Norah yang terbangun merasakan berat di kepalanya.
"Sshhh....."
"Pusing sekali!" desis Norah.
Norah menunduk ketika merasa berat di atas perutnya. Matanya terbelalak seketika. Norah menutup mulutnya agar tak berteriak.
Norah berusaha mengingat apa yang terjadi pada nya semalam. Dan juga mengingat siapa laki laki yang tengah memeluknya dalam keadaan sama sama telanjang itu.
"Astaga, apa yang aku lakukan sama dia?" teriak Norah.
"Ada apa? Kenapa teriak teriak, ini masih pagi."
Jeanandra yang masih setengah sadar belum mengingat jelas keadaanya pagi ini.
"Hiks Hiks....."
"Kita baru saja melakukan apa?"
Jeanandra yang mendengar suara wanita menangis langsung membuka matanya dengan sempurna. Dia hampir lupa dengan apa yang terjadi padanya semalam.
"s**t ...!"
"Aku lupa!"
Jeanandra langsung terbangun dan reflek memeluk Norah yang sedang menangis. Tubuh Norah membeku seketika saat Jeanandra tiba tiba memeluknya seperti itu.
"Jangan nangis, tolong maafkan aku. Sungguh, semua ini diluar perkiraan ku."
Norah yang tersadar langsung mendorong tubuh Jeanandra.
"Kenapa kau malah memelukku lagi? Kau mau cari kesempatan?"
Norah menunjuk Jeanandra dengan wajah yang merah padam antara malu dan marah.
Norah memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya. Pasalnya, bajunya sudah tak bisa di pakai kembali. Norah bahkan masih mencoba mengingat apa yang terjadi dengan nya semalam.
"Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamar ini?"
Akhirnya Norah kembali membuka suara, dia penasaran dan lega karena yang bersama dengan nya bukan laki laki yang sudah tua. Tak buruk batin Norah.
"Aku tak sengaja masuk kesini, aku di kejar orang orang yang ingin menjebakku. Dan yah, kau tahu sendiri apa yang terjadi semalam. Lagi pula, kenapa kau ceroboh sekali membiarkan pintu kamarmu tak terkunci? Kau tak takut jika ada laki laki lain yang masuk ke dalam kamar ini?"
Jeanandra terus mengoceh bahkan terkesan mengomeli Norah saat ini.
"Tunggu, semalam kau?"
Norah yang melihat keraguan di wajah Jean menggigit bibir bawahnya.
"Aku di jebak oleh seseorang. Dia ingin mempermalukan ku dengan membuat ku tidur bersama laki laki sembarangan." jawab Norah lirih.
Jeanandra memperhatikan wajah Norah yang terlihat kecewa dan sakit hati.
"Orang terdekatmu?" tanya Jean hati hati .
Norah mengangguk, dia kembali menunduk ketika mengingat bagaimana dia bersahabat dengan orang yang sedang mereka bicarakan.
"Kenapa bisa dia sejahat itu?"
Belum sempat Norah menjawab kembali terdengar suara dari perut Norah.
Kruyuuukkk..
Norah yang sadar bunyi itu berasal dari perutnya langsung menutup wajahnya karena malu.
Jeanandra tersenyum tipis, dia mengusap kepala Norah lembut.
"Maaf, aku belum makan sejak kemarin. Keburu minuman sialan itu bereaksi." ucap Norah malu.
"Tunggu disini, aku akan minta seseorang membawakan makanan. Kau bisa membersihkan dirimu terlebih dahulu."
Jeanandra langsung bangkit dari ranjang tanpa peduli dengan keadaannya saat ini.
"Yakkkk, pakai baju dulu kenapa tidak pakai baju mu!" Teriak Norah keras.
Reflek Jeanandra menyambar boxer miliknya sambil tersenyum geli melihat reaksi Norah saat ini.
"Astaga, kenapa dia sesantai itu di depanku. Apa yang dia pikirkan sebenarnya? Ceroboh sekali." gumam Norah.
Drtt.... Drttt..
"Ponsel ku!"
"Hallo Dad, ada apa? Daddy kenapa? Aku pulang sekarang!"
Klik...
Jeanandra sudah kembali membawa beberapa makanan untuknya dan juga Norah. Tapi dia mendadak bingung ketika Norah terlihat buru buru memakai pakaiannya.
"Tunggu, kau mau kemana?"
"Aku bahkan belum tahu nama mu dan kau langsung pergi gitu aja?" protes Jeanandra tak terima.
"Norah, namaku Norah. Tapi maaf aku tak bisa sarapan bersamamu. Ada hal penting yang terjadi. Aku harus pergi!"
"Ok....!"
Norah langsung bergegas pergi dari sana, tapi sebelum dia benar benar keluar dia berbalik ke arah Jeanandra. Dia meraih leher laki laki yang terlihat kebingungan itu.
Cup.....
"Jika kita bertemu lagi, aku janji tidak akan meninggalkan mu."
"Kau harus ingat tanda di tubuhku jika ingin bertemu lagi dengan ku."
Norah mengatakan itu sambil tersenyum manis, lalu dia pergi dengan cepat meninggalkan Jeanandra yang masih mematung di tempatnya.
Entah kenapa Norah yakin bisa bertemu lagi dengan Jeanandra.
Jeanandra menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Norah, seketika dia tersadar tapi terlambat. Norah sudah tak ada disana.
"s**t, kau bodoh Jean. Kau bahkan tak bereaksi apa apa tadi. Dasar sialan!" maki Jean.
"Tapi apa maksudnya tadi? Tanda? Tanda apa? Kenapa aku tak ingat sama sekali?"
"Ahh, kucing nakal.... awas jika aku bisa menemukanmu lagi nanti. Tunggu saja, aku pasti akan mendapatkanmu. Apa yang tak bisa aku dapatkan di dunia ini. Bukan Jeanandra namanya jika aku tak bisa menemukanmu."
Jeanandra memilih untuk segera membersihkan badannya karena dia juga harus segera kembali ke rumah nya.
Tapi belum sempat dia masuk ke dalam kamar mandi ponselnya bergetar.
Drrt.....
Amon calling.
"Hallo....!"
(Kau dimana Jean? Kenapa tak pulang? Mommy mu mencarimu sejak semalam!)
"Ck....ini semua karena Papi, Jean akan pulang setelah membersihkan diri."
Jean melemparkan ponselnya begitu saja karena kesal. Jika dia mengingat yang sudah terjadi dia ingin sekali memukul Papi nya.
Sementara itu di kediaman Jeanandra terlihat Amon tengah menggerutu karena Jeanandra tak memberitahu dimana dia berada.
"Papi dimana putraku? Kenapa dia tak pulang semalaman?"
Tiba-tiba suara sang istri mengagetkannya dari balik badannya.
"Astaga, sayang, kau mengagetkanku."
Amon mengusap dadanya jarene terkejut dengan kehadiran Arra yang tiba tiba.
Arra langsung tersenyum lebar melihat itu.
"Jeanandra menginap diluar, tapi bukannya dia terbiasa tak pulang kesini. Kenapa kau lupa?"
"Lah iya ya, hehehe..... maaf Papi, aku benar benar lupa. Biasanya dia akan mengabariku jika tak pulang. Tapi sejak semalam ponselnya tak bisa dihubungi."
Belum sempat Amon menyahut lagi terdengar suara deru mobil diluar kediaman mereka.
Sebuah mobil sport mewah terparkir di depan pintu yang membuat Amon dan Arra saling pandang
"Papi, Mami, aku pulang!"
"Tumben mencariku, ada apa? Biasanya juga tak ingat padaku." celetuk Jeanandra setelah sampai di depan orang tuanya.
Plak.....
"Aduh....." Ringis Jeanandra.
"Ck, anak pulang bukannya di sayang malah di pukul dasar Papi durhaka!" celetuk Jeanandra asal.
Amon yang kesal ingin sekali menendang putranya itu tapi suara Arra menghentikan perdebatan anak dan ayah itu.
"Sudahlah, jangan berdebat terus. Jadi katakan pada Mamu, kau menginap dimana semalam?"
"Ini semua gara gara Papi, rekan kerja Papi ingin menjebakku. Mereka memasukkan obat ke dalam minumanku. Tapi aku berhasil kabur dari sana. Lalu aku tak sengaja masuk ke dalam sebuah kamar karena obatnya mulai bereaksi dan aku juga tak tahan....."
Amon dan Arra menunggu apa yang ingin dikatakan selanjutnya oleh Jeanandra. Mereka sudah menatap tajam pada Jeanandra yang terlihat salah tingkah.
"Kok rasanya aneh, Papi dan Mami kenapa jadi menyeramkan seperti ini?" batin Jeanandra.
"Itu.... Itu... Papi, Mami.... aduh.... bingung mau bicara nya."
"Itu apa Jean? Bicara yang jelas sama Mami!" omel Arra.
"Gara gara obat itu, tak sengaja aku tidur bersama seorang perempuan yang tak aku kenal. Mphhh......"
Jeanandra langsung menutup mulutnya karena kelepasan bicara
" s**t, mati aku. Kelepasan bicara!" batin Jeanandra.
"APA....??"
To Be Continued....