Impoten

1403 Words
“Tok tok…” Suara ketukan pintu membangunkan gadis berusia dua puluh satu tahun itu. Selena Marie Foster, seorang yatim piatu yang dulu diangkat anak oleh keluarga pengusaha kaya raya hanya sebagai pancingan agar mereka segera memiliki anak kandung. Namun setelah mereka memiliki anak sendiri, Selena tak lagi dianggap. Ia justru dijadikan pembantu di rumah itu, seolah hidupnya hanya untuk membayar hutang budi. “Iya, Mah…” ucap Selena pelan sambil membuka pintu kamarnya. Di depan pintu, Mika sudah berdiri dengan wajah kesal. “Kamu kenapa jam segini belum bangun? Cepat siap-siap! Pak Ardan sebentar lagi datang,” kata Mika dengan nada memerintah. Selena menunduk, lalu memberanikan diri berkata, “Aku nggak mau dijodohkan sama pria beristri itu, Mah…” Mika langsung melotot tajam. “Kamu mau bayarin hutang kami, hah? Gaji kamu yang cuma jadi karyawan magang itu nggak cukup buat membiayai kita sekeluarga! Mama nggak mau hidup miskin, ngerti?” Belum sempat Selena menjawab, Ferdi datang menghampiri. “Kenapa lama banget? Cuma manggil Selena aja sampai sekarang belum siap-siap? Sana mandi, dandan yang cantik! Mama dan Papa tunggu di ruang tamu jangan bikin malu,” bentak Ferdi. Selena menggenggam erat ujung bajunya. “Tapi, Pa…” “Jangan membantah!” potong Mika dengan suara tinggi. “Kamu harus balas budi sama kami! Karena kami, kamu bisa merasakan punya orang tua lengkap. Kalau bukan karena kami, kamu masih hidup di panti asuhan!” Ucapan itu seperti pisau yang menusuk hati Selena. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu perlahan. Air matanya jatuh begitu saja. “Kenapa… Kenapa Tuhan mengambil Mama dan Papa kandungku secepat itu? Aku cuma ingin keluarga yang benar-benar menyayangiku…” Tangannya gemetar saat memegang ponsel. Tiba-tiba… Ponselnya berdering. Selena mengusap air matanya lalu mengangkat telepon itu. “Halo, selamat siang. Kami dari Rumah Sakit Permata Medika ingin memberitahukan bahwa untuk program bayi tabung Anda, kami sudah mendapatkan donor s****a yang cocok. Mohon untuk segera datang ke rumah sakit.” Mata Selena membesar. “Baik, Sus… saya segera ke sana.” Telepon ditutup. Selena terdiam cukup lama. Diam-diam, ia memang menjalani program bayi tabung menggunakan gajinya yang sedikit demi sedikit ia sisihkan. Itu adalah satu-satunya jalan yang ia pikirkan agar dirinya tidak dijadikan jaminan hutang. Jika ia hamil… Setidaknya ia bisa memiliki seseorang yang benar-benar menjadi keluarganya. Seseorang yang akan mencintainya tanpa syarat. Selena menarik napas panjang, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat, matanya sembab karena tangisan, tetapi di dalam hatinya mulai tumbuh keberanian. “Aku harus pergi… ini satu-satunya jalan.” Dengan cepat ia ganti pakaian lalu mengambil tas kecilnya, memasukkan dompet dan beberapa berkas penting, lalu keluar kamar seolah hendak bersiap menemui Pak Ardan. Di ruang tamu, Mika dan Ferdi sudah duduk bersama seorang pria paruh baya berpenampilan mewah. Perutnya buncit, wajahnya dipenuhi garis usia, namun sorot matanya membuat Selena merasa tidak nyaman. Itulah Pak Ardan. Pria yang ingin dijadikan suaminya. “Ah, ini Selena?” Ardan tersenyum sambil menatapnya dari atas sampai bawah. “Cantik juga. Cocok sekali jadi istri saya.” Selena menahan rasa mual. Mika tersenyum dibuat-buat. “Tentu saja, Pak. Selena ini anak yang penurut.” Ferdi ikut menimpali, “Dia pasti bisa membuat Pak Ardan puas.” Tangan Selena mengepal. “Maaf, Pak… saya harus pergi ke kantor dulu. Ada urusan mendadak.” Mika langsung berdiri. “Selena!” Namun gadis itu sudah melangkah mundur. “Ini penting, Mah. Saya janji akan kembali.” Tanpa menunggu jawaban, Selena segera berlari keluar rumah. “Selena! Kurang ajar kamu!” teriak Ferdi dari dalam. Namun Selena tidak peduli. Ia berlari hingga ke tepi jalan, lalu cepat-cepat menghentikan taksi. “Rumah Sakit Permata Medika, Pak. Cepat, tolong…” Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup keras. Namun lebih dari itu, ia takut jika hidupnya benar-benar akan berakhir bersama pria seperti Ardan. Sesampainya di rumah sakit, Selena langsung menuju bagian fertilitas. Seorang perawat menyambutnya. “Nona Selena Marie Foster?” “Iya, saya.” “Silakan ikut saya. Dokter sudah menunggu.” Selena mengikuti perawat itu menyusuri lorong rumah sakit yang panjang. Pikirannya masih dipenuhi rasa takut dan cemas hingga tanpa sengaja. Bruk! Tubuhnya menabrak seseorang. Karena kehilangan keseimbangan, Selena hampir terjatuh, namun dengan sigap seorang pria menahan pinggangnya. Selena membelalak. Jantungnya berdetak sangat kencang. Pria di hadapannya begitu tampan, wajahnya tegas, sorot matanya dingin namun memikat, benar-benar seperti pahatan dewa Yunani. “Astaga… pria ini sangat tampan…” batin Selena gugup. Sementara itu, Julian yang menahan tubuh Selena juga terdiam sejenak. Ada sesuatu yang aneh. Saat mata mereka saling bertemu, dadanya bergetar dengan perasaan yang sudah lama mati. “Kenapa jantungku berdebar seperti ini…? Kenapa dibawah sana seperti ada yang berdiri setelah sekian lama…” batin Julian. Selena yang masih berada dalam pelukan Julian tiba-tiba merasakan sesuatu yang mengganjal. Matanya sedikit menyipit. “Apa ini…? Kok ada yang mengganjal?” batinnya bingung. Belum sempat ia memahami situasi itu. “Lepasin cewek ini, Julian!” Suara Chintya memecah suasana. Ia langsung menarik lengan Julian dengan wajah tidak suka. Julian pun melepaskan Selena perlahan, lalu kembali memasang ekspresi dinginnya. “Kamu kalau jalan, lihat-lihat,” ucap Julian datar. Selena yang tadinya gugup langsung mengerutkan kening. “Bapak yang nabrak saya, kenapa malah saya yang disalahkan?” Julian menatapnya tajam. “Berani sekali kamu menatap saya seperti itu.” Selena menegakkan tubuhnya. “Memangnya kenapa? Saya hanya membela diri.” Suasana mulai memanas. Untungnya, perawat tadi datang menghampiri. “Permisi, Nona Selena. Dokter sudah menunggu.” Selena langsung mengalihkan pandangan. “Baik, Sus.” Sebelum pergi, ia sempat melirik Julian sekali lagi.Entah kenapa, tatapan pria itu sulit ia lupakan. Selena pun berjalan pergi mengikuti perawat. Chintya memeluk lengan Julian dengan posesif. “Ayo, jangan dengarkan perempuan aneh itu. Dokter juga sudah menunggu kita.” Julian tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada punggung Selena yang semakin menjauh. Entah mengapa… ia merasa baru saja melewatkan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Di sana, seorang dokter wanita tersenyum ramah. “Selamat siang, Nona Selena. Kami sudah menemukan donor yang sangat cocok dengan kondisi Anda. Proses implantasi bisa dilakukan hari ini jika Anda siap.” Selena menelan ludah. “Apakah… donor itu sehat?” Dokter mengangguk. “Sangat sehat. Profil genetiknya juga sangat baik. Anda tidak perlu khawatir.” Yang tidak Selena tahu… Di lantai atas rumah sakit yang sama, seorang pria tampan dengan wajah dingin baru saja keluar dari ruang dokter khusus. Julian Alexander Kingsley.Seorang pewaris tunggal keluarga konglomerat Kingsley Group. Kaya, berkuasa, dan terkenal karena ketampanannya. Namun ada satu rahasia besar yang selama ini disembunyikan Julian Ia spermanya lemah jadi sangat kecil untuk memiliki keturunan. Sejak kecelakaan mobil beberapa tahun lalu, membuatnya divonis impoten. Karena itulah keluarga besar Kingsley terus menekan Julian agar segera mencari cara untuk mendapatkan pewaris. Di ruang konsultasi VIP Rumah Sakit Permata Medika, Dokter Robert sedang memeriksa berkas medis Julian. “Secara medis, Tuan Julian masih memiliki peluang, meskipun sangat kecil. Karena itu, hari ini kami akan melakukan prosedur penyimpanan dan persiapan sampel untuk program kehamilan Bu Chintya,” jelas Dokter Robert dengan profesional. Julian duduk dengan wajah dingin. “Pastikan Chintya bisa mengandung anak saya,” ucapnya tegas. Dokter Robert mengangguk. “Tentu, Tuan Muda Julian. Kami akan melakukan prosedur ini dengan sangat hati-hati.” Di samping Julian, Chintya tersenyum lembut sambil menggenggam lengannya. “Kamu tenang saja, Julian. Aku pasti bisa memberikan keturunan untuk keluarga Kingsley.” Namun di balik senyumnya, Chintya menyimpan rahasia besar. Dalam hatinya, ia tersenyum licik. “Kamu tidak tahu saja… sebenarnya aku sudah hamil lebih dulu. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya besar keluarga Kingsley.” Seorang perawat masuk sambil membawa dokumen. “Permisi, Tuan Julian. Silakan ikut saya ke ruang pengambilan sampel.” Julian berdiri tanpa banyak bicara lalu mengikuti perawat itu. Beberapa saat kemudian, setelah proses selesai, perawat kembali menghampiri. “Tuan Muda, Anda bisa menunggu kembali di ruang dokter. Sampel akan segera kami proses untuk prosedur selanjutnya pada Nona Chintya.” Julian mengangguk singkat. “Baik.” Ia lalu berjalan kembali menuju ruang konsultasi. Sementara itu, di bagian laboratorium fertilitas, suasana sedang cukup sibuk. Seorang perawat baru yang terlihat gugup membawa dua wadah sampel berbeda menuju ruang tindakan. Di tangannya ada label: — Untuk Nona Chintya Wilson — Untuk Nona Selena Marie Foster Karena terburu-buru dan salah membaca kode pasien, perawat itu tanpa sadar menukar kedua sampel tersebut. Sampel milik Julian Alexander Kingsley… justru dibawa ke ruang tindakan Selena. Sedangkan sampel donor anonim yang seharusnya untuk Selena… dibawa masuk ke ruang Chintya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD