Suara deru mesin mobil Kenzo yang memasuki garasi seketika mengubah atmosfer di dalam rumah. Heidi langsung melepaskan genggaman tangannya dari Freya, wajahnya berbinar gembira dengan rona merah yang mendadak terbit di kedua pipinya.
"Kak Kenzo pulang!" seru Heidi riang, langsung bangkit berdiri tanpa memedulikan perubahan raut wajah Freya.
Freya ikut berdiri, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya.
7 hari...
Perjanjian itu baru berjalan beberapa jam, dan takdir sudah mengujinya sekejam ini.
Pintu utama terbuka. Kenzo melangkah masuk dengan jas yang sudah tersampir di lengannya. Namun, langkah pria itu langsung terhenti begitu mendapati sosok Heidi berdiri di ruang tamu, bersanding dengan Freya. Ada kilat keterkejutan di mata Kenzo, yang sedetik kemudian berubah menjadi sorot penuh kekhawatiran, tatapan yang tidak pernah ia berikan pada Freya.
"Heidi? Kamu di sini?" tanya Kenzo, suaranya melembut secara instan.
"Iya, Kak! Aku kangen sama Kak Freya, makanya main ke sini. Eh, nggak tahunya Kak Kenzo malah pulang cepat," ujar Heidi manja, melangkah mendekati Kenzo.
Kenzo melirik Freya, seolah memberi kode tersembunyi agar Freya tidak membongkar apa yang terjadi di antara mereka tadi malam. Menangkap tatapan itu, Freya justru tersenyum tipis. Ini adalah hari pertamanya sebagai "istri yang dicintai", dan ia tidak berniat melepaskan haknya begitu saja, bahkan di depan Heidi.
Freya melangkah maju, memotong jarak antara Kenzo dan Heidi. Ia dengan alami mengambil alih jas dari lengan Kenzo, lalu meraih tangan pria itu.
Kenzo menegang saat jemari lentik Freya menyusup di antara jari-jarinya, menggenggamnya dengan erat. Pria itu hendak menarik tangannya, namun Freya menahannya dengan sedikit penekanan, matanya menatap Kenzo penuh arti. Ingat janji kita, Mas, begitulah arti tatapan Freya.
"Mas Kenzo sengaja pulang cepat karena ingat janjinya sama aku, kan?" ucap Freya dengan nada suara yang sengaja dibuat manis dan manja, sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama setahun ini.
Kenzo menelan ludah. Egonya berontak, terlebih saat ia melihat raut bingung dan sedikit tidak suka di wajah Heidi. Namun, dokumen perceraian di ruang kerjanya seolah berteriak mengingatkan bahwa ia harus patuh jika ingin bebas.
"I-iya," jawab Kenzo kaku, suaranya agak serak.
Heidi mengerutkan kening, matanya tertuju pada tautan tangan Kenzo dan Freya. "Janji? Janji apa, Kak?"
"Bukan apa-apa, Dei. Cuma urusan rumah tangga kami," potong Freya cepat sebelum Kenzo sempat menjawab. Freya kemudian beralih menatap Kenzo, mendongak dengan binar mata yang sengaja ia buat seakan-akan penuh cinta. "Mas, mandilah dulu. Aku sudah siapkan air hangat. Nanti kita makan malam sama-sama dengan Heidi."
Kenzo menatap Freya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa tidak nyaman yang amat sangat karena harus bersandiwara di depan wanita yang sebenarnya ia cintai. Namun, melihat ketegasan di mata Freya, Kenzo akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
"Aku ke atas dulu," ujar Kenzo pendek. Sebelum pria itu berbalik, Freya dengan sengaja berjinjit lalu mengecup pipi Kenzo sekilas.
Cup.