Terik matahari siang itu terasa seperti sengatan api yang menembus langsung ke permukaan kulit putih mulus Olivia Yosephine. Keringat dingin bercampur peluh akibat hawa panas terus menetes dari pelipisnya, membuat beberapa helai rambut karamel halus menempel di dahinya yang rapuh. Dengan jemarinya yang gemetar, Olivia mengusap keringat itu berulang kali menggunakan saputangan lusuh yang ia genggam erat.
Langkanhnya melambat saat menyusuri gang sempit menuju kontrakan sederhananya. Sepatu hak tinggi yang sudah menipis solnya itu berbunyi ketukan samar di atas semen jalanan yang retak. Hatinya jauh lebih panas ketimbang cuaca kota hari ini.
Ini sudah kesekian kalinya dalam kurun waktu satu bulan Olivia harus angkat kaki dari tempat kerjanya. Hari ini, ia kembali dipecat secara tidak hormat. Alasannya? Sebuah tuduhan muraahan dan tak berdasar: ia dituduh berusaha merayu sang atasan di kantor periklanan tempat ia baru bekerja selama tiga minggu.
"Sialan... benar-benar pria b******k!" umpat Olivia pelan, suaranya tercekat di tenggorokan yang kering.
Tuduhan itu membuat dadanya bergemuruh oleh rasa murka. Olivia tahu betul bagaimana tatapan liar sang atasan yang terus-menerus menatap tubuhnya dengan penuh nafsu sejak hari pertama ia masuk kerja. Saat pria tua bangkai itu mencoba menyentuh pinggangnya di ruang arsip tadi pagi, Olivia menampar wajahnya dengan keras dan mendorongnya hingga tersungkur. Namun, sebagai balasan atas penolakannya, sang atasan justru memutarbalikkan fakta, berteriak memanggil keamanan, dan menuduh Olivia sebagai wanita penggodanya demi mengamankan bonus bulanan.
Olivia tidak semurah itu. Ia memiliki martabat yang ia jaga mati-matian, bahkan ketika duniia seolah terus-menerus memojokkannya ke sudut paling gelap.
Yang membuat situasi ini semakin ironis adalah fakta tersembunyi yang tak pernah diketahui oleh seorang pun di dunia ini. Olivia Yosephine—seorang wanita berumur 26 tahun yang berstatus janda setelah bercerai dua tahun lalu—sebenarnya masih seorang perawan murni.
Sebuah kenyataan yang terdengar absurd dan konyol bagi siapa pun yang mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang wanita yang pernah menikah selama empat tahun dengan salah satu pria paling kaya, berkuasa, dan tampan di negara ini masih belum tersentuh?
Nama pria itu adalah Vernon Abraham. Pria berusia 34 tahun yang menjadi mimpi buruk sekaligus kenangan paling membekas dalam hidupnya.
Selama empat tahun usia pernikahan mereka dahulu, Vernon yang begitu arogan, dingin, dan mendominasi tidak pernah sekali pun menyentuh Olivia lebih dari sekadar ciuman menuntut di bibir atau pelukan posesif di atas ranjang saat malam hari. Pernikahan mereka berjalan bak sebuah drama formalitas yang dingin. Vernon memperlakukannya seperti pajangan berharga: memanjakannya dengan kemewahan, pakaian mahal, dan perhiasan, tetapi tidak pernah melangkah lebih jauh di atas tempat tidur.
Dahulu, Olivia bahkan sempat berpikir bahwa mantan suaminya itu mengidap disfungsi seksual atau impotensi. Namun, andaikan teori itu benar, bagaimana mungkin setelah perceraian mereka dua tahun lalu, Vernon justru menghebohkan media massa dengan menikah dan bercerai sebanyak enam kali berturut-turut? Enam wanita berbeda telah bertukar posisi di samping pria itu dalam waktu singkat. Berita tentang pesta pernikahan megah dan perceraian kilat Vernon terus menghiasi majalah majalah gaya hidup elit yang tak sengaja Olivia baca di etalase toko.
"Pria gila. Dia memang benar-benar manusia aneh," gumam Olivia seraya menggelengkan kepala, mencoba mengusir wajah tampan rupawan nan dingin milik Vernon dari ingatannya.
---
Olivia akhirnya sampai di depan pintu kayu rumah kontrakannya yang kecil dan bersahaja. Tempat tinggal yang sangat kontras dengan mansion bak istana yang pernah ia tempati sewaktu masih menjadi Nyonya Abraham. Namun, di rumah kecil inilah Olivia merasakan kebebasan, meski harus dibayar dengan perjuangan finansial yang berdarah-darah.
Ia memutar kunci, melangkah masuk ke ruangan berukuran tiga kali empat meter yang berfungsi sekaligus sebagai ruang tamu dan kamar tidur, lalu menutup pintu rapat-rapat. Suasana hening langsung menyambutnya.
Olivia menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas sofa kain yang sudah mulai menipis busanya. Ia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Setelah rasa lelahnya sedikit terobati, ia membukua tas bahu kulit sintesisnya dan mengeluarkan sebuah dompet lipat kecil berwarna hitam.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Olivia membuka dompet tersebut dan menghitung lembaran uang di dalamnya.
Satu, dua, tiga, empat...
Empat lembar uang seratus ribuan. Hanya itu. Empat ratus ribu rupiah.
Itulah seluruh sisa harta yang ia miliki untuk bertahan hidup di kota besar ini. Uang sewa rumah akan jatuh tempo dalam waktu dua minggu, belum lagi biaya makan sehari-hari dan tagihan listrik yang belum terbayar.
"Empat ratus ribu..." cicit Olivia datar, menatap lembaran uang kertas di tangannya dengan tatapan kosong. "Cari di mana lagi pekerjaan baru dalam kondisi seperti ini? Siapa yang mau menerima wanita berstatus janda tanpa surat rekomendasi dari kantor sebelumnya?"
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit plafon rumahnya yang mulai berjamur. Keputusasaan perlahan merayap naik, memeluk hatinya dengan rasa dingin yanbg menyiksa. Olivia memejamkan mata rapat-rapat. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan wajah Vernon Abraham kembali hadir—wajah tegas dengan rahang tajam, mata elang yang mampu menembus jiwa, dan senyum tipis penuh keangkuhan yang selalu berhasil membuat Olivia merasa kerdil.
Olivia tidak tahu bahwa di luar sana, di dalam sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir rapi di ujung gang sempit tempat tinggalnya, sepasang mata elang sedang mengawasinya dari balik kaca gelap. Sepasang mata milik pria yang t
idak pernah benar-benar membiarkannya pergi.