Sudah ada dua tas berukuran sedang di atas lantai dan Wening sudah bersiap. Terdengar suara ketukan pintu kamarnya dari luar, diikuti suara yang Wening kenal. “Ning.” Wening buru-buru membuka pintu kamarnya. “Pak?” Pram menyerahkan sebuah kotak ponsel ke hadapan Wening. “Ini, buat kamu.” Wening terkesiap. “Pak, ini … hape baru?” “Untuk kamu, biar kita lebih leluasa saling kontak, dan … saya bisa lihat wajah kamu lebih jelas. Hm?” Wening menyadari ponselnya yang sudah menemaninya bertahun-tahun, dan merek yang tidak terlalu bagus, juga lensa kamera yang tidak terlalu jernih. Dia menerima pemberian Pram. “Ini juga, buat jajan.” “Pak, ini berlebihan.” Wening segan menerima amplop tebal. “Ambillah. Saya menunggumu.” Wening juga mengambil amplop coklat berisi uang dari tangan Pram, m

