5. Pesta Pernikahan

1418 Words
“Si-siapa dia?” gumam Viona dalam hati, mencoba mengenali pria yang dia lihat. Langkah Viona dan papanya semakin mendekati altar pernikahan. Sosok misterius itu makin lama, makin mudah dikenali. “Ck! Orang gak jelas!” gerutu Viona saat dia mengetahui kalau orang itu adalah Leon. Namun anehnya, mata Viona seakan tidak bisa pergi dari sosok pria menyebalkan itu. Penampilan Leon tampak sangat berkarisma, membuat Viona tak mampu mengalihkan pandangannya. Aura Leon terasa sangat mendominasi di ruangan ini. Meski Viona melihatnya di balik tudung tipisnya, tapi dia masih bisa melihat perbedaan itu. Leon menatap Viona. Pengantin cantik itu terlihat luar biasa di depannya. Leon mundur saat Viona kian mendekat, memberikan ruang untuk Robin menyambut pengantinnya. Tapi Leon masih menangkap sorot mata Viona terkadang tertuju ke arahnya. “Mau ngapain lagi dia? Ngapain dia liatin aku?” gumam Leon di dalam batinnya. Robin mengulurkan tangannya, siap menerima pengantinnya dari sang mertua. Tapi Robin malah melihat, wanita cantik itu diam, tak bergeming sedikit pun. “Viona,” panggil Haris pelan sambil menepuk punggung tangan putrinya. Viona sedikit tersentak. Pandangannya beralih pada Robin yang sudah berdiri di depannya dengan senyum yang lebar. Viona menarik paksa kedua sudut bibirnya. Membentuk senyuman indah, saat dia bertemu dengan pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya. Robin mencium punggung tangan Viona. Seketika suara tepukan terdengar di ruang pernikahan itu, membuat suasana yang tadi tegang jadi sedikit mencair. “Kamu cantik sekali, Viona,” puji Robin pelan pada calon istrinya. Viona tidak menjawab. Dia memilih mengajak Robin segera menemui pendeta yang akan menikahkan mereka berdua. Suasana kembali sunyi. Viona dan Robin berdiri berdampingan, mendengarkan petuah pemuka agama yang akan menikahkan mereka. Sesaat kemudian, mereka berdiri saling berhadapan. Wajah Viona yang masih tertutup kain, menatap Robin dengan sangat tajam. Matanya sampai menyipit, menahan kebencian yang menyesaki dadanya. “Semoga kau tidak menyesal menikahiku, Robin. Karena Viona yang kau kenal sudah mati dan kini kau akan bertemu dengan Viona yang baru,” gumam Viona dalam hati sambil mengepalkan tangannya erat-erat setelah semalaman dia membulatkan tekat untuk membalas Robin. “Baik Pak Robin, silakan membuka penutup wajah istrinya dan kalian boleh berciuman,” ucap sang pemimpin acara. Robin kembali tersenyum lebar sambil melihat ke para tamu undangan. Dia seperti sedang memamerkan, kalau wanita cantik yang jadi rebutan itu kini menjadi miliknya. Tangan Robin perlahan memegang kain tipis penutup wajah cantik Viona. Dia menyingkap kain itu, untuk melihat istrinya dan sekaligus memamerkan kecantikan sang istri pada tamu undangan. Robin sangat yakin, saat ini banyak pria yang iri pada dirinya. Viona menatap Robin yang berdiri di depannya. Tatapannya datar, tak ada perasaan bahagia atas pernikahan ini. Robin mendekati istrinya. Dia kemudian menatap bibir kemerahan Viona yang sudah lama dia impikan. “Akhirnya dia jadi milikku. Aku yakin, sebentar lagi aku akan menguasai kota ini. Dan saat semua itu jadi kenyataan, bersiaplah jatuh di tempat terburuk bersama seluruh keluargamu, Viona,” gumam Robin dalam hati yang kemudian segera mencium bibir Viona di depan banyak orang. Suara riuh tepuk tangan dan sorakan terdengar. Viona memanfaatkan hal ini untuk mendorong tubuh Robin, agar menjauh darinya. “Wah, pengantinnya masih malu-malu,” ucap pembawa acara saat melihat Viona menjauhkan diri dari Robin. “Gak papa Pak Robin, ntar yang lama setelah di kamar ya,” ledek pembawa acara yang dijawab Robin dengan senyuman dan acungan jempol. Acara terus berlangsung. Setelah acara pemberkatan selesai, kini saatnya mereka bersantai sambil menikmati hidangan yang telah disediakan keluarga Viona. Semua orang tampak berbahagia atas pernikahan ini. Begitu pun orang tua Viona. Meski hati mereka masih sakit, tapi mereka tetap menyapa para tamu undangan dengan senyum lebar. Viona mencondongkan badannya ke arah Robin yang tengah berbincang dengan salah satu keluarganya. “Robin, aku ke sana dulu. Aku mau nyapa temenku,” bisik Viona pelan. Robin menoleh ke istrinya. “Oh iya, Sayang. Apa perlu aku temenin?” “Gak usah, kamu di sini aja.” Robin mengangguk. “Ok, jangan lama-lama ya.” Viona hanya mengangguk. Dia kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan meja utama. Napasnya sangat sesak di ruangan ini. Dia juga merasa sangat tertekan terus harus tersenyum di depan banyak orang. Tangan Viona menyambar segelas sampanye yang dibawa oleh pelayan. Dia berjalan keluar ruangan, menuju ke taman kecil yang ada di belakang ruang pesta. “Haah.” Viona melepaskan segala rasa sesak di dadanya di taman yang sepi itu. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus. Rasanya lega sekali. Meski ini hanya sesaat, setidaknya ini bisa sedikit membuatnya melepas beban sandiwara yang sedang dia lakukan. Viona meneguk sampanye di tangannya, sedikit menghangatkan tenggorokannya. Pandangannya santai, menikmati pemandangan hijau yang terhambar di hadapannya. “Di mana kamu sekarang, Bi. Aku kangen kamu,” gumam Viona pelan, menyampaikan rindunya pada sang adik lewat embusan angin. “Maafin aku, Bi. Aku tau aku salah, tapi aku harus melakukan ini. Aku harus lakukan ini demi kebaikan kamu. Aku gak mau kam—“ “Demi kebaikan? Kamu yakin itu?” Suara sahutan dari arah belakang, membuat Viona panik dan segera berbalik ke belakang. Seorang pria dengan balutan jas hitam, berdiri santai sambil bersandar di tembok kayu, mengangkat gelasnya ke arah Viona. “Leon,” ucap Viona kaget, karena tiba-tiba Leon ada di sana. “Sejak kapan kamu di sana, hah?” tanya Viona yang takut Leon akan melaporkan semuanya. “Sejak tadi. Bahkan sebelum kamu ke sini,” jawab Leon santai. Leon berjalan santai ke arah Viona. Langkahnya memang terlihat santai, bibirnya pun masih terlihat senyum meski tipis. Tapi sorot matanya sangat tajam, membuat Viona sambil mundur selangkah saat Leon berdiri di depannya. “Apa kamu lagi kangen sama adikmu?” tanya Leon. “Bu-bukan urusanmu!” tegas Viona. Leon menyeringai sebentar. Dia kemudian mencondongkan badannya ke depan, sehingga membuat wajahnya kian mendekat ke Viona. Viona yang ketakutan, hanya bisa menghindar tanpa bisa berlari dari pria itu. Badannya melengkung ke belakang, satu tangannya berpegangan pada kursi taman yang rapat dengan tubuhnya, agar dia tidak terjatuh. Leon tidak peduli saat Viona tampak gugup dan ketakutan. Dia terus maju dan mendekat sampai wajahnya ada di samping wajah pengantin cantik itu. “Apa maksudmu ingin melindungi Bianca? Apa ada yang sedang kamu rencanakan saat ini, Viona?” bisik Leon lirih dengan suara tenang namun terdengar menakutkan bagi Viona. Leon menarik tubuhnya untuk kembali berdiri tegak. Tidak lucu rasanya kalau dia akan membuat Viona pingsan karena dirinya. Viona memberanikan diri menatap Leon. “Apa ... apa maksudmu?” tanya Viona balik. Leon kembali tersenyum. “Gak ada. Cuma nanya aja. Uh, aku laper. Aku masuk dulu.” Tanpa memedulikan Viona lagi, Leon segera pergi meninggalkan Viona. Viona kembali berbalik dan mengembuskan napasnya kasar. Rasanya, berhadapan dengan Leon, dua kali lebih menegangkan dari pada Robin. “Sialan! Siapa sih dia?” Viona mengumpati Leon. “Kayaknya aku harus hati-hati. Kayaknya, dia perlindungan kuat Robin. Aku gak boleh lengah!” ucap Viona memperingatkan dirinya sendiri. ** Tanpa disadari, acara pagi ini telah selesai. Mereka harus bersiap untuk resepsi nanti malam yang pasti akan menyita banyak energi. Robin membawa pengantinnya ke kamar pengantin yang sudah dia persiapkan. Dia sudah tidak sabar ingin berduaan dengan wanita itu. Lain halnya dengan Viona. Wanita cantik itu menjadi sangat gugup. Membayangkan dia akan menyerahkan dirinya pada pria yang dia benci itu, membuat dia marah sendiri pada dirinya. “Gimana kalo dia minta haknya sebagai suami. Aku gak mungkin melayaninya. Liat dia aja enek, apa lagi mau melayaninya. Jijik aku!” geram Viona dalam hati sambil melirik sinis ke Robin yang berdiri di sampingnya. “Ayo, Sayang,” ajak Robin sambil meraih tangan Viona untuk dia gandeng. Viona menarik napas panjang dan dalam. Dia tidak boleh memberontak. Dia tidak boleh terlihat terang-terangan menolak Robin. Bayangan kekejaman Robin masih terus menghantuinya, jadi dia harus berhati-hati. Pasangan itu masuk ke kamar pengantin mereka. Robin dengan lembut menuntun istrinya ke ranjang mereka yang sudah di hias. “Kamu suka sama dekorasinya? Semua aku pesan seperti seleramu. Mewah, elegan dan berkelas,” ucap Robin. Viona mengangguk. “Bagus. Aku suka,” jawab Viona yang mengakui dekorasi kamar pengantin itu sangat bagus. Robin menatap Viona. Tatapan itu membuat Viona tidak nyaman, sehingga dia ikut menoleh. Robin meraih satu tangan Viona lagi. Dia maju selangkah, mendekati pengantinnya. Tiba-tiba saja wajah Robin mendekat ke Viona. Viona langsung panik, karena dia tahu pasti Robin ingin menciumnya lagi. Viona memejamkan matanya rapat-rapat. Tangannya mengepal kuat sambil meremas gaun pengantinnya. Napas Robin yg menerpa kulit wajahnya, membuat napasnya kian memburu. Degup jantungnya juga tidak karuan, tidak ikhlas kalau iblis ini menyentuhnya. "Akh! Kubunuh kau kalo berani cium aku!” pekik frustrasi Viona di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD