Inikah Solusinya?

1042 Words
"Kita, bisa meminta Ahsan untuk menikah dengan Shanum besok." Ucapan Pradipta, sontak membuat semua yang ada di ruangan itu tercengang. Seketika, semua menoleh ke arah Ahsan. Bara dan Lintang sendiri, pada akhirnya saling tatap. Tak lama, Bara menganggukkan kepalanya. Lalu, Lintang langsung memutar tubuhnya menghadap Mey. "Mey, tolong aku. Selamatkan, harga diri Shanum," ucapnya, memohon sambil memegang tangan Mey. Mey yang kaget dengan permintaan Lintang, diam, tak tau harus menjawab apa. "Mey," ulang Lintang memanggil. "Aku, ga bisa kasih keputusan, Lin. Andai, aku bersedia pun belum tentu Ahsan bersedia. Karena nantinya, yang akan menjalani pernikahan ini adalah Ahsan," jawab Mey ragu. Lintang langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Ahsan dengan segera. "San, Tante mohon. Bantu keluarga Tante kali ini." Lintang, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, seraya menunduk memohon pada Ahsan. Ahsan, merasa tak enak dengan perlakuan Lintang. "Jangan kaya gini, Tan. Ahsan yakin, pasti ada solusi lain buat masalah ini," tolaknya halus. Sungguh, sebenarnya Ahsan merasa tak tega melihat kesedihan keluarga Lintang. Terutama, Shanum. Gadis itu terlihat begitu terpukul dan putus asa. Tapi, dia juga tak mau jika harus dipaksa seperti ini. Lintang tentunduk. Tak lama kemudian, dia terisak. Sedangkan Shanum sendiri, dia memilih beranjak menuju kamarnya dan mengurung diri disana. Semua pasrah, jika pada akhirnya acara besok harus batal. Mey, pamit undur diri bersama kedua anaknya. Meskipun, merasa tak enak hati karna tak bisa memenuhi permintaan Lintang. Tapi, dia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja. Lintang sendiri, meminta maaf karna sudah meminta hal konyol pada Ahsan. Dia sadar, jika pernikahan bukanlah sebuah ikatan yang dapat dimainkan. Maka dari itu, dia tidak memaksa lagi. *** Suasana di mobil hening, semua larut dalam pikirannya masing-masing. "Mas," panggil Mey, pada Ahsan yang tengah fokus mengemudi. Tanpa berniat menoleh, Ahsan hanya menanggapi dengan deheman saja. "Kamu, beneran ga mau nolongin keluarga tante Lintang, Mas?" Bunyi ban yang berdecit di aspal karna rem yang diinjak secara mendadak, terdengar. Bersamaan, dengan suara benturan kecil di dalam mobil. "Astaghfirullah!?" "Awh!?" teriak Mey dan Afnan bersamaan. Reflek, Mey memukul lengan Ahsan. "Kamu tuh, apa-apaan sih, Mas. Main ngerem mendadak kaya gitu," omelnya sambil mengusap jidatnya, yang terbentur dashboard. "Tau nih, Mas. Gue sampe nyusruk, nih." Afnan mengikuti. "Maaf." Hanya itu, kata yang keluar dari mulut Ahsan. Lalu setelahnya, dia melajukan lagi mobilnya. "Tapi serius deh, Mas. Mamah tuh, berharap kamu bisa bantu tante Lintang dengan menggantikan calon suaminya besok," ucap Mey, penuh harap. Ahsan, memilih diam tak menanggapi ucapan mamahnya itu. Sisa perjalanan, mereka habiskan dengan keheningan. Tak ada satupun, yang bersuara. Bahkan, hingga mereka masuk ke rumah pun, mereka masih setia dengan diamnya. "Mas." Mey mencegat Ahsan, saat dia hendak menuju kamarnya. "Apalagi Mah?" tanya Ahsan lelah. "Beneran, Mas. Kamu, ga mau nikah sama Shanum besok?" tanyanya untuk yang kesekian kalinya. Ahsan, hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Merasa jengah, dengan pertanyaan mamahnya. Ah, bukan pertanyaan sebenarnya. Karna nyatanya, itu lebih seperti sebuah keinginan yang harus terwujud. "Jujur. Mamah tuh, sebenarnya hanya bertanya, atau menginginkan Mas untuk membantu mereka, sih?" tanya Ahsan penuh selidik. Mey, hanya bisa memamerkan deratan giginya yang putih. Merasa, bahwa Ahsan sudah bisa menebak maksudnya. Ahsan, menghela napas melihat reaksi Mey seperti itu. "Kenapa, ga Afnan aja yang bantuin besok?" usul Ahsan. "Ga, bisa. Gue, ga mau kehilangan Rubi," sela Afnan cepat. "Lagian, mamah sama papah udah janji buat nikahin gue sama Rubi tahun depan. Setelah, gue lulus tahun ini," sambungnya. Ahsan, melirik Mey. Sedangkan yang dilirik, hanya bisa berpura-pura tak melihat Ahsan saja. "Beri, Mas satu alasan yang bagus. Kenapa, Mas harus menolong mereka?" pinta Ahsan pada Mey. Sejenak, Mey berpikir. Jawaban apa yang harus dia berikan pada Ahsan, agar Ahsan langsung setuju membantu Lintang. Tak berapa lama, Mey tersenyum karna mendapatkan jawabannya. "Karna, Mamah yang meminta kamu untuk menikahi Shanum," ucap Mey pasti. Mey tau, Ahsan tak mungkin bisa menolak permintaan Mey. Apapun itu. Sejak dulu. Sejak, Ahsan tau jika Mey bukanlah ibu kandungnya, tapi Mey rela berkorban begitu banyak untuknya, sejak saat itu pula Ahsan selalu berusaha untuk lebih berbakti lagi pada Mey. Meski dia tau, semua baktinya belum tentu bisa membalas jasa-jasa Mey. Setidaknya, dia akan selalu berusaha untuk membuat Mey bahagia. Ahsan, memejamkan matanya dan menarik napas berat. Lalu, menatap Mey lekat. Terlihat, sebuah pengharapan dalam binar mata itu. Membuat Ahsan, makin sulit menolak. "Baiklah. Mas, setuju," putusnya kemudian. Mey, langsung memeluk putranya itu erat. Mengelus punggungnya, sambil menggumamkan kata terima kasih berkali-kali. Melepas pelukannya, Mey menatap Ahsan haru. Kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Ahsan, sebelum dia meninggalkan Ahsan di kamarnya. Segera, Mey menghubungi Lintang untuk memberikan kabar gembira tersebut. Tak lupa, dia juga menghubungi Arslan yang tengah berada di tempat kerja untuk segera pulang. Mey juga, meminta Afnan untuk menghubungi beberapa sanak keluarga dan mengabarkan tentang pernikahan Ahsan besok. Tanpa mengetuk, Mey langsung membuka pintu kamar Ahsan. "Mas, kalau kamu mau mengundang teman kamu, baiknya kamu hubungi sekarang aja. Biar ga kemaleman," pesannya. Dan, langsung berlalu begitu saja. Tanpa menyadari, bahwa sang anak tengah menatap sendu pada wajah yang tercetak di selembar foto yang dia pegang. Ahsan, menghela napas berat. Diletakkannya kembali, foto yang selalu dia simpan dalam sebuah buku. Foto, yang dia simpan rapih sejak lama. Hingga tak ada, yang mengetahui keberadaan foto itu selain dia. Ponsel di sakunya berdering. Tertera nama Shanum, di sana. Lagi, Ahsan menghela napas berat sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan itu. "Assalamu'alaikum," ucapnya setelah menempelkan ponsel di telinganya. "Kenapa, Mas Ahsan mau menikahi aku besok? Harusnya, Mas Ahsan biarkan aja pernikahan aku batal besok," Tanpa menjawab salam, Shanum langsung meluapkan semua amarahnya. Diam, itu yang Ahsan lakukan. "Kenapa, Mas diam? Jawab aku!?" Nada yang tinggi, terdengar. Menandakan, bahwa kini Shanum tengah berada di puncak emosinya. "Istirahatlah. Dan bersiap-siap untuk besok pagi." Tanpa menunggu respon dari Shanum, juga tanpa mengucap salam, Ahsan mematikan sambungan telpon begitu saja. Teringat pesan sang mamah tadi, sedikit pun Ahsan tak berminat memberitahu teman-temannya tentang pernikahannya besok. Tapi, jika ia benar tak memberi kabar pada temannya, bisa dipastikan mereka akan mengamuk pada Ahsan. Lagi-lagi, Ahsan menghela napas berat. Berulang kali, Ahsan mengetik dan menghapus kembali tulisan di ponselnya. Hingga akhirnya, sebaris kalimat itu terkirim juga di grup whatsapp yang berisikan teman-teman dekatnya. "Besok gue menikah" Lalu, mematikan ponselnya, demi menghindari pertanyaan temannya nanti. Direbahkannya tubuh lelah itu di ranjang. Dengan pikiran yang menerawang jauh entah kemana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD