Di kediaman Jeanandra, orang tua Jeanandra tengah memijat kepalanya yang tiba tiba berdenyut karena perkataan Putranya.
"Boy, kau serius? Kau tidur dengan seorang perempuan yang bahkan kau belum mengenalnya?"
Amon masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Jeanandra. Sementara Arra mendekati putranya dan menyentuh kening sang putra.
"Kau tak demam Jean, kenapa kau bicara melantur begitu?"
Arra masih denial dengan apa yang terjadi pada putranya. Karena yang Amon dan Arra tahu, selama ini Jean tak pernah berdekatan dengan seorang wanita. Bahkan terkesan jijik dengan seorang wanita. Jadi bagaimana bisa Jeanandra dengan mudahnya mengatakan jika dia tidur dengan seorang wanita.
"Astaga...!"
Jeanandra mengusap wajahnya kasar karena kedua orang tuanya yang masih belum percaya dengan semua yang dia katakan.
"Sudahlah jika kalian tak percaya padaku. Lebih baik aku melanjutkan tidurku." ucap Jeanandra yang terlanjur kesal kepada kedua orang tuanya.
" Loh, Jean, Mommy belum selesai bicara."
"Jean..... kesini dulu!"
Sakura berteriak keras memanggil putranya yang sudah menghilang masuk ke dalam kamarnya.
"Astaga anak itu, anak Daddy kenapa menyebalkan sekali." dumel Sakura.
"Anak Mommy juga itu." sahut Amon cepat.
#
Jeanandra yang sudah berada di kamarnya juga tak langsung tidur seperti apa yang dikatakan nya pada orang tuanya. Dia mengingat apa yang baru saja dia lewati bersama Norah. Perlahan sudut bibirnya tertarik ke atas ketika mengingat malam panas yang dia lalui.
Lalu dia ingat dengan Geri asistennya yang tak kunjung muncul sampai saat ini Jean menghubungi Geri mencari tahu kemana orang itu pergi.
"Geri, kau kurang ajar sekali hah? Meninggalkan ku sendirian di hotel itu. Kau mau mati?" bentak Jeanandra ketika sambungan telfon itu sudah tersambung.
( Astaga, Jean, maafkan aku. Kemarin tiba tiba perutku bermasalah. Aku sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan di toilet )
"Hah? Bagaimana bisa? Kau ceroboh sekali!" omel Jeanandra.
Geri menceritakan semua yang terjadi pada mereka. Dia juga sudah mencari tahu tentang kolega bisnis Amon yang memang sengaja menjebak Jeanandra. Pasalnya mereka tahu jika jam terbang Jeanandra belum seperti Amon. Jadi mereka berpikir jika Jeanandra bisa mereka jebak dengan mudah.
"Sialan, ini semua gara gara Papi!" umpat Jeanandra.
Jeanandra sampai menggebrak meja di samping tempat tidurnya karena kesal dengan kolega Papinya.
"Besok kau datang kemari, bawa semua bukti yang kau dapatkan. Tunjukkan pada Papi tentang koleganya yang sialan itu. Setelah ini aku tak mau ikut campur dengan urusan Papi lagi!"
Jeanandra memutuskan sambungan telfonya dan memilih untuk merebahkan dirinya. Bayangan wajah Norah yang sedang menciumnya terus muncul dalam benaknya.
"Dia dimana?"
Perlahan mata Jean menutup sempurna dan dia terlelap setelah membayangkan wajah Norah yang terus tersenyum kepadanya.
#
Norah mengurung dirinya di kamar setelah pemakaman Noah. Saat ini dia berada di apartemennya sendiri. Dia memang tak pulang ke rumah orang tuanya semenjak masuk kuliah.
"Norah, buka pintu nya. Ayo makan dulu, kau belum makan sama sekali kemarin."
Mili mencoba membujuk Norah agar Norah mau makan meskipun sedikit. Tapi nyatanya setelah Mili menunggu beberapa menit, Norah juga tak kunjung membuka pintunya.
"Norah....." panggil Mili sekali lagi.
"Aku tak lapar."
Mili menghela napas panjang, dia menyerah. Dia tak akan memaksa Norah lagi jika memang Norah tak ingin makan sekarang.
Norah mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Setelah telfonnya di angkat. Norah langsung memberikan perintah untuk orang itu.
"Besok pagi kau sudah harus ada di hadapanku, bagaimanapun caranya."
Biip....
Tanpa menunggu jawaban dari orang itu, Norah memutuskan sambungan telfon nya. Lagi lagi dia hanya melihat ke arah jendela dengan tatapan kosongnya.
Sementara itu, orang yang baru saja di telfon Norah melihat ke layar ponselnya yang sudah menghitam.
"Tiba tiba sekali menyuruhku pulang? Apa terjadi sesuatu?" gumam orang itu.
Sena, wanita yang baru saja di telfon Norah mau tak mau harus segera bersiap dan pulang ke tempat Norah. Meskipun banyak pertanyaan di benaknya.
#
Keesokan paginya, Sena langsung menuju apartemen Norah. Meskipun dia lelah karena seharian dia berada di pesawat tapi Sena terlalu penasaran dengan tugas yang akan diberikan Norah kepadanya.
"Mili, dimana Norah?"
"Eh, kau....."
Mili mengusap dadanya yang berdegup kencang karena kemunculan Sena yang tiba tiba. Sementara Sena menatap aneh pada Mili karena terus menunjuk wajahnya.
"Ck, malah bengong. Dimana Norah?"
Mili mendengus kesal karena sikap Sena kepadanya. Ketika dia melihat Sena ingin mencari Norah dikamarnya, Mili menarik tangan Norah dan membawanya ke ruang tengah. Sena mengerutkan keningnya bingung dengan sikap Norah saat ini.
"Jangan ganggu Norah, aku yang akan menjelaskan semuanya. Tapi jangan memotong semua yang aku katakan."
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Sena bingung.
Wajah Mili semakin sendu ketika dia melihat pintu kamar Norah yang masih tertutup dari dalam.
Dia lalu mulak menceritakan semua yang terjadi pada Sena. Tentang bagaimana Norah di jebak oleh Ameera teman sekampus Norah. Selama ini, Mili tak pernah berada di samping Norah karena dia berbeda kampus. Sedangkan Norah selalu menganggap Amera sahabat sekaligus keluarganya. Tapi Ameera tak pernah tahu identitas Norah yang sesungguhnya.
Sena tentu saja syok, belum lagi dia mendengar berita kematian Noah. Wajahnya sudah berubah pias saat ini. Tak lagi banyak bicara, dia masih belum bisa menerima semua yang Mili katakan kepadanya.
"Noah juga sudah meninggal, dan hal itulah yang membuat Norah mengurung diri di kamarnya sejak kemarin. Noah di habisi oleh orang orang yang tak di kenal. Tapi sampai saat ini Om Larung pun masih mencari orang orang itu. Aku hanya khawatir dengan keadaan Norah yang seperti ini."
"A-apa? Hahah, Mil, kalau mau bercanda jangan dengan hal seperti itu. Semua itu tak lucu, Mili!" bentak Sena keras.
Mili menggelengkan kepalanya. Dia meraih tangan Sena untuk menenangkan Sena yang mulai kalut.
"Aku tak bercanda, semua kejadian ini terjadi begitu cepat. Apa aku gila sampai membuat kematian Noah sebagai bahan bercandaan?"
Sena mengusap wajahnya kasar, dua kejadian yang membuat nya semakin syok ketika pulang. Pantas saja Norah menyuruhnya untuk segera kembali.
"Ini tak mungkin, Noah sudah berjanji pada kita untuk terus bersama. Kenapa bisa seperti ini?" gumam Sena.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
" Noah, kau pergi meninggalkan ku setelah semuanya?" batin Sena.
Sena masih belum bisa menerima semuanya. Terlebih dengan kematian Noah. Orang terdekatnya meninggalkan dirinya tanpa berpamitan kepadanya.
"Kenapa harus Noah?"
To be continued....