Beberapa waktu berlalu, tak hanya bulan tapi beberapa tahun berlalu.
Terlebih setelah kejadian demi kejadian yang menimpa Norah juga Jeanandra. Banyak hal yang di lewati.
Setelah semuanya, hari ini Norah menginjakkan kakinya kembali ke negara asalnya, setelah dia pergi menghilang beberapa tahun. Norah kembali dengan sorot mata yang lebih dingin dan tajam dari sebelumnya.
Ketika dia kembali ke negaranya, dia langsung pergi ke sebuah tempat yang selama beberapa waktu dia tinggalkan. Meskipun enggan dan tak ingin kembali tapi ada banyak hal yang harus di selesaikan. Mobil sport hitam yang di kendarai Norah melesat cepat membelah jalanan. Tak membutuhkan waktu yang banyak sampai dia tiba di sebuah gedung mewah dan besar. Kampus yang pernah membuatnya bertemu dengan orang orang yang menyakitinya.
Ketika dia tiba di parkiran kampus, banyak sekali orang yang melihat ke arah mobilnya. Hal itu membuat Norah kesal.
"Huft.... ini lebih menyusahkan dari pada yang aku kira." gumam Norah.
Ketika Norah turun dari mobil miliknya banyak orang yang berteriak karena melihat wajahnya.
"Wah, cantik sekali. Siapa dia!"
"Mahasiswa baru!"
"Mungkin simpanan om om!"
Dan banyak lagi yang lain, tapi Norah tetap berjalan masuk ke dalam area kampus tanpa peduli dengan semua teriakan itu.
Banyak orang menatapnya kagum dan iri dengan Norah.
Norah yang sekarang berpenampilan lebih dewasa dan juga lebih cantik serta tubuhnya lebih proporsional. Dengan tinggi 175cm yang membuat nya semakin terlihat seperti seorang model.
Norah melangkah masuk ke dalam ruang administrasi untuk mendaftar ulang sesuai aturan yang ada meskipun Daddy nya sudah mengurus semuanya. Tapi belum sempat dia membuka pintu ruang administrasi, sebuah teriakan keras menghentikan nya.
"Norah, hei.... Norah .... tunggu....x
"Huft ... aduh capek banget."
Norah menghela napas panjang melihat Mili yang masih ngos ngosan saat ini.
"Kenapa?"
"Aku sudah menunggumu sejak tadi, tapi malah di tinggal. Kau ini bagaimana!" gerutu Mili.
Plak....
Mili meringis ketika dari arah belakang ada yang memukul lengannya. Mili langsung menoleh dan melihat Sena yang sudah tiba di dekat mereka.
"Jangan seperti anak anak Mili, kau tahu bagaimana Norah."
Mili mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Sena juga Norah yang mengabaikannya.
"Jangan berdebat!"
"Bikin pusing!"
Mili dan Sena langsung diam, mereka hanya bisa senggol senggolan tangan mendengar nada dingin Norah.
Drrrt......
Ponsel Norah berbunyi.
"Ya, Mom....."
( Princess, sudah sampai kampus? )
"Hmm, aku sudah tiba. Dan juga bersama mereka. Aku matikan dulu, mau urus administrasi."
Tanpa menunggu jawaban Sakura, Norah mematikan sambungan telfon itu.
Mili dan Sena hanya saling melirik melihat sikap Norah saat ini. Dingin dan tak tersentuh. Tak suka di usik, dan juga tak suka ikut campur urusan orang lain.
Setelah itu, Norah masuk ke dalam ruang Administrasi hanya untuk menyerahkan identitas dirinya karena semua sudah di urus oleh Larung.
Lalu Norah pergi dari sana meninggalkan Mili juga Sena begitu saja.
"Eh, kau mau kemana?" tanya Mili.
"Kantin."
Singkat, jelas dan tak ada tambahan kalimat yang lain.
Melihat kepergian Norah, Sena juga Mili langsung menyusulnya tanpa banyak bertanya lagi. Norah berjalan di belakang sambil memeriksa ponselnya. Sedangkan Mili dan Sena berada di depan Norah.
"Bruk...."
"Aduh....."
Mili hampir saja terjatuh jika Norah tak langsung menangkap tubuhnya yang terpental ke belakang.
"Kalian jalan pakai mata, bukan pakai kaki!" bentak orang di depannya.
"Tak usah teriak, kita tak tuli!" balas Sena.
Salah satu perempuan itu geram, dia maju ke depan Sena dan menunjuk wajah Sena.
"Siapa kau?"
"Teman mu yang menabrak, kenapa malah marah ke kami. Lucu sekali!" dumel Mili.
Dia sudah berdiri dengan benar dan menatap tajam dua orang di depannya.
"Heh, kau? Berani sekali kau membalas perkataan ku. Kau tak tahu kalau aku ini anak pemilik kampus. Jadi jangan macam macam dengan ku!"
Sena dan Mili saling pandang lalu tertawa.
"Kalau mimpi jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit." ledek Mili.
"Ck....."
Norah berdecak kesal karena langkahnya ke kantin harus terhambat. Tanpa bicara apapun Norah melenggang pergi menuju kantin tanpa menghiraukan perdebatan mereka berempat.
Sedangkan Olive yang merasa di abaikan menarik tangan Norah sampai Norah berbalik ke arahnya.
Mili dan Sena membelalakkan matanya melihat keberanian Olive saat ini.
"Waduw, ada yang mau setor nyawa." gumam Mili lirih.
"Heh, tunggu mau kemana kau, urusan kita belum selesai ya!"
"Kau harus ganti rugi bajuku!"
"Lihat, gara gara teman mu itu bajuku jadi kotor. Kau pikir baju ku murah. Ini itu limited edition, harganya bisa sampai lima puluh juta."
Olive berteriak di depan Norah, tapi tak ada reaksi sama sekali dari Norah.
"Olive, percuma kau teriak begitu. Mereka tak akan sanggup ganti rugi!"
Salsa yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Sementara Norah melihat tangannya yang masih dicekal oleh Olive.
"Wah, mereka cari mati." ucap Sena.
"Hanya lima puluh juta?"
Akhirnya Norah membuka suara karena dia sudah risih di pegang oleh Olive. Tangan satunya yang terbebas bergerak ke arah tangan Olive lalu ganti Norah yang mencekal tangan Olive sampai membuat Olive meringis kesakitan.
"Jangan menyentuhku sembarangan!" ucap Norah dingin.
Bisik-bisik mulai terdengar di sekitarnya.
"Gila, kenapa mereka bertiga berani menantang pemilik kampus? Mereka bisa langsung di keluarkan!"
"Lah, itu kan anak baru tadi?"
"Wah benar, dia yang bawa mobil sport tadi!"
"Lepasin!"
Olive mulai memberontak tapi Norah tak mau melepaskannya yang membuat Salsa menjadi panik.
"Lepaskan temanku, kalau kau tak mampu bayar bilang, biar kau dan dua teman mu ini ganti dengan cara yang lain!" teriak Salsa tak terima.
Brugh
Norah melepaskan tangan Olive sekaligus mendorong tubuh Olive sampai Olive terjatuh.
"Sialan kau, berani sekali kau dengan ku? Kau tak usah sombong hanya karena kau bawa mobil mewah ke kampus. Pasti semua itu hasil jual diri mu bukan? Kau pasti simpanan Om Om diluar sana. Atau Ibumu juga melakukan hal seperti itu sampai kau seniat itu pamer ke kampus?"
Salsa dan Olive benar benar menghina Norah terang terangan. Sementara para mahasiswa disana langsung terdiam ketika merasa hawa di sekitar mereka berubah.
"Mereka bangunin singa tidur!" bisik Sena pada Mili.
Ekspresi Norah yang semula tenang berubah menjadi dingin. Dengan langkah perlahan dia mendekati Salsa dan Olive. Entah kenapa, Salsa dan Olive tiba tiba merasa sesak dan tak bisa bernapas dengan baik hanya karena tatapan Norah kepada mereka.
"Tarik ucapan mu yang tadi, atau aku....."
"Atau apa? Kau pikir hanya dengan menampilkan wajah datar mu itu membuat ku takut!" ejek Oliv
Norah menyeringai, dia mengambil sesuatu di dalam tas yang dia bawa. Satu gepok dollar di pegangnya sambil menatap remeh ke arah Olive dan Sena yang sudah melotot kaget.
Sret....
Norah melempar semua dollar itu pada wajah Olive dan Salsa. Tak hanya dua orang itu saja yang terkejut tapi juga semua orang yang melihatnya. Berbeda dengan Mili juga Sena yang langsung menahan tawa mereka.
Belum sempat Olive dan Salsa sadar dari rasa terkejutnya, suara Norah kembali terdengar.
"Aku bahkan mampu beli kampus ini kalau aku mau, dan dollar dollar itu buat ganti baju mu yang harganya tak seberapa. Semua dollar itu juga bisa membeli mu beberapa bulan ke depan dari pada kau sibuk menjual diri di setiap club malam Olive Bramasta!!"
Norah berbisik pelan di telinga Olive sambil menyeringai.
Setelah itu, Norah pergi begitu saja dari hadapan Olive yang mematung di tempatnya.
"Bagaimana dia tahu namaku? Dia hanya mahasiswa baru bukan?" batin Olive.
Tubuhnya mulai gemetar karena merasa hidupnya mulai terancam. Sementara Mili dan Sena menyusul kepergian Norah yang melanjutkan langkahnya pergi ke kantin.
"Olive, kenapa malah diam saja? Kau terima kalau dia menghina mu seperti tadi?"
Salsa tak terima dengan apa yang dilakukan Norah. Tapi tanpa bicara apapun lagi, Olive pergi dari sana dengan perasaan gusar.
"Loh, kok malah pergi?"
Salsa menyusul Olive yang sudah berjalan cepat meninggalkan kampus.
Sementara banyak mahasiswa yang mulai membicarakan Olive karena kalah dengan Norah.
"Siapa mahasiswa baru tadi?"
"Gila, langsung di lembar dollar. Mana satu gepok lagi!"
Tak lama dari kepergia Olive, Salsa kembali ke tempat tadi dan mengambil semua dollar yang dilempar oleh Norah tadi.
Dari kejauhan, Mili dan Sena sudah mereka video dimana Salsa benar benar mengambil dollar itu.
"Gila, tak tahu malu sekali dia."
"Ngaku anak pemilik kampus, tanpa tahu siapa yang mereka hadapi!"
To be continued