Kalimat itu menggantung seperti hukuman. Mika yang berdiri di belakang Ferdi hanya menatap sinis tanpa berkata apa-apa. Lalu mereka berdua keluar dari kamar. Brak. Pintu ditutup keras. Ruangan kembali sunyi. Selena berdiri diam di tempat. Air matanya jatuh tanpa suara. Tubuhnya terasa lemas. Ia perlahan duduk di tepi ranjang sambil memegang ponselnya erat. Pikirannya kembali pada panggilan tadi malam. Suara Julian.Tawaran itu.Pernikahan kontrak. Selena menatap kosong ke depan. “Apakah aku harus menikah dengan Pak Julian…?” Suaranya lirih, hampir seperti bisikan. “Ini… satu-satunya cara agar aku bisa lepas dari mereka semua…” Pagi hari. Seperti biasa, Selena sudah bangun lebih awal dari semua orang di rumah itu. Ia menyiapkan sarapan, mencuci piring, menyapu lantai, dan me

