"Ah, sempurna.”
“Mari kita nikmati malam ini. Aku akan membuatmu menjerit, Sayang.”
Satu kecupan basah mendarat di punggung Viona bersama pujian Robin.
Hasrat Robin naik tinggi. Kulit mulus Viona menggodanya, membuatnya ingin segera melucuti wanita dalam kuasanya itu.
Tubuh Viona semakin mengerut. Jejak basah di ciuman Robin, membuatnya ingin menangis karena hampir tak sanggup menahan jijik.
"Rileks, Sayang. Jangan tegang. Nikmati saja, hem," bisik Robin membujuk Viona agar ikut menikmatinya.
Tangan Robin semakin berani menyusuri tubuh Viona. Tak cukup menikmati punggung Viona, kini tangan kurang ajar itu mulai berani mengusap perutnya.
Mual seketika melanda. Ingin muntah rasanya saat tangan Robin di perut Viona, yang lebih terasa seperti sedang mengaduk isi perutnya.
“s**t!” umpat Robin tiba-tiba, saat dia merasakan pahanya bergetar.
Dengan sangat terpaksa, dia melepas Viona dan mengambil ponselnya. Viona memanfaatkan itu untuk membenarkan gaunnya yang sudah hampir melorot dan membuat jarak dengan Robin.
“Halo!” sentak Robin pada sang asisten saat menerima telepon.
Raut wajah Robin kian mengetat saat mendengarkan si penelepon. Tentu saja ini menarik perhatian Viona.
Mimik wajah kesal itu kini berubah jadi amarah. Sepertinya terjadi sesuatu yang besar.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Viona pelan, ingin tahu.
Robin mengakhiri panggilan teleponnya lalu menatap Viona. "Maaf Sayang, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan!"
"Per-pergi? Kamu mau ke mana?" tanya Viona kaget.
Robin tidak menjawab. Dia berdiri sambil melepas jasnya dan menggantinya dengan jaket.
Viona yang penasaran tentang isi telepon itu, hanya bisa melihat apa yang dilakukan Robin. Wajah Robin yang terlihat sangat tegang, membuat Viona semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.
“Pasti terjadi sesuatu yang penting. Aku harus ikuti Robin,” ucap Viona yang bertekad untuk mulai menyelidiki suaminya.
Saat Robin membersihkan wajahnya dari riasan pengantinnya, Viona memakai celana panjang, di balik gaun pengantinnya. Dia harus siap pergi, membuntuti mobil Robin.
Setelah selesai membersihkan wajah, Robin segera berpamitan ke Viona. Wajahnya masih tegang, meski dia masih sempat mengecup kening Viona.
“Aku anter ya,” ucap Viona manja.
“Gak usah. Kamu istirahat aja,” tolak Robin.
“Gak mau. Aku anter sampe lift ya.”
Robin mengangguk. “Ok, ayo.”
Tentu saja Viona harus mengantar ke lift, agar dia tidak tertinggal jauh saat membuntuti.
Viona sengaja menekan tombol di dua lift. Agar kedua lift itu menuju ke arahnya.
Satu pintu lift terbuka. Robin langsung masuk ke dalam lift dan membalas lambaian tangan sang istri.
Viona mendongak ke petunjuk lift, melihat ke mana lift Robin bergerak.
“Turun. Berarti ke lobi!”
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Viona langsung masuk ke dalam lift sebelah yang telah sampai. Dia menekan tombol lobi, tempat yang dituju suaminya.
Di dalam hati, Viona berharap agar Robin sampai lebih dulu di lobi. Semua akan berantakan kalau dia sampai lebih dulu dan Robin memergokinya.
Pintu lift Viona terbuka. Dia berjalan cepat, sambil menempel di dekat dinding, mencoba mengintip ke arah pintu lobi.
Tidak tampak. Viona sedikit maju ke depan agar pandangannya lebih jelas.
Tapi baru sedetik saja dia melihat, Viona kembali sembunyi di balik dinding.
“Sial! Kenapa dia di sana?” geram Viona yang kembali bersembunyi.
Viona menarik napas dalam dan mengembuskannya. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, yang kaget melihat ada Leon di sana bersama suaminya.
Setelah tenang, Viona kembali mengintip. Dia melihat Robin dan Leon berbincang, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
“Hmm ... ternyata mereka bener-bener sama aja. Pasti Leon itu juga anteknya Robin,” gerutu Viona sambil terus mengintip.
Tanpa Viona sadari, ternyata Leon sempat melihat kehadirannya di lobi sebelum dia masuk ke dalam mobil.
“Ngapain dia di situ? Apa dia merajuk karena di tinggal,” gumam Leon dalam hati.
“Harusnya kamu di sini aja. Kasian Viona,” ucap Leon sambil memasang sabuk pengamannya.
“Gak. Aku harus cek sendiri seberapa parah kerusakannya,” jawab Robin.
“Tapi kan kasian Viona. Kenapa gak kamu ajak aja?”
“Dia capek. Tadi udah mau tidur.”
Jawaban yang diberikan Robin, membuat Leon menoleh ke adiknya. Jawaban yang sangat tidak sesuai dengan kenyataan.
“Udah siap tidur? Trus yang tadi ngintip di lobi siapa?” gumam Leon dalam hati.
Leon kembali berpaling dari adiknya. Dia tersenyum sendiri, menatap kelamnya malam.
“Sepertinya ini semakin menarik. Viona pasti menargetkan Robin. Apa dia sedang mencari sesuatu?” ucap Leon dalam hati.
“Ok, mari kita liat. Apa yang diinginkan wanita itu,” lanjut Leon.
Leon semakin tertarik pada Viona. Bukan dengan sosoknya, tapi pada sikap misteriusnya yang terlihat lucu di matanya beberapa hari ini.
Leon ingin menyusun kepingan puzzle yang diberikan Viona sejak beberapa hari lalu yang membuatnya penasaran. Dia ingin tahu semuanya.
Sementara itu Viona yang sudah siap mengikuti Robin, akhirnya mengurungkan niatnya. Melihat ada Leon di sana, dia memilih mundur.
Viona merasa hidupnya sial setiap bertemu dengan pria itu. Pria yang muncul tiba-tiba dan selalu membuatnya kesal.
“Aku harus menundanya sekarang. Lain kali gak akan aku lepaskan lagi,” gumam Viona sambil melangkah menuju kamarnya lagi dengan rasa kesal.
Viona ingin segera tidur. Badannya sudah lelah, setelah seharian dia sibuk dengan pernikahannya.
Sementara itu mobil yang dinaiki Robin dan Leon, melaju memecah heningnya malam menuju ke galeri. Mereka mendapat kabar kalau gudang galeri terbakar.
Meski sudah mendapat kabar kalau kerusakan tidak terlalu parah, tapi para pemiliknya ingin melihatnya langsung.
Leon sebenarnya adalah seorang pengusaha. Pengusaha kelas menengah, meneruskan usaha milik keluarga.
Setelah usaha Robin di kota semakin besar, Robin meminta kakaknya untuk mengurusi bisnis perhiasan yang telah dirintis Robin sejak dulu.
Robin yang juga memiliki sebuah galeri seni, memilih untuk konsentrasi pada galerinya saja. Dia tidak mampu mengatasi keduanya, karena sekarang kedua perusahaannya sedang sangat populer.
Mobil berhenti di depan galeri. Penjaga yang melihat mobil Robin, langsung mendatangi mobil itu, bersiap menyambut sang pemilik.
Dani, asisten pribadi Robin langsung menyambut kedatangan atasannya. Dia membuka pintu mobil untuk Robin.
“Selamat malam, Pak,” sapa Dani.
“Bagian mana yang terbakar?” tanya Robin sambil berjalan masuk ke dalam galeri.
“Di gudang, Pak.”
“Sudah tau apa penyebabnya?” tanya Leon yang juga ikut masuk ke galeri.
“Sepertinya konslet, Pak. Tadi kata penjaga, lampu galeri sempat mati sebentar. Setelah diperiksa, ternyata sekering di gudang ada yang terbakar.
“Apa sampe merembet ke barang yang ada di gudang?” tanya Leon.
“Ada beberapa, Pak. Ada beberapa lukisan juga.”
Mendengar laporan Dani, Robin mendadak menghentikan langkahnya menuju ke gudang bawah. Tatapannya lurus dan tajam ke arah Dani.
Leon yang ada di belakang Robin dan sedikit di atas karena mereka ada di tangga, melihat perubahan wajah Robin yang terlihat sedikit janggal. Hanya untuk barang bekas yang sudah tidak terpakai, mimik yang dipasang terlalu serius.
Dani yang mengerti apa maksud atasannya, segera mengangguk. “Barang kita aman, Pak,” lapor Dani.
Robin terlihat puas dengan jawaban bawahannya. Dia menarik napas dalam, lalu melanjutkan langkahnya.
Tapi tidak dengan Leon. Pria itu masih tetap diam, dan melihat ke arah Robin dan Dani.
“Barang kita? Apa maksudnya. Apa ada barang penting di gudang?” tanya Leon bermonolog sendiri.
Berbekal rasa penasaran, Leon pun segera mengikuti ke gudang. Dia ingin melihat barang apa yang adiknya khawatirkan.
“Mana yang terbakar?” tanya Robin sambil mengibaskan tangannya beberapa kali, menghalau sisa asap kebakaran yang menusuk hidungnya.
“Itu, Pak. Sekeringnya di sana.”
Dani mengantar Robin dan Leon menuju ke tempat terjadinya kebakaran. Terlihat di sana dinding gudang menghitam, bekas kebakaran.
Tampaknya kebakaran sedikit besar, karena ada beberapa bagian lukisan yang ikut terbakar di sana.
“Ini gak papa kebakar begini?” tanya Leon sambil memegang lukisan yang terbakar.
“Gak papa. Lagian itu gak laku,” jawab Robin.
“Gak laku? Kenapa masih di simpen di sini? Kenapa gak dibalikin ke senimannya?” tanya Leon lagi.
“Udah aku beli. Jadi ngapain di balikin.”
Robin menoleh ke Dani. “Barang kita mana?”
“Ada di sana, Pak,” jawab Dani yang kemudian langsung memimpin jalan menuju ke sudut gudang yang lain.
Leon masih diam. Dia masih melihat ke lukisan yang rusak itu.
“Lukisan yang udah dibeli. Kalo udah dibeli, ngapain di taroh sini. Lagian ini banyak loh,” gumam Leon pelan.
“Apa ini cara dia bikin galerinya laris padahal dia sendiri yang beli. Tapi kalo ini dia yang beli, berarti dia rugi dong. Sedangkan selama ini Toni gak pernah laporan kalo galeri ini rugi.”
Leon mengerutkan kedua alisnya. “Apa ada yang salah di sini?” gumam Leon sambil menoleh ke adiknya.