Hari Pertama Sandiwara 1

618 Words
Kenzo terdiam. Matanya menyipit, mencoba mencari tahu permainan apa yang sedang direncanakan oleh wanita di hadapannya ini. "Hanya 7 hari, Mas," lanjut Freya, suaranya melembut, hampir memohon. "Kecup keningku sebelum kamu pergi bekerja, gandeng tanganku saat kita berjalan, dan duduklah di sampingku saat sarapan. Setelah tujuh hari itu selesai, aku bersumpah akan menghilang dari hidupmu. Kamu bebas mengejar Heidi, dan aku tidak akan pernah muncul lagi di depan kalian." Mendengar nama Heidi disebut, rahang Kenzo menegang. Namun, tawaran itu terlalu menggiurkan untuk ditolak. Hanya tujuh hari sandiwara, dan setelah itu ia akan mendapatkan kebebasannya kembali. Kebebasan untuk bersama wanita yang benar-benar ia inginkan. "Tidak masalah," sahut Kenzo dingin, suaranya tegas tanpa adanya keraguan. "Aku akan melakukannya asalkan kamu memegang janjimu untuk setuju berpisah setelah itu." Freya tersenyum tipis, menyembunyikan badai yang siap meruntuhkan seluruh pertahanannya. "Terima kasih, Mas. Hari pertama... dimulai besok." Kenzo bangkit berdiri, berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi. Di atas meja, Freya menatap jemarinya yang polos tanpa cincin pernikahan, cincin yang sejak awal tidak pernah sudi Kenzo sematkan di jarinya. Tujuh hari. Freya tahu ini adalah taruhan terakhirnya. Bukan untuk membuat Kenzo jatuh cinta, melainkan untuk memberi hatinya sendiri waktu... untuk benar-benar merelakan. Keesokan harinya. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar, menyinari separuh ranjang berukuran king-size yang terasa terlalu luas bagi Freya. Selama setahun ini, sisi kanan ranjang itu selalu rapi dan dingin. Kenzo lebih memilih tidur di kamar tamu dengan alasan sibuk bekerja hingga larut malam. Namun pagi ini, semuanya harus berubah. Freya berdiri di depan cermin wastafel, menatap wajahnya yang sedikit pucat. Ia memulas sedikit lipstik berwarna persik untuk menyembunyikan rona lelah di bibirnya, lalu merapikan daster satin berwarna marun yang membungkus tubuh rampingnya. Jantungnya berdegup tidak karuan saat melangkah keluar kamar menuju dapur. Bau harum nasi goreng mentega yang ia masak setengah jam lalu memenuhi ruangan. Di sana, di balik meja makan, Kenzo sudah duduk rapi dengan kemeja kerja berwarna biru dongker. Pria itu sedang fokus membaca tablet di tangannya, menyesap kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Kehadiran Freya membuat gerakan Kenzo terhenti. Pria itu mendongak, matanya menyipit samar saat mengingat kesepakatan gila mereka tadi malam. "Selamat pagi, Mas," sapa Freya, berusaha membuat suaranya terdengar seringan mungkin. Ia melangkah mendekat, membawa sepiring nasi goreng hangat dan meletakkannya di hadapan Kenzo. Kenzo menatap piring itu, lalu beralih menatap Freya. Ada jeda canggung yang menyiksa sebelum pria itu akhirnya berdeham pelan. "Pagi." Freya tidak langsung duduk di kursinya yang biasa, yang berjarak dua kursi dari Kenzo. Sesuai dengan syarat yang ia ajukan, Freya menarik kursi tepat di sebelah pria itu dan mendudukinya. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Freya bisa mencium aroma parfum maskulin Kenzo yang bercampur dengan wangi sabun mint yang segar. Kenzo tampak menegang. Kursi di sebelahnya adalah wilayah steril yang tidak pernah disentuh Freya selama setahun ini. Namun, demi mengingat dokumen perceraian yang menanti ditandatangani di hari ketujuh, Kenzo memaksakan diri untuk rileks. Ia memindahkan tabletnya dan mulai menyendok sarapannya. "Bagaimana rasanya? Pas?" tanya Freya, matanya menatap Kenzo penuh harap. "Enak. Seperti biasa," jawab Kenzo datar. Pria itu makan dalam keheningan, tetapi Freya bisa merasakan ketegangan yang memancar dari pundak suaminya. Ketika sarapan selesai, Kenzo bangkit berdiri dan merapikan jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Ia bersiap melangkah pergi menuju pintu depan, kebiasaan rutinnya yang selalu mengabaikan keberadaan Freya seolah wanita itu hanya pajangan rumah. "Mas," panggil Freya pelan, ikut bangkit berdiri. Kenzo menghentikan langkahnya di dekat pintu utama. Pria itu berbalik, menatap Freya yang kini sudah berdiri di depannya. Freya mengulurkan kedua tangannya, meraih jemari Kenzo yang besar dan dingin, lalu menggenggamnya. "Hari pertama, Mas," bisik Freya mengingatkan. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata hitam Kenzo. "Kecup keningku sebelum pergi bekerja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD