Bab 5. Cerita Pram

1042 Words
Wening berpikir bahwa mungkin saja Pram tidak puas berbincang dengannya semalam, lalu lanjut mengajaknya sekarang. Dia pun merasa heran, kenapa Pram yang bersikeras ingin ditemani, padahal dia bukan siapa-siapa. Sesekali melirik ke Pram yang diam dan fokus menyetir. “Bu Donna hari ini pulang,” ujarnya, membaca sekilas notifikasi di layar ponselnya. Pram menghela napas pendek. “Ibu baru saja mengirim pesan, dia mungkin sore tiba di rumah," lanjut Wening. “Nggak masalah kita ke resto.” “Saya sebenarnya nggak mau ada masalah, Pak. Ini di luar pekerjaan saya.” “Saya yang jamin.” Pram memutar setir ke depan resto, memarkirkan mobil di tempat khusus, mematikan mesin mobil, lalu ke luar dan menyerahkan kunci mobil ke seorang penjaga. *** Keduanya sudah duduk berhadapan di depan meja, dan Pram yang langsung memesan makanan. “Kamu, Ning?” Melihat-lihat daftar menu, Wening tergerak makan. “Saya jadi kepingin roti lapis isi tuna asap ini, Pak. Teh hangat hitam.” Pram tersenyum kecil, merasa senang Wening yang akhirnya berselera makan. Dia lalu memesan makanan dan minuman untuk Wening. Mata Wening berputar ke seluruh ruangan café. Entahlah, dia merasa khawatir ada yang melihatnya bersama Pram, papi dari anak asuhnya. “Nggak usah khawatir, Ning. Nggak ada yang kenal kita. Saya juga baru datang ke sini,” ujar Pram pelan. “Saya hanya nggak enak aja, Pak. Saya—” “Saya menyukai kamu, Wening.” Wening tersentak kaget, kepalanya terangkat dan matanya tertuju ke wajah tampan mulus Pram. “Pak?” “Maksud saya, saya menyukai kepribadian kamu," ujar Pram cepat. Cepat-cepat Wening mengusir perasaan anehnya. Kata-kata Pram terdengar sangat ambigu, hampir saja dia yang salah mengartikan, mengira Pram memiliki perasaan khusus kepadanya, mengingat kembali Pram yang malam-malam datang menemuinya di dapur. Kini dia berpikir bahwa Pram yang memang menyukai pekerjaannya. Tak lama kemudian dua pramusaji datang membawa semua makanan dan minuman pesanan mereka. Keduanya kompak mempersilakan lalu pergi setelah Pram berucap terima kasih. Pram beralih ke Wening. “Makanlah,” ujarnya yang sudah memegang alat-alat makan. Wening mulai makan. “Saya sebenarnya tidak siap bercerai, karena memikirkan Miranda. Tapi keadaan memang tidak tertolong, Donna bersikeras ingin berpisah," mulai Pram. Wening tertegun. Perutnya sudah terisi, dan dia merasa lebih nyaman, memiliki energi untuk membalas perkataan Pram. “Kenapa bu Donna memaksa?” Pram menelan ludah kelu, menatap wajah Wening, sempat ragu untuk menjelaskan. Wening membalas tatapan Pram beberapa saat, merasa Pram tidak ingin menjawab, dia lanjut makan. “Saya … punya affair dengan mantan saya,” jawab Pram akhirnya. “Oh.” “Tahun lalu, ada seminar di hotel di BSD, tanpa sengaja saya bertemu Brenda, eks saya. Kami … khilaf dan berhubungan badan di salah satu kamar hotel.” Entah kenapa Wening tidak menyukai jawaban Pram, tapi dia tetap tenang. “Mantan pacar Bapak?” tanyanya. “Mantan istri.” “Oh.” Perasaan Wening mendadak hangat. “Ya, Saya menikah dua kali, Brenda adalah istri saya yang pertama, kami bercerai karena dia tidak bisa memberikan saya anak. Lalu, saya menikah dengan Donna, dulu dia adalah sekretaris saya di kantor. Saya jatuh cinta dan saya meminta izin ke Brenda, tapi Brenda menolak dipoligami. Saya sangat menginginkan anak … saya dan Donna melakukannya di kantor, lalu Donna hamil tiga bulan dan saya yang harus bertanggung jawab. Brenda kesal, dia menuntut cerai. Dan … saya ceraikan.” Pram menjelaskan dengan lugas tentang pernikahannya. Napas Wening seperti tertahan mendengar cerita Pram. Sedikit tidak mengerti kenapa Pram bercerita tentang ini kepadanya. “Ya, saya …khilaf saat bertemu Brenda kembali setelah beberapa tahun kami berpisah. Waktu itu dia curhat ke saya tentang hidupnya yang kacau, merasa tidak berguna karena tidak bisa punya anak. Saya berniat menenangkannya, lalu … kami ke kamar dan melakukan itu.” “Bagaimana bu Donna tahu?” “Saya mengakuinya, saya nggak mau Donna tahu dari orang lain, apalagi dari Brenda sendiri. Sebenarnya saya tidak ingin Donna terluka. Tapi, ini yang terjadi, sejak pengakuan saya, dia tidak sesemangat dulu, bersikap menjauh, dan sibuk dengan pekerjaannya.” Wening sudah menghabiskan makannya, dan dia menyesap teh panas. Dia akhirnya mengetahui keadaan keluarga Pram dan Donna. “Kasihan Miranda," gumamnya lirih. “Ya, makanya saya berat berpisah. Tapi ini memang kesalahan saya.” “Pak.” “Ya, Ning?” “Kenapa Bapak cerita ini ke saya?” “Saya nyaman ngobrol sama kamu.” “Oh, lalu … Bapak tanya-tanya soal perceraian, seolah ini pertama kalinya Bapak bercerai, padahal Bapak sudah pernah bercerai dulu.” Pram tersenyum kecil, matanya tajam memicing ke Wening, dan Wening yang sedikit tersipu. “Biar ada bahan bicara dengan kamu,” ujarnya dengan sikap tenangnya. Entahlah, Wening merasa nyaman berdekatan dengan Pram, tapi dia menyadari posisi dan statusnya, juga status Pram yang sudah beristri, meskipun sedang diambang perceraian. Wening sudah menghabiskan minumnya, juga Pram yang sudah menghabiskan makan dan minumnya. Pram melirik jam tangannya, dan wajahnya menunjukkan gelisah. Wening seolah mengerti. “Saya bisa pergi naik taksi, Pak. Jadi, Bapak bisa langsung pergi kerja,” ujarnya. Pram mendengus tersenyum, dia mengagumi pengertian Wening. “Saya cuti hari ini, tapi saya memang punya janji dengan seseorang. Saya tetap antar kamu.” *** Wening sudah duduk di samping Pram yang menyetir, dia mendengar suara notif dari ponselnya. “Dari Donna?” tanya Pram yang sudah menekan pedal gas mobil dengan pelan. Wening tertawa kecil, “Kok Bapak tau sih?” “Ya, tau dong. Apa katanya?” “Dia bilang nggak jadi pulang sore ini, karena ada urusan penting.” Pram mencebik. Dia lalu menghubungi Donna. Terdengar suara Donna di pengeras suara di mobil. “Ya, Pram?” “Kamu nggak pulang? Ntar ditanya Miranda. Kamu sudah janji pulang, ‘kan?” Terdengar hela napas berat di sana. “Fitri minta bantuanku, Pram.” “Kamu lebih mementingkan Fitri daripada Miranda.” “Kan ada Wening, dia pasti bisa membujuk Miranda.” Pram melirik ke Wening sekilas. “Aku tau, tapi Miranda lebih membutuhkan kamu, Donna.” “Ck, Pram. Fitri butuh bantuanku satu malam lagi. Besok, aku janji pulang pagi-pagi.” Pram berdecak kesal, dia lalu mematikan hubungan panggilannya, lalu lanjut menyetir. “Pak Pram, antar saya ke sekolah saja,” ujar Wening, dan dia yang memang biasanya berjaga di sekolah sampai waktunya Miranda pulang. Pram mengangguk, wajahnya berubah masam. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD