Wening seperti tersihir dengan bujuk rayu Pram, tatapan dan sikap pria itu membuai perasaannya. Pram memang pria yang sangat pandai, hingga Wening mengangguk lemah. Pram tanpa ragu menarik tangan Wening, mengajaknya masuk ke dalam kamar. Keduanya sudah berada di dalam kamar, saling tatap, dan berpelukan erat. Pram dengan pelan mendekatkan wajahnya ke wajah Wening, lalu mencium pipinya. Wening memejamkan mata, mengusir keraguan, membiarkan Pram memagut bibirnya. Dia sempat menggeleng dan mendorong d**a Pram, tapi kemudian melemah karena Pram membujuknya dengan suara pelan dan rendahnya. Pram memeluk Wening, mengangkatnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menindih dan memeluknya. Dia lanjut melumat bibir Wening dengan sangat lembut. “Saya menyukaimu, Wening. Kamu perempuan

