Hari Pertama Sandiwara 2

831 Words
Rahang Kenzo menegang. Keintiman fisik adalah hal yang paling ia hindari dari Freya selama ini. Baginya, menyentuh Freya terasa seperti mengkhianati perasaannya sendiri pada Heidi. Namun, tatapan menuntut dari Freya membuat Kenzo tidak punya pilihan. Kenzo maju satu langkah. Jarak mereka mengikis habis. Freya memejamkan matanya saat merasakan hembusan napas hangat Kenzo menerpa wajahnya. Cup. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Freya. Bibir Kenzo terasa dingin dan kaku, menempel tidak lebih dari dua detik sebelum pria itu langsung menarik diri dengan tergesa-gesa. Meskipun singkat dan tanpa perasaan, sentuhan itu sukses membuat d**a Freya bergemuruh hebat. Air mata hampir saja menetes, namun dengan sekuat tenaga Freya menahannya. Ia membuka mata dan tersenyum manis, mengabaikan fakta bahwa suaminya baru saja menciumnya seperti sedang menunaikan tugas wajib militer. "Hati-hati di jalan, Mas. Pulang jam berapa nanti malam?" "Jam tujuh. Ada rapat sore ini," jawab Kenzo pendek, matanya menghindari tatapan Freya. Pria itu berbalik cepat, membuka pintu, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Freya berdiri mematung di ambang pintu, menatap mobil sedan hitam Kenzo yang perlahan bergerak membelah jalanan kompleks dan menghilang di balik pagar. Tangannya terangkat, menyentuh keningnya yang masih menyisakan kehangatan samar dari bibir Kenzo. Satu hari telah dimulai. Tersisa enam hari lagi. Pukul dua siang, suasana rumah yang sepi mendadak terusik oleh suara bel pintu. Freya yang sedang merapikan ruang tengah bergegas membukanya. Saat pintu terbuka, senyum Freya langsung membeku. Di depannya, berdiri seorang gadis dengan terusan dress bunga-bunga berwarna pastel yang tampak manis. Rambut panjangnya dikuncir kuda, menampilkan wajah polos tanpa riasan tebal namun memancarkan aura yang selalu berhasil memikat siapapun. "Kak Freya!" Heidi langsung menghambur memeluk Freya dengan manja. Bau parfum vanila yang manis khas adiknya langsung memenuhi indra penciuman Freya. "Heidi? Kamu kok ke sini nggak bilang-bilang?" Freya melepaskan pelukan itu dengan lembut, mencoba menata emosinya yang mendadak jungkir balik. "Aku kangen banget sama Kakak!" Heidi cemberut, mengerucutkan bibirnya dengan gaya yang menggemaskan, gaya yang selalu membuat ayah dan ibu angkat mereka menuruti segala keinginannya. "Lagian, aku juga mau sekalian ketemu Kak Kenzo. Dia ada di rumah jam segini?" Mendengar nama Kenzo disebut dengan begitu akrab dari bibir adiknya, d**a Freya terasa seperti dihantam batu besar. "Mas Kenzo masih di kantor, Dei. Baru pulang nanti malam," jawab Freya, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar ramah sebagai seorang kakak perempuan. "Ayo masuk dulu." Heidi melangkah masuk, matanya langsung mengitari seluruh sudut ruang tamu yang mewah itu. "Wah, Kak Kenzo pinter banget ya nata rumah ini. Selera Kak Kenzo emang selalu bagus. Aku suka banget tirai abu-abu itu, persis kayak yang pernah aku ceritain ke Kak Kenzo dulu." Jantung Freya mencelos. Tirai abu-abu itu baru diganti sebulan yang lalu atas permintaan Kenzo. Freya mengira Kenzo yang memilihnya sendiri karena menyukai warna netral. Ternyata... itu adalah selera Heidi. Rumah tempatnya tinggal ini, perlahan-lahan dibangun di atas bayang-bayang wanita lain. "Kak," Heidi duduk di sofa, menatap Freya dengan mata bulatnya yang berbinar, namun ada kilat penasaran yang tidak bisa disembunyikan. "Kakak sama Kak Kenzo... baik-baik aja kan? Akhir-akhir ini Kak Kenzo sering kelihatan melamun kalau lagi main ke rumah Ibu." Freya menelan ludah yang terasa kesat. Sering main ke rumah Ibu? Jadi, di saat Kenzo beralasan lembur kerja hingga larut malam, pria itu sebenarnya pergi menemui Heidi? Freya mengepalkan tangannya di balik lipatan roknya, menahan rasa sesak yang kian mencekik lehernya. Ia menatap adik angkatnya itu, mencari-cari apakah ada rasa bersalah di wajah Heidi karena telah menyukai suami kakaknya sendiri. Namun, wajah Heidi tampak begitu polos, seolah ketertarikannya pada Kenzo adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. "Kami baik-baik saja, Dei. Kenapa tanya begitu?" Freya memaksakan diri untuk tersenyum, duduk di sofa seberang Heidi. "Nggak apa-apa sih, Kak. Cuma..." Heidi menggantung kalimatnya, menunduk sambil memainkan ujung dress-nya dengan ekspresi bimbang yang dibuat-buat. "Kak Kenzo sempat cerita sama aku... kalau dia merasa pernikahan ini terlalu dipaksakan." JEDAR! Kata-kata Heidi bagai petir di siang bolong bagi Freya. Suaminya, pria yang bahkan enggan berbicara lebih dari tiga kalimat dengannya di rumah ini, ternyata membagi keluh kesah pernikahan mereka kepada wanita lain. Kepada Heidi. "Oh, ya?" Freya mencoba tertawa kecil, walau suaranya terdengar sumbang. "Mas Kenzo cuma capek kerja mungkin. Kamu nggak usah terlalu dipikirin." "Tapi Kak," Heidi tiba-tiba berpindah duduk ke samping Freya, meraih tangan kakaknya dengan tatapan serius. "Kalau... kalau ternyata Kak Kenzo nggak bahagia sama Kakak, apa Kakak bakal tetep bertahan? Kakak nggak capek hidup sama cowok yang hatinya nggak ada di Kakak?" Pertanyaan itu menembus pertahanan Freya. Itu bukan sekadar pertanyaan seorang adik yang khawatir. Itu adalah sebuah tuntutan terselubung. Sebuah desakan agar Freya mundur dan menyerahkan posisinya. Freya menatap tangan Heidi yang menggenggamnya. Tangan yang selalu mendapatkan semua kasih sayang yang seharusnya ia miliki. Dan kini, tangan itu juga ingin merebut Kenzo, satu-satunya alasan Freya untuk bertahan di dunia yang dingin ini. Sebelum Freya sempat menjawab, suara klakson mobil terdengar dari halaman depan. Freya melirik jam di dinding. Pukul lima sore. Kenzo pulang dua jam lebih awal dari yang dikatakannya. Atau mungkin... pria itu tahu kalau Heidi sedang berada di sini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD