8. Malam Pertama

1352 Words
“Apa kau suka?” tanya Leon pelan dengan suara beratnya sambil merapatkan tangannya di pinggang Viona. “Su-suka? Suka apa?” Pikiran Viona mulai menebak-nebak apa yang dimaksud oleh Leon. Pria di depannya ini sedikit misterius tapi menyebalkan. Leon tersenyum saat melihat Viona menggerak-gerakkan badannya. Wanita itu terlihat tidak nyaman saat tangannya memeluk posesif pinggan sang ipar. “Suka sama Robin,” ucap Leon. “Robin? Ten-tentu saja aku suka. Dia kan suamiku,” jawab Viona ketus. Leon menyeringai. “Yang bener?” Nada suaranya sangat meragukan Viona. Leon memajukan wajahnya sampai sejajar dengan telinga Viona. “Tapi matamu bilang enggak lho,” bisik Leon. Mata Viona langsung membulat. Dia langsung mendorong tubuh Leon dan membuat jarak dengan kakak iparnya itu. “Apa maksudmu?!” tanya Viona ketus tapi tetap menjaga suaranya agar tidak terlalu kencang. Leon tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi Viona. Wanita cantik di depannya ini ternyata sangat bodoh soal berbohong. Viona makin panik. Dia menatap Leon sekilas, lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya. Dia tidak menyangka kalau Leon sangat memperhatikan gelagatnya. Viona takut Leon akan mengatakan pada Robin tentang perasaannya. Jika Robin tahu, mungkin saja dia akan bernasib sama seperti adiknya dulu. Robin tiba-tiba muncul. Dia melihat wajah istrinya terlihat sedikit tegang. “Ada apa ini?” tanya Robin. Leon melirik ke adiknya, lalu kembali melihat ke Viona. “Gak papa. Tadi Viona nyariin kamu,” jawab Leon. Viona langsung melihat ke arah Leon. Mimik wajah pria itu berubah total. Sangat datar dan serius, tidak ada lagi mimik penggoda menyebalkan lagi di sana. Robin menoleh ke istrinya. “Ada apa, Sayang?” tanya Robin. Viona menoleh ke suaminya. “Gak. Gak papa kok. Aku cuma agak capek. Duduk yuk,” ajak Viona sambil menggandeng tangan suaminya. “Ayo, Sayang. Kaki kamu pasti sakit ya.” “Sedikit.” Viona hanya menjawab pelan lalu mengajak suaminya pergi dari Leon. Robin membawa istrinya kembali ke pelaminan. Acara resepsi megah ini belum selesai, jadi pasangan pengantin ini harus kembali ke pelaminan. Viona yang masih tidak tenang karena Leon, mempercepat langkahnya agar bisa segera menjauh dari Leon. Viona yang penasaran dengan perubahan mimik Leon tadi, menoleh ke belakang, lewat sela lengan suaminya. Baru menoleh sebentar, Viona langsung kembali melihat ke depan. Dia kaget, saat melihat mata Leon ternyata masih terarah kepadanya. “Buset! Tu orang ngapain sih masih liatin aku?! Awas aja kalo sampe dia bilang yang gak-gak sama Robin. Aku harus cari cara biar dia bungkam!” gerutu Viona dalam hati sambil mencengkeram lengan suaminya. “Ach! Sakit, Vi,” keluh Robin sambil memegang tangan istrinya yang mencengkeramnya. Viona kaget dan langsung mengendurkan tangannya. “Eh maap. Maap,” ucap Viona merasa bersalah. “Kamu kenapa? Aku ada salah?” tanya Robin. Viona buru-buru menggeleng. “Enggak kok. Sorry, aku gak sengaja,” jawab Viona sambil mengusap lengan suaminya, bekas cengkeramannya tadi, lalu diakhiri dengan senyum yang menjadi senjata andalannya. Robin tersenyum tipis. “Lucu banget kamu ini. Udah grogi ya?” ledek Robin. “Grogi? Grogi apa?” Robin membantu istrinya duduk. Dia kemudian mendekat ke telinga istrinya. “Malam pertama sebagai istriku,” bisik Robin penuh percaya diri lalu duduk di samping Viona dengan senyum sok akrab. Wajah Viona menegang. “Malam pertama? Najis aku mau tidur sama setan kayak kamu!” bentak Viona yang sayangnya hanya di dalam hati saja. Wajah kesal itu segera Viona ubah dengan senyum tipis. “I-iya,” jawab Viona sambil menundukkan kepalanya, takut dia kelepasan ingin menghajar suaminya. Robin tertawa melihat reaksi Viona yang terlihat sangat polos. Dia sangat yakin, wanita di sampingnya ini pasti belum pernah melakukan aktivitas dewasa bersama pasangannya. Tentu saja belum. Viona sangat menjaga dirinya selama ini. Dia tidak sembarangan bergaul dan termasuk jarang pacaran. Dia punya standar tinggi untuk menilai pria yang pantas menjadi pendampingnya. Tapi itu sebenarnya hanya alasan saja. Sebenarnya Viona belum menemukan pria yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang saat dia menatapnya. Acara pesta besar itu pun akhirnya berakhir. Satu persatu tamu undangan pergi meninggalkan aula utama hotel. Viona dan Robin turun dari pelaminan. Mereka menemui keluarga dulu, sebelum masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat. “Ayo kita istirahat. Pasti semua lelah. Besok pagi, kita sarapan bersama,” ucap Haris pada keluarga besan dan menantunya. “Robin ikut sarapan juga, Pa?” tanya Robin sambil tersenyum lebar. “Emang kamu mau ngapain?” tanya Sam sambil tertawa. Sam menepuk pundak Robin. “Perlakukan Viona dengan baik. Biar dia makin sayang sama kamu,” ucap Sam berpesan pada keponakannya. “Pasti, Om. Gak usah disuruh pun Robin bakalan perlakukan Viona kayak ratu. Iya kan, Sayang?” tanya Robin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Viona. Viona tersenyum canggung. “Iya. Pasti.” Senyum canggung Viona tertangkap Leon lagi. Pria itu tersenyum tipis, lalu beranjak pergi meninggalkan rombongan keluarga lebih dulu. “Terus aja sandiwara. Pasti yang kamu inginkan sangat besar sampai kamu rela korbankan adikmu sendiri,” gumam Leon bermonolog sendiri. “Uang. Kekayaan. Ato mungkin ....” Leon menghentikan langkahnya. Leon menoleh ke Viona yang berjalan bersama adiknya dan seluruh anggota keluarga. “Kematian Robin. Apa ini yang dia inginkan? Tapi ... tapi kenapa?” ucap Leon dalam hati sambil terus melihat ke arah Viona yang melintas di depannya. Viona melihat ke arah Leon yang sedang melihatnya juga. Namun kali ini tatapan pria itu sangat berbeda dari biasanya. Kalau biasanya Leon menatapnya seperti sedang mempermainkannya, kini tatapan itu tampak sangat tajam. Mimik wajah Leon juga sangat serius, seperti orang yang sedang marah. “Ih, ngapain dia ngeliatin aku kayak gitu. Gak jelas banget!” gumam Viona dalam hati yang tetap melenggang santai melewati Leon. Leon masih tetap berdiri di tempatnya. Dia terus melihat punggung Viona sambil mengikutinya dari belakang. Pikiran Leon terus berputar mencari jawaban yang masuk akal tentang maksud Viona melakukan semua ini. Leon yang tadinya sempat berpikir pernikahan ini untuk memperkuat kedudukan Haris di pemilihan gubernur berikutnya, kini mulai goyah. Sepertinya ada alasan yang lebih kuat yang mendasari tindakan Viona. “Aku harus cari tahu. Aku harus cari tau apa yang dia rencanakan sebenarnya,” gumam Leon pelan. Satu demi satu orang di dalam lift sudah keluar. Kini hanya tinggal Viona dan Robin yang akan menuju ke kamar mereka. Robin menoleh ke istrinya. Dia meraih tangan istrinya, tidak sabar menikmati madu milik Viona yang sudah sangat dia nantikan. Viona tak berani menatap balik. Dia memilih berpura-pura santai, padahal dirinya sedang ketakutan. Takut kalau Robin akan menuntut haknya. Sedangkan dia tidak sudi melayani Robin di ranjang. Pasangan pengantin baru itu tiba di kamar. Robin membawa istrinya ke sofa, di mana di atas meja sudah disiapkan wine, untuk menemani malam pertama mereka. Robin menuangkan wine itu ke dalam gelas, lalu memberikan satu gelas untuk istrinya. Robin mengangkat gelasnya. “Untuk kebahagiaan kita,” ucap Robin sambil mendentingkan gelasnya ke bibir gelas Viona. Pasangan itu pun meminum wine mereka. Senyum mereka merekah, sudah seperti pasangan yang benar-benar bahagia. Robin mendekat ke Viona. Satu kecupan mendarat di pipi Viona yang membuat tubuh Viona refleks bergetar. Robin tergelak ringan. “Kamu kenapa?” tanya Robin yang melihat reaksi Viona. Viona tersenyum malu. “Gak, gak papa,” jawab Viona pelan sambil menunduk malu. Robin semakin gemas melihat istrinya. Dia kemudian mencium pundak Viona yang tertutup kain tipis di gaun pengantinnya. Viona tidak berani menolak. Dia menutup rapat-rapat matanya, menahan rasa jijik setiap bibir Robin mengecup pundaknya. Viona menggeliat saat Robin menyasar leher dan telinganya. Alih-alih gairahnya naik, dia justru ingin mendorong tubuh Robin dan menamparnya karena berani melecehkanya. Napas Robin mendarat di telinga Viona. Badan Viona kembali bergetar, risih dengan perlakuan Robin. “Sayang,” bisik Robin pelan di telinga Viona. Tubuh Viona meremang. Daerah sensitifnya dirangsang. Robin yang sudah berhasrat pada istrinya, menurunkan sedikit demi sedikit resliting gaun Viona. Dia sudah tidak sabar ingin menikmati madu yang sudah dia impikan sejak tadi. Viona tak berani menolak. Hanya bisa menahan napasnya dan memejamkan matanya erat menahan rasa jijik setiap bibir Robin menyentuh kulitnya. Alih-alih hasratnya naik, dia justru ingin mendorong dan menampar pria yang berani melecehkannya. Napas Robin kembali mendarat di punggung atas Viona. Tubuh Viona kembali bergetar, risih dengan perlakuan suaminya. “Robin!” pekik Viona dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD