, matanya tampak merah seperti kurang tidur. Bahkan jas mahal yang ia pakai mulai kusut. Namun tetap saja… Rasa lelah bukan alasan untuk melukai anak. “Capek jadi ayah bukan berarti bapak boleh melampiaskan emosi ke anak,” kata Kiandra pelan tapi menusuk. Rahang Ardan kembali mengeras. “Dokter pikir jadi orang tua tunggal itu gampang?” “Saya nggak bilang gampang.” “Lalu kenapa dokter terus menghakimi saya?” Kiandra terdiam beberapa detik. Karena anehnya, pertanyaan itu terasa seperti tamparan juga untuk dirinya sendiri. Apa ia terlalu cepat menilai? Namun saat matanya kembali melihat Raka yang ketakutan sambil memeluk lutut kecilnya di atas ranjang, hati Kiandra langsung kembali melunak. Ia mengabaikan Ardan dan mendekati anak itu. “Hai…” sapanya lembut. Raka langsung menangis lagi begitu Kiandra mendekat. “Dokter…” Kiandra naik ke sisi ranjang lalu memeluk pelan tubuh kecil itu. “Nggak apa-apa…” Tubuh Raka gemetar di pelukannya. Dan entah kenapa, itu membuat hati Kiandra terasa nyeri. “Takut…” bisik Raka lirih. Kiandra mengusap punggungnya perlahan. “Nggak ada yang marahin lagi sekarang.” Ardan yang mendengar kalimat itu langsung menatap Kiandra tajam. Namun perempuan itu tidak peduli. Ia justru mengambil tisu lalu membersihkan air mata di wajah Raka dengan sangat hati-hati. “Nah…” katanya lembut, “sekarang dokter mau tahu. Kenapa makanannya dilempar?” Raka terisak kecil. “Aku nggak sengaja…” “Terus?” “Ayah marah…” Kiandra menghela napas pelan. Tepat seperti dugaannya. Anak kecil seusia Raka sering kali lebih takut pada reaksi orang dewasa dibanding kesalahannya sendiri. “Kalau nggak sengaja ya bilang,” katanya lembut. “Tapi ayah tetep marah…” Ruangan kembali sunyi. Kalimat polos itu terasa menampar siapa saja yang mendengarnya. Ardan memalingkan wajah sebentar. Dan untuk pertama kalinya, Kiandra melihat lelaki itu seperti kehilangan jawaban. “Raka,” panggil Kiandra pelan sambil tersenyum kecil, “dokter lapar nih. Temenin makan yuk?” Anak itu menatapnya ragu. “Bareng?” “Iya. Tapi dokter nggak suka makan sendirian.” Raka akhirnya mengangguk kecil. Kiandra tersenyum lega lalu menoleh pada perawat. “Tolong ganti makanannya ya.” Perawat itu langsung mengangguk cepat dan keluar kamar. Sementara Ardan masih berdiri diam di tempatnya. Tatapannya tertuju pada Kiandra. Perempuan itu terlihat lelah, jelas sekali kurang tidur, tapi tetap sabar menghadapi anak yang bahkan bukan keluarganya sendiri. Dan entah kenapa… Pemandangan itu membuat sesuatu dalam d**a Ardan terasa aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD