Wening tahu Miranda kecewa karena tidak melihat maminya saat pulang ke rumah. Dia pun membujuk Miranda untuk tidak sedih dan tetap mengerjakan tugas dari sekolah. Sore setelah mandi, Wening mengajar Miranda dan dalam waktu singkat tugas sekolah pun sudah dikerjakan Miranda dengan baik. Miranda adalah anak yang ceria, dia berceloteh riang mengenai pengalamannya di sekolah, bahwa dia ditunjuk mewakili kelasnya untuk bergabung di paduan suara sekolah. Dengan semangat dia menyanyikan lagu heal the world, dan Wening yang membenarkan pengucapannya juga memperbaiki nada lagu yang terkadang salah saat dinyanyikan Miranda.
“Harus ada sayurnya, Miranda. Sedikit juga nggak apa-apa, ini ada brokoli kukus.” Wening meletakkan satu potong brokoli kukus di piring Miranda. Sudah ada ayam katsu dan kentang goreng, juga saus barbeque.
Wening mengolesi brokoli rebus dengan saus, menyuapi ke mulut Miranda.
“Hm, enak," decak Miranda. "Mau lagi, Miss.”
Wening bersorak gembira, senang Miranda mau makan sayur.
Makan malam yang membahagiakan saat itu, dan Wening yang seakan tidak jenuh membujuk dan berbincang dengan Miranda, tidak ingin anak itu memikirkan maminya yang tidak mampu memenuhi janji pulang malam ini.
Wening tidak menyadari, Pram mengamatinya dari luar dapur.
***
Wening baru saja selesai membersihkan wajah dan siap-siap tidur.
Terdengar bunyi pintu kamar diketuk dari luar.
“Pak Pram?” Wening terkejut. Ternyata Pram yang mengetuk pintu kamarnya.
Pram tersenyum ke arah Wening seraya menyerahkan gelas berisi s**u hangat. “Ada madu manukanya, kamu pasti suka dan tidurmu malam ini akan lebih nyenyak.”
Wening seketika merasa kurang nyaman, melihat ke belakang Pram.
Pram mendengus, “Nggak ada siapa-siapa.”
“Maaf, Pak.” Wening menutup pintu kamarnya, tidak ingin ada masalah.
Wening masih berdiri di depan pintu, sambil mengatur deru napasnya yang memburu, dia yang ragu-ragu. Entah kenapa dia merasa sikapnya berlebihan, dia membuka pintu kamarnya.
“Ning,” panggil Pram, masih ada gelas s**u di tangannya.
Mata Wening tertuju ke gelas.
Pram menyerahkan gelas itu ke Wening dan Wening mengambilnya.
Wening lalu ke luar kamar, menutup pintu kamar dan mengikuti langkah Pram menuju dapur. Dia yang tahu Pram yang masih ingin bicara dengannya.
Wening sudah duduk di kursi makan, menikmati air s**u hangat madu. Dia berdecak nikmat, s**u buatan Pram ternyata memang sangat lezat. Perasannya pun berubah lebih nyaman.
“Suka?” tanya Pram yang juga sudah menghabiskan minumannya.
Wening mengangguk. “Iya, Pak. s**u hangat Bapak lebih enak daripada buatan saya sendiri.”
“Masa sih?”
“Iya.” Wening mengangguk, perutnya terisi penuh dan merasa nyaman, meskipun awalnya dia tidak ingin minum s**u.
Pram memperbaiki posisi duduknya. “Kamu dengar tadi pagi, ‘kan? Donna yang keras kepala. Dia egois.”
“Menurut saya beralasan, bu Donna masih tidak terima kejadian itu, dan saya mengerti.”
“Ya, tapi masih bisa dibicarakan, dia tidak perlu terus-terusan memikirkan kejadian itu, lalu berimbas ke hubungan pernikahan, dan Miranda yang jadi korban. Lagi pula saya tidak bertemu Brenda lagi setelah itu, saya benar-benar minta maaf.”
Pram memendam kecewa.
“Sudah lama bu Donna mendiamkan Bapak?” tanya Wening hati-hati.
“Sejak kejadian itu, satu bulan kemudian dia sudah menginginkan perceraian, lalu kami saling diam hingga sekarang. Cerai itu berat, Ning.”
“Ya, saya tahu.” Wening mengingat proses perceraiannya yang lama, hingga pada akhirnya dia mendapatkan akta cerai, dan momen itu justru melegakan perasaan.
“Dia … maju mundur sebenarnya, tapi sepertinya semakin ke sini keinginan bercerai semakin kuat,” ujar Pram kemudian.
Wening mengerutkan bibirnya, lalu berujar, “Tapi kita juga nggak bisa memaksakan diri, Pak.”
Pram menghela napas panjang. “Ya, kamu benar. Saya sekarang memang sedang meyakinkan diri untuk lebih lepas, seharusnya saya tidak menahannya.”
“Iya, Pak.” Wening memutar gelas kosongnya, menatapnya hampa, mengingat kejadian dulu saat diceraikan. Awalnya dia tidak terima, tapi akhirnya dia pun melepas suaminya.
“Mantan suamimu sudah menikah lagi, Ning?” tanya Pram pelan.
“Ya. Dia menikah dengan gadis asal Kalimantan, tempat dia mengabdi.”
“Dia—”
“Polisi.”
“Oh.”
“Saya heran dia berubah saat malam pertama. Padahal sebelumnya kami baik-baik saja dan … semuanya berjalan lancar, dari proses lamaran, di kantor kepolisian, kesehatan kami berdua aman, saya … juga sehat.”
“Sakit, Ning?”
Wening mendelik. “Hm?”
“Sakit dituduh begitu?”
“Ya, siapa yang nggak sakit hati, Pak. Bukan saya sendiri saja yang jadi cemoohan, tapi keluarga saya, terutama bapak dan ibu saya. Bahkan keluarga besar saya terang-terangan mengatakan bahwa mereka yang malu memiliki kerabat seperti saya, yang telah berbohong.”
“Kamu nggak berusaha menjelaskan?”
“Percuma.”
Pram menghela napas panjang.
“Tidak akan merubah pandangan buruk mereka terhadap saya. Untungnya bapak dan ibu saya percaya kepada saya, bahwa saya yang tidak pernah main-main dengan pria lain.”
Pram mengamati wajah Wening lamat-lamat, dari atas kepala dan seluruh wajahnya. Dia menelan ludahnya, menahan sebuah keinginan.
Wening mengambil gelasnya dan gelas Pram dari atas meja, berdiri dan melangkah menuju sink, mencuci kedua gelas.
Pram diam-diam memperhatikan sekujur tubuh Wening dari belakang, tatapannya terhenti di b****g. Dia berdiri dan melangkah mendekati Wening, mendekap kedua bahu Wening, lalu mengusap-usapnya.
Entahlah, Wening diam-diam menikmati sentuhan lembut tangan Pram di kedua bahunya.
“Pak,” desah Wening pelan.
Pram lalu memberanikan diri memeluk Wening dan mendekapnya erat, karena Wening yang diam tidak berontak.
Wening berbalik setelah selesai mencuci, menatap wajah Pram yang sayu.
Tangan Wening bergerak, seolah ingin melepas diri. Tapi Pram menahannya, menatap wajah Wening dengan senyum hangatnya. “Kamu cantik, Ning. Kamu sabar.” Pram membelai pipi Wening dengan punggung tangannya, lalu memeluknya lagi. “Saya tenang kamu di sini, saya tenang melihat kamu,” ucapnya.
Wening diam, lalu perlahan membalas pelukan Pram dengan mata terpejam kuat.
Pram mendesah, menahan keinginan. “Ke kamar saya, Ning?” ajaknya.
Wening memundurkan tubuhnya, sambil mendorong pelan d**a bidang Pram. “Saya nggak mau … itu kamar Bapak dan Ibu.”
“Itu dulu ruang kerja saya, Ning. Saya diusir Donna dari kamarnya yang di bawah itu.”
Wening tidak lantas percaya, dia baru saja mengenal Pram, dan sekarang dia bingung, kenapa dia yang begitu mudah luluh.
“Atau … di kamarmu?” ujar Pram, membelai rambut Wening, mengerti keraguan dalam diri Wening.
Bersambung