Di satu sisi, dengan langkah yang cepat setelah memarkirkan mobilnya asal, Norah berlari menuju mansion nya. Tapi sebelum benar-benar mencapai pintu dia terlihat bingung karena banyak sekali mobil yang terparkir di halaman mansion nya yang jelas dia tahu itu mobil beberapa milik keluarganya.
"Kok banyak mobil, kenapa perasaanku tak enak ya?" gumam Norah.
Dengan hati yang bergetar dan perasaan tidak tenang Norah membuka pintu mansion, ketika pintu itu di buka tiba-tiba saja badannya limbung hampir jatuh dan beruntung Kael ada di sebelahnya untuk menangkap tubuhnya.
"Ini ada apa Dad, itu kenapa Noah badannya pucat dan terbujur kaku begitu, Noah mau kasih kejutan buat aku ya Dad? Hari ini kita ulang tahun."
Norah juga melihat Sakura, sang Mommy terus menerus menangis sembari memeluk tubuh kaku itu.
"Mom, Noah kenapa?"
Sakura menggelengkan kepalanya dengan terus menangis tanpa suara. Dia memeluk tubuh putrinya dengan tubuh yang sudah gemetar tak karuan.
Larung menghampiri Istri dan Putrinya untuk menenangkan mereka.
"Sayang, tenang sebentar ya?" pinta Kael.
"Norah maafkan Daddy, ini kelalaian Daddy yang tak bisa menjaga Noah. Sepulang dari kampus, Noah di serang musuh dan di berondong oleh tembakan. Semua anak buah Daddy yang menjaganya tewas di tempat begitu juga dengan Noah." jelas Larung.
"A-apa maksud Daddy? Di tembak? Tewas di tempat?"
"Hahaha, Daddy bohong. Noah tak bodoh, jika ada yang menyerangnya dia pasti bisa melawannya." teriak Norah keras.
Norah terus berteriak dengan keras karena dia belum percaya jika saudara kembarnya sudah tiada. Norah perlahan mendekati tubuh kaku Noah dan melihatnya dengan tatapan yang tak bisa di tebak.
"Noah, kau bohong padaku!"
"Kau berjanji padaku untuk terus bersama sampai kita menikah nanti. Lalu apa ini? Kau meninggalkanku sendirian?"
"Siapa yang sudah habisi Noah?"
Nada bicara Norah rendah dan tersirat perasaan marah yang luar biasa.
Norah melihat semua orang yang ada disana dengan tatapan dinginnya.
Tak ada yang menjawab pertanyaannya, bahkan Kael sang Daddy pun hanya diam.
"Kalian semua tuli dan bisu? Kenapa tak ada yang menjawab ku? Siapa yang melakukan ini pada Kakakku?" bentak Norah.
Suaranya semakin menggelegar di ruangan berduka itu.
Noah Gala Victory, Kakak kembar Norah yang tak pernah banyak tingkah sekarang sudah terbujur kaku dengan banyaknya luka tembak di sekujur tubuhnya.
Norah yang tak kunjung mendapatkan jawaban semakin kalut dan marah. Dia berbalik ingin pergi dari sana untuk mencari siapa yang sudah menghabisi kembarannya.
Larung yang sadar dari lamunannya segera berlari mengeja Norah yang terlihat kalut.
"Norah berhenti!"
"Kau tak bisa pergi dengan keadaan seperti ini!"
Larung mencegah Norah dengan terus memeluknya. Larung tak bisa membiarkan Norah dalam bahaya karena Larung sendiri belum tahu siapa pelaku di balik penyerangan Noah, putranya.
Dia tak mungkin membiarkan Norah bertindak gegabah dan malah akan membuat dia celaka.
"Lepas Daddy!!"
Norah memberontak untuk di lepaskan. Tapi Kael semakin erat memeluk Norah agar putrinya tak jadi pergi.
"Aku yang akan mencari mereka, aku juga yang akan menghabisi mereka dengan tangan ku sendiri, Daddy!" teriak Norah lebih keras.
"Princess, tenang. Jangan seperti ini. Kau lupa jika bukan hanya kita yang berduka. Lihat Mommy, jika kau pergi dan kau juga terluka, bagaimana dengan Mommy nanti?"
"Please, tenang ya.... Daddy janji setelah pemakaman Noah kita akan mencarinya. Dan Daddy adalah orang yang pertama yang akan menyerahkannya kepadamu." ucap Larung.
Norah seketika berhenti memberontak, dia menoleh ke arah Mommy yang menangis tanpa suara. Sakura masih memeluk tubuh Noah yang sudah terbujur kaku. Perlahan langkah kaki Norah mendekati Sakura.
Tangan yang sejak tadi sudah gemetar itu merengkuh tubuh Mommy nya dan memeluknya erat.
"Mom, maafkan Norah. Maafkan Norah yang tak bisa menjaga Kakak dengan baik. Norah janji, Norah akan mencari pelakunya sampai dapat!"
Sakura membalas pelukan Norah tak kalah eratnya. Larung sudah tak mampu menyaksikan itu semua. Keluarga besar yang juga datang kesana hanya diam tak bersuara seolah ikut merasakan kesakitan yang dirasakan Norah dan Sakura.
"Noah sudah pergi, kau tak boleh pergi juga meninggalkan Mommy sendirian."
Norah semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura.
"Mom, aku janji, tanganku sendiri yang akan menghabisinya. Aku akan membawa nya ke hadapan Mommy. Siapapun orang yang menghabisi Noah, akan tewas di tanganku sendiri!!" batin Norah.
Norah dimakamkan malam hari, pemakaman itu tertutup. Hanya di hadiri oleh keluarga besar Larung dan Sakura. Larung melakukan itu untuk berjaga jaga. Karena dia juga belum tahu siapa musuh yang menyerang putranya.
Pemakaman itu selesai, Larung mengajak Sakura untuk pulang karena tubuh Istrinya itu sudah terlalu lemah. Hanya saja Norah masih kekeuh ingin tetap disana.
Satu jam berlalu, hujan pun mulai turun. Tapi Norah masih setia duduk di dekat makam Noah dengan pandangan kosongnya. Tak jauh dari tempatnya, seseorang dengan setia menunggunya. Berkali kali dia menghela napas panjang. Dia juga sedih, tapi dia tak bisa membiarkan Norah seperti ini terus menerus.
"Kita pulang sekarang!" ajak orang itu.
"Aku masih mau disini!"
Orang itu mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia harus bisa mengajak Norah pulang sesuai janjinya pada Larung tadi.
"Norah, aku tahu kau masih sedih. Tapi jika kau terus disini dan kau sampai sakit, kau tak akan bisa membalas Amera. Karena dia, kau tak bisa menjaga Noah. Karena dia juga kau meninggalkan Noah di kampus hanya karena menerima ajakan ulang tahunnya. Jika dia tak menjebak mu, kau masih bisa bersama Noah saat ini!"
"Jika kau masih seperti ini, aku tak mau membantu mu mencari pelaku penembakan Noah. Kau lakukan semuanya sendiri!!"
"Astaga, jika dia sedang tak linglung begini sudah pasti kepalaku akan melayang karena berani mengomelinya dan menghardiknya tadi!" Batin orang itu.
Wanita yang setia menemani Norah meringis ngilu membayangkan kemarahan Norah kepadanya nanti.
Norah mulai bangun dari posisinya.
"Kau benar, aku akan mencari wanita itu sampai dapat. Karena dia, aku lalai menjaga Noah. Karena aku menghargainya aku sampah harus meninggalkan Noah."
Mata Norah terpejam sesaat ketika mengingat semua yang terjadi. Dua tangannya terkepal menahan rasa sesak di dadanya.
"Kita pulang!"
"Oke...."
Milen Ratahayu atau terbiasa di panggil Mili adalah orang terdekat Norah yang selalu membantu Norah mengurus beberapa keperluan Norah. Hanya saja ketika kejadian ini terjadi, dia sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Sesaat sebelum mereka meninggalkan makam Noah, Mili menoleh ke belakang. Dia melihat gundukan tanah yang masih itu dengan perasaan tak karuan.
"Aku janji, aku yang akan membantu Norah mencari pelakunya. Aku akan mengikuti kemanapun Norah berada."
To Be Continued........