Bab 5

1012 Words
Kematian Noah memberi dampak besar pada Norah. Semenjak Sena kembali, dia juga tak bisa membuat Norah lebih baik. Banyak yang berubah dari Norah. Selain menjadi lebih pendiam, tatapan Norah menjadi datar dan dingin. Hanya beberapa kata yang keluar dari mulut Norah. Itupun hanya jika Norah menganggapnya penting. Sementara kuliah Norah terpaksa di urus dari rumah. Larung dan Sakura yang mulai bisa menerima keadaan memaksa Mili dan Sena membawa Norah pulang ke kediaman utama. Pagi ini, semua berkumpul di meja makan seperti biasanya. Tak ada yang aneh, baik Norah pun duduk dengan tenang. Tapi ketika dia ingin menyiapkan sarapan ke dalam mulutnya, dia mengerutkan keningnya. Perutnya tiba tiba mual. Norah pun langsung berlari ke arah toilet. Semua orang saling pandang bingung dengan keadaan Norah. Lalu mata mereka membola ketika mendengar suara Norah yang terus menerus mengeluarkan isi perutnya. Larung dan Sakura pun menyusul Norah ke toilet, mata mereka membola ketika melihat Norah limbung dan hampir terjatuh ke lantai. "Hei, Princess...." "Kau kenapa?" Larung menepuk pelan pipi Norah. Wajah Norah semakin pucat. "Daddy ..... " Hanya itu yang bisa Norah katakan, tubuhnya terkulai lemas di pangkuan Larung. "Mom, Norah pingsan. Kita bawa ke rumah sakit." teriak Larung panik. Sena dan Mili yang mendengar itu bergegas menyiapkan mobil. Mili membantu Sakura yang lemas karena melihat putrinya seperti itu. "Tante, Norah pasti baik baik saja. Jangan khawatir." Mili berusaha menenangkan Sakura. Perasaannya kembali tak karuan, terlebih baru sebulan semua orang kehilangan Noah. Sena sudah menghubungi dokter pribadi keluarga Norah untuk bersiap di rumah sakit.Sena sesekali melirik ke belakang melihat bagaimana keadaan Norah yang sedang di peluk oleh Larung. Sementara di mobil yang lain, Sakura bersama Mili mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah sakit, Vanya dokter pribadi keluarga Norah sudah menunggunya. "Bawa ke IGD biar langsung di tangani. Tunggu disini, aku akan memeriksanya. Dimana Kak Sakura?" Vanya adik kandung Sakura yang bekerja sebagai dokter yang langsung menangani Norah. "Pastikan Norah baik baik saja, Vanya. Jangan sampai dia kenapa napa." Dari arah pintu masuk terlihat Sakura sudah tiba bersama Mili. Vanya mengangguk, menepuk pelan pundak sang kakak. "Kakak tunggu disini, Norah pasti baik baik saja." Semua menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan cemas. Mereka khawatir jika Norah akan drop atau bahkan lebih dari yang mereka pikirkan. Tak berapa lama, pintu ruangan IGD itu terbuka dan menampilkan Vanya yang ekspresi nya tak bisa di tebak. "Vanya, katakan pada kami. Bagaimana keadaan Norah?" Larung bertanya dengan nada tak sabar. Vanya terlihat menghembuskan napasnya kasar. "Norah hamil." jawab Vanya lirih. "A-apa?" Tak hanya Larung yang terkejut tapi Sakura dan juga yang lain syok. Lalu Mili mengusap wajahnya kasar. Dan akhirnya apa yang dia takutnya terjadi. Perihal hal ini, baik Mili dan Norah belum mengatakan apapun pada Larung dan Sakura. "Tapi bagaimana bisa? Norah tak pernah dekat dengan laki laki manapun." gumam Sakura lirih. Mili menggigit bibir bawahnya bingung. "Tante, Om, ada yang ingin aku katakan pada kalian tentang Norah." Mili melihat ke arah Sena meminta dukungan dan Sena langsung mengangguk pelan. Mili menarik napas panjang dan menghembuskannya cepat. Lalu Mili menceritakan semuanya pada Larung dan Sakura tentang apa yang terjadi pada Norah sesaat sebelum berita kematian Noah. Tubuh Sakura terhuyung ke belakang. Larung tak bisa lagi mengatakan apapun. Dia merasa gagal menjaga anak anaknya. "Maafkan kami yang menyembunyikan semuanya." ucap Mili penuh sesal. # Di Lain tempat... "Mami...." "Huek..... Huek...." Jeanandra terus menerus memuntahkan semua isi perutnya. Amon mendekati putranya yang sejak pagi tak berhenti memuntahkan semua makanan yang dia makan. "Kita ke rumah sakit Jean." Amon tak berhenti memijat tengkuk Jean agar Jean merasa lebih nyaman. Sementara Arra sejak tadi pergi ke dapur membuatkan air jahe untuk Jean. "Papi aku tak mau, tapi kepalaku pusing sekali." "Huek, huek....." Amon tak tega tapi Jean tetap bersikeras untuk tak mau di bawa ke rumah sakit. "Pi, menjauh dari ku. Parfum Papi bikin aku tambah mual. Papi bau...." Lagi lagi Jean memuntahkan isi perutnya "Huek......" "Yak, Jean, kau bilang Papi bau? Kau tahu harga parfum Papi tak murah!" omel Amon kesal. "Pi sudah, jangan malah di debat. Kasihan anaknya. Papi panggil Agra dulu kesini." Amon terus mengomel, sementara Arra membantu Jean kembali ke kamar dan memberikan jahe hangat yang baru saja dia buat. Amon menghubungi Agra menyuruhnya datang ke rumah mereka. ( Hallo......) "Ke rumah sekarang, kau harus tiba dalam waktu sepuluh menit. Jika kau tak segera sampai, ku hancurkan rumah sakit milikmu!" Biip.... "Loh.... Hey, Amon!" teriak Agra kesal. "Sialan!!" Agra yang baru saja selesai memeriksa beberapa pasiennya bergegas pergi ke rumah Amon. "Adik ipar durhaka!" maki Agra kesal. Berkali kali Agra mengumpat mobil yang ada di depannya karena dia harus segera tiba di rumah Amon. Tak selang lama, Agra berlari kencang masuk ke dalam rumah Amon. Dia juga memarkirkan mobilnya sembarangan. "Kau telat lima menit!" Belum sempat Agra membalas perkataan Amon, Arra sudah menyela lebih dahulu. "Pi, biarkan Agra memeriksa Jean lebih dahulu. Dia sudah pucat sekali." "Ck, kau selamat kali ini." dumel Amon kesal. Arra sebenarnya bingung dan pusing karena Amon dan Agra tak pernah akur. Dan sering sekali berdebat hanya untuk hal yang tak penting. Agra segera memeriksa Jeanandra yang sudah terbaring lemas di atas ranjang. "Dia tak apa apa, hanya butuh istirahat beberapa waktu. Jangan biarkan dia bekerja lebih dahulu. Biar Gery yang urus semua pekerjaannya." Agra memberi suntikan vitamin kepada Jeanandra yang sudah memejamkan matanya. Tapi Amon masih belum puas dengan penjelasan Agra. "Kau yakin jika dia tak apa apa? Pasalnya sejak pagi dia memuntahkan semua isi perut nya juga bilang jika aku bau dan parfum ku tak enak." "Hah?" Agra lalu melihat ke arah Jeanandra dan beralih ke arah Amon dan Arra yang juga bingung. "Jangan jangan kekasihnya hamil, dan dia mengalami kehamilan simpatik." sahut Agra setengah bercanda. Deg.... Tubuh ketiga orang itu membeku, sementara Agra yang melihat reaksi ketiga orang itu semakin bingung. Mata Jeanandra menatap langit langit kamarnya. Pikirannya berkelana pada kejadian beberapa waktu silam. "Apa mungkin dia sedang hamil? Tapi dia dimana?" batin Jeanandra kalut. Sementara Amon sudah memijat pelipisnya yang nyeri. Dia menarik keluar Agra yang masih terlihat bingung. "Jangan bilang kalau Jeanandra benar benar menghamili seorang wanita?" To be continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD