6. Malam Pengantin

1361 Words
"Akh! Kubunuh kau kalo berani cium aku!” pekik frustrasi Viona di dalam hati. Viona memejamkan matanya kian rapat saat wajah Robin terasa semakin mendekat padanya. Napas panas pria yang baru saja sah menjadi suaminya itu juga sudah bisa dia rasakan dengan jelas di kulit wajahnya. Kening Viona mengerut. Dia panik, tak ingin disentuh oleh pria yang paling dia benci di dunia ini. “Halo.” Viona mendengar suara seseorang menerima telepon. Dia membuka sebelah matanya, mengintip apa yang terjadi. Ternyata karena terlalu tegang, dia sampai tidak menyadari kalau ternyata Robin sudah sedikit menjauh untuk menerima telepon. Napas Viona yang tadinya terasa sesak, kini bisa mendapat asupan oksigen lagi ke paru-parunya. Viona melihat Robin tampak bicara dengan seseorang di telepon dengan mimik sangat serius. “Telepon dari siapa sih? Serius amat mukanya,” gumam Viona sendirian. Tak mengerti dengan apa yang dibahas suaminya karena suaranya tidak terlalu jelas, Viona memilih meninggalkan kamar untuk berganti pakaian. Dia tidak sudi ganti baju di depan Robin. “Aduh, susah amat sih,” keluh Viona kesal saat tangannya tidak mampu menjangkau resleting baju pengantinnya yang ada di punggungnya. “Kalo gak bisa itu minta tolong dong, Sayang,” ucap Robin yang tiba-tiba muncul. Viona segera berbalik. Wajahnya kembali panik, saat menatap senyum memuakkan itu. Senyum playboy tukang m***m itu hadir lagi di hadapan Viona. Persis seperti citra Robin yang dia dengar tapi selalu berhasil di bantah oleh pria itu. Viona semakin gugup, saat dia melihat Robin melangkah semakin dekat ke arahnya. “b******k! Mau ngapain lagi dia!” ucap Viona penuh kewaspadaan sambil memegangi gaun pengantinnya agar tidak jatuh. Robin tersenyum pada istrinya. Dia yang selama ini mengenal Viona adalah seorang yang penuh percaya diri di depan umum, ternyata bisa sangat gugup jika hanya berduaan dengan pria. Hal ini membuat Robin gemas karena istrinya tampak lucu. “Sini aku bantu buka,” lanjut Robin lagi. “Gak! Gak usah!” tolak Viona tegas. Robin tersenyum tipis. “Gak papa. Sama suami sendiri gak usah malu. Kayak sama siapa aja.” “Gak, gak usah. Ak—“ Belum selesai Viona bicara, Robin sudah memegang kedua pundak Viona lalu memutar badan wanita itu. Kini Viona sudah memperlihatkan punggungnya lagi. “Ini tinggi banget. Ntar kalo lenganmu kepelintir malah jadi masalah,” ucap Robin sambil menurunkan resliting baju Viona dengan perlahan. Dada Viona berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia akan memperlihatkan kulit punggungnya pada seorang pria. Sialnya pria itu adalah orang yang dia benci. Satu tangan Viona memegangi baju di bagian d**a, agar baju itu tidak merosot ke bawah. Satu tangan lagi, berpegang pada wastafel, menahan kesal setiap dia mendengar kata-kata Robin. Perlahan-lahan Viona menurunkan resliting itu. Dia menikmati kegugupan Viona dan juga pemandangan kulit putih mulus tanpa cela di hadapnnya. “Sempurna. Kamu pasti perawatan terus ya?” ucap Robin sambil memandangi kulit mulus Viona. “Akh!” Jerit pelan Viona yang terdengar seperti sebuah desahan di telinga Robin, membuat pria itu tersenyum. Dia yang tiba-tiba mencium punggung Viona, berhasil membuat Viona kaget. “Apa yang kamu lakukan, Robin!” bentak spontan Viona saat merasa kecolongan karena Robin mencium punggungnya. Robin tertawa rendah. “Kamu lucu banget sih. Sampe tegang begini,” balas Robin yang tidak menganggap serius reaksi istrinya. Viona memejamkan matanya. Ingin sekali dia berbalik dan menampar pria kurang ajar itu karena telah berani kurang ajar kepadanya. Tapi melihat cincin kawin telah melingkar di jari manisnya, Viona berusaha menahannya. Dia harus berperan sebagai seorang istri yang baik bagi Robin. “Robin, cepat. Aku kebelet pipis,” bohong Viona agar Robin menghentikan kegiatannya di belakang Viona. Robin menegakkan punggungnya. Dia mengusap punggung Viona dengan tangannya sampai membuat tubuh wanita cantik itu bergetar. “Adduuh ... pengen pipis.” Viona menggerakkan kakinya, agar Robin percaya. Robin tersenyum lalu menurunkan semua resliting gaun pengantin istrinya. “Buruan sana. Ntar kamu ngompol,” ucap Robin sambil terkekeh. Setelah tangan Robin lepas dari punggungnya, Viona segera masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Sialnya sebelum dia masuk tadi, tangan nakal Robin berhasil menepuk p****t sintalnya, yang membuat Viona kembali memekik. Robin tergelak ringan melihat aksi istrinya. Dia berbalik dan kembali ke ruang tamu kamar pengantinnya. “Lucu banget dia. Bener-bener kayak kucing mahal. Jutek tapi lucu dan gemesin,” gumam Robin sambil berjalan meninggalkan kamar mandi. Sementara itu, Viona menjatuhkan begitu saja gaunnya di lantai kamar mandi. Dia segera mengusap punggungnya, yang tadi sempat menjadi tempat pendaratan bibir Robin. “Ish! Jijik banget! Ngapain juga dia pake cium aku!” gerutu Viona sambil mengusap punggung dan bokongnya, yang tadi dieksekusi Robin. Viona memutuskan untuk mandi. Setidaknya kalau dia mandi, Robin tidak akan curiga kalau dia menghindarinya. “Viona,” panggil Robin sambil mengetuk pintu. Viona mematikan kran shower. “Apa?” “Vi, aku pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan sekarang.” “Pergi ke mana?” tanya Viona ingin tahu. “Ke galeri.” “Galeri?” gumam Viona pelan. “Hari pernikahan dia gak libur emangnya. Sepenting apa urusan di galeri sampe dia harus ke sana?” ucap Viona dalam hati sambil mengerutkan keningnya. Suara ketukan pintu terdengar lagi. “Sayang, kamu istirahat aja dulu ya. Kamu gak papa kan aku tinggal bentar?” “Gak papa.” “Ya udah, aku pergi dulu.” Tak terdengar lagi suara Robin. Viona kembali menghidupkan shower. Dia berdiri diam di samping air terjun buatan itu. Tangannya bermain dengan air hangat yang terjun dari pancuran. “Ke galeri. Sepenting apa urusannya sampai gak bisa dia wakilkan meski ini hari pernikahannya,” gumam Viona. “Apa yang dia sembunyikan di galeri itu.” Rasa penasaran Viona di kehidupan sebelumnya tentang Robin kembali muncul. Sepertinya, dia benar-benar harus menyelidiki galeri itu, yang telah membuat dia dan adiknya meregang nyawa. “Aku harus segera cari tau. Kalo aku berhasil temukan bukti kebusukan Robin, pasti hubungan dengan keluargaku akan kembali membaik. Iya, aku harus bertindak cepat,” ucap Viona kembali menguatkan tekatnya. Selesai mandi, Viona bingung apa yang ingin dia lakukan sekarang. Sendirian di kamar, membuatnya sangat bosan. Datang ke kamar orang tuanya, sepertinya bukan pilihan baik saat ini. Tentu saja karena hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja. Jadi, pasti dia tidak nyaman bermanja pada orang tuanya. “Aku ke restoran aja lah. Bosen banget di sini,” ucap Viona yang kemudian segera mengambil ponselnya dan keluar dari kamar. Dengan langkah santai, Viona berjalan menuju ke arah lift. Sambil menunggu pintu lift terbuka, dia membaca petunjuk di dinding. Tentu saja restoran naratama yang dia tuju. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Dengan bersemangat, Viona melangkah, tapi sedetik kemudian langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang berdiri di pojok lift yang tadi tak terlihat olehnya. “Sialan! Kenapa ada dia terus sih?! Udah kayak setan aja dia muncul seenaknya,” gerutu Viona saat dia melihat Leon berdiri santai sambil bersandar di dinding besi dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Viona mencoba cuek. Kalau dia tidak masuk, pasti kakak iparnya itu akan menertawakannya. Sialnya lagi, saat akan menekan tombol lift, ternyata tombol itu sudah menyala, yang artinya Leon juga menuju ke tempat yang sama. “s**t!” umpat Viona pelan. Leon yang mendengar umpatan Viona hanya tersenyum tipis. Dia tahu kalau adik iparnya itu sedang kesal kepadanya. Tapi Leon tidak bereaksi. Dia tetap berdiri di belakang Viona, mempertahankan posisinya, sambil sesekali melihat Viona dari pantulan pintu lift. Tak lama kemudian, pintu lift kembali terbuka. Dua orang OB berdiri di depan lift lengkap dengan rak besi besar berisi cucian kotor. Tentu saja Viona jadi bingung. Ingin keluar tidak bisa karena rak itu sudah mulai masuk, tapi kalau dia mundur, dia tidak sudi berdekatan dengan Leon. Belum juga sempat mengambil keputusan, tiba-tiba lengannya ditarik ke belakang. Dan dalam hitungan detik, punggungnya sudah menempel di dinding dingin lift itu. Viona yang masih sedikit gelagapan, kini malah diam, saat dia melihat Leon sudah berdiri di depannya dan menghadapnya. Iya, mereka berhadapan dalam posisi terjepit. Leon menatap Viona. Wajah cantik itu terlihat semakin cantik saat dilihat dalam jarak sedekat ini. Leon mencondongkan badannya ke depan, saat punggungnya menabrak tiang rak saat akan menegakkan tubuhnya. Lagi! Viona kembali dibuat panik oleh kakak beradik ini. “Mau ngapain dia?! Ngapain dia deket-deket!” pekik Viona yang kali ini malah melotot pada Leon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD