Hari Pertama Sandiwara 4

733 Words
Kenzo membeku. Sementara di samping mereka, wajah Heidi mendadak berubah pias. Senyum manis yang sedari tadi terpasang di wajah gadis itu lenyap seketika. Setelah Kenzo melangkah naik ke lantai dua dengan tergesa-gesa, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruang tengah. Freya berbalik, menatap adiknya yang kini memandangnya dengan tatapan yang tidak lagi sepolos tadi. "Kak Freya kok... tiba-tiba mesra banget sama Kak Kenzo?" tanya Heidi, ada nada sinis yang gagal ia sembunyikan dalam suaranya. "Bukannya kemarin-kemarin Kakak bilang kalau Kak Kenzo selalu dingin?" Freya berjalan menuju dapur untuk menaruh jas Kenzo, lalu berbalik menatap Heidi dengan tenang. "Pernikahan itu dinamis, Heidi. Kadang ada pasang surutnya. Tapi bagaimanapun juga, Kenzo adalah suamiku. Wajar kan kalau aku memperlakukannya dengan penuh kasih sayang?" Heidi mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Tapi Kak Kenzo nggak bahagia, Kak! Dia terpaksa!" "Siapa yang bilang padamu kalau dia terpaksa, Dei?" Freya berjalan mendekat, menatap adik angkatnya itu lurus-lurus. "Kamu sendiri lihat kan tadi? Mas Kenzo gak menolakku sama sekali. Jadi, sebagai adik, tugasmu hanya perlu mendoakan kebahagiaan kakakmu ini, bukan?" Kata-kata Freya yang tenang namun menohok itu membuat Heidi bungkam. Napas gadis itu memburu menahan kekesalan. Selama hidupnya, ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dari Freya. Mainan, baju, kasih sayang orang tua, semuanya. Ini adalah pertama kalinya Freya berdiri tegak dan mempertahankan apa yang miliknya. "Aku... aku mau pulang aja," ujar Heidi ketus, meraih tasnya di sofa dengan sentakan kasar. "Nggak usah repot-repot masak buat aku." "Lho, kenapa buru-buru? Mas Kenzo pasti kecewa kalau kamu nggak ikut makan malam," sahut Freya, berpura-pura kecewa. "Nggak usah, Kak. Bilang aja sama Kak Kenzo aku tiba-tiba pusing," jawab Heidi ketus, lalu melangkah lebar meninggalkan rumah itu tanpa pamit lagi. Begitu pintu depan tertutup rapat, seluruh kekuatan yang baru saja dikumpulkan Freya luruh seketika. Tubuhnya bergetar, dan ia terpaksa berpegangan pada pinggiran meja makan agar tidak terjatuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia menangis tanpa suara, meratapi betapa menyedihkannya hidup yang ia jalani. Ia harus berpura-pura bahagia dan mengemis kemesraan dari suaminya sendiri, hanya untuk membuktikan pada dunia dan pada dirinya sendiri, bahwa ia pernah dicintai, walau itu semua hanya sebuah kebohongan yang dijadwalkan. Malam harinya, meja makan kembali sunyi. Heidi sudah pergi, meninggalkan ruang hampa yang kian terasa menyesakkan di antara Freya dan Kenzo. Kenzo menatap kursi kosong di hadapannya, lalu beralih pada Freya yang sibuk menyendokkan nasi ke piringnya. Pria itu meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras. "Apa maksudnya yang tadi sore, Freya?" tanya Kenzo, suaranya sarat akan kilat amarah yang tertahan. Freya menjeda gerakannya. "Yang mana, Mas?" "Jangan pura-pura bodoh. Kamu sengaja bermesraan di depan Heidi untuk memanas-manasi dia, kan?" tuduh Kenzo dengan tatapan menghunus. "Kamu tahu aku menyukai Heidi, dan kamu sengaja memanfaatkan perjanjian kita untuk menyakiti perasaannya!" Rasa perih kembali menghantam d**a Freya, namun kali ini rasa perih itu memicu sesuatu yang lain di dalam dirinya. Sesuatu yang melelahkan. Freya meletakkan sendoknya, menatap Kenzo dengan mata yang sembab namun tajam. "Menyakiti perasaannya?" Freya tertawa getir. "Lalu bagaimana dengan perasaanku, Mas? Selama setahun ini, kamu mengabaikanku di rumah ini. Kamu menganggapku gak ada, sementara kamu diam-diam menemui adikku di belakangku. Siapa yang sebenarnya menyakiti siapa di sini?" Kenzo tertegun. Ia tidak menyangka Freya mengetahui tentang kedatangannya ke rumah orang tua wanita itu. "Aku gak melanggar perjanjian kita, Mas," lanjut Freya, suaranya bergetar menahan tangis. "Perjanjiannya adalah kamu harus memperlakukanku layaknya istri yang kamu cintai selama 7 hari. Gak ada yang mengatakan kalau sandiwara ini harus dibatalkan, kalau ada Heidi di depan kita." Kenzo terdiam, rahangnya mengeras namun ia tidak bisa membantah. Secara teknis, Freya benar. "Hari pertama belum selesai, Mas," bisik Freya, air matanya menetes melewati pipinya. "Dan aku udah ngerasa sesakit dan sehancur ini. Tenang. Kamu gak perlu khawatir... sisa enam hari lagi, dan setelah itu kamu bisa memiliki Heidi seutuhnya. Tapi sampai hari ketujuh itu tiba... tolong patuhi janjimu. Cuma itu." Kenzo menatap air mata Freya. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun pernikahan mereka, ada rasa bersalah yang samar yang tiba-tiba menyusup ke dalam d**a pria itu. Ia melihat kerapuhan yang teramat dalam pada wanita yang selama ini diam. Namun, ego dan rasa cintanya pada Heidi buru-buru menepis perasaan asing itu. Kenzo bangkit berdiri tanpa menyelesaikan makannya. "Terserah kamu," ujar Kenzo dingin sebelum melangkah pergi menuju kamarnya sendiri. Freya menatap punggung suaminya yang menjauh. Malam itu, di hari pertama, Freya menyadari satu hal, bersandiwara seolah dicintai ternyata jauh lebih menyakitkan daripada diabaikan sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD