Suasana di dalam ruang kerja megah bertingkat dua milik Vernon Abraham terasa dingin dan pekat, seolah udara di sana terhimpit oleh d******i mutlak sang pemilik rumah. Dinding-dinding kayu mahoni berukir mengapit ruangan tersebut, sementara lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan yang menimpa meja kerja kaca tebal.
Vernon duduk santai di kursi kulit hitamnya. Pria berusia 34 tahun itu mengenakan kemeja putih mahal yang lengannya tergulung hingga ke siku, memperlihatknan pergelangan tangan kekar berhias jam tangan mewah bernilai miliaran rupiah. Wajahnya yang tampan bagaikan pahatan pualam terlihat begitu dingin—rahang tajam yang terkatup rapat, hidung mancung, serta sepasang mata elang beriris cokelat gelap yang sanggup mengintimidasi siapa pun hanya dengan satu tatapan murni.
Di hadapannya, berdiri Marco, kepala pengawal pribadinya, yang menundukkan kepala dalam-dalam. Marco tidak berani menatap langsung sepasang mata majikannya.
"Laporkan," perintah Vernon singkat. Suaranya berat, dalam, dan dipenuhi nada komando yang tak terbantahkan.
"Tuan," ucap Marco dengan suara bergetar pelan. "Tim yang mengawasi Nyonya... maksud saya Miss Olivia, baru saja memberikan laporan terbaru dari lapangan. Hari ini Miss Olivia kembali dipecat dari pekerjaannya di perusahaan periklanan."
Vernon memiringkan kepalanya sedikit. Jemari tangannya yang panjang dan bersih mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca secara teratur. "Dipecat lagi? Ini sudah berapa kali dalam bulan ini?"
"Ini yang ketiga kalinya dalam kurun waktu satu bulan, Tuan," jawab Marco lugas. "Sama seperti tempat-tempat sebelumnya, dia kembali dituduh melakukan pelanggaran etika. Atasannya mengklaim bahwa Miss Olivia mencoba merayu dan menggoda dirinya demi mendapatkan kemudahan posisi serta uang bonus."
Mendengar laporan itu, sudut bibir Vernon terangkat tipis. Bukan senyuman hangat, melainkan sebuah tawa meremehkan yang amat tajam dan sarat akan keangkuhan murni.
"Pfft... hahahaha!"
Tawa dingin Vernon bergema pelan di ruangan yang hening itu. Ia menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulit, menatap langit-langit dengan pandangan yang teramat merendahkan.
"Menggoda?" gumam Vernon dengan nada satir. "Mantan istriku itu... ternyata tetap saja miskin dan menyedihkan. Dituduh merayu atasan murahan hanya demi mempertahankan pekerjaan sampah dengan gaji yang tidak seberapa?"
Vernon menggelengkan kepalanya pelan. Pikiran tentang Olivia Yosephine—wanita berumur 26 tahun yang bercerai darinya dua tahun lalu—selalu berhasil memancing emosi tersendiri dalam dadanya. Olivia yang dahulu begitu keras kepala, menolak seluruh aset harta ganti rugi perceraian serta fasilitas mewah yang ia tawarkan, kini justru berdarah-darah di luar sana. Wanita itu memilih hidup dalam kemiskinan, berganti-ganti pekerjaan, menahan terik matahari hingga mengusir keringat di dahi demi mengumpulkan beberapa lembar uang kertas, hanya untuk mempertahankan harga dirinya yang terlalu tinggi.
Padahal, Vernon tahu betul bagaimana mantan istrinya itu. Olivia tidak semurah itu. Wanita itu bahkan tidak pernah mengerti bagaimana caranya menggoda seorang pria. Yang membuat situasi ini semakin mengelikan bagi Vernon adalah rahasia besar yang tak pernah diketahui oleh siapa pun di dunia luar: Olivia Yosephine, wanita yang sudah pernah menikah dengannya selama empat tahun, masih sepenuhnya perawan murni hingga saat ini.
Dahulu, selama empat tahun pernikahan mereka, Vernon yang begitu arogan, dingin, dan penuh kendali tidak pernah sekali pun menyentuh Olivia lebih dari sekadar ciuman menuntut di bibir atau pelukan posesif saat mereka tidur bersama di atas ranjang. Vernon memperlakukannya bak pajangan eksklusif—memanjakannya dengan barang-barang termahal, namun tidak pernah menuntaskan hubungan suami istri di atas tempat tidur. Olivia bahkan sempat berpikir dan curiga bahwa Vernon mengidap disfungsi seksual atau impotensi.
Namun, teori absurd itu sirna begitu saja ketika setelah perceraian mereka dua tahun lalu, Vernon justru menghebohkan publik dengan menikah dan bercerai sebanyak enam kali berturut-turut! Enam wanita cantik bergantian mengisi posisi di sampingnya, meski pada akhirnya semuanya berakhir dengan perceraian kilat karena tidak ada satu pun dari mereka yang mampu memuaskan ekspektasi sang juragan kaya yang dingin itu.
"Dia berpikir bisa bertahan hidup sendiri di luar sana tanpa namaku," bisik Vernon pada dirinya sendiri. Tawa meremehkannya menghilang, berganti dengan kilatan obsesi yang makin membara di matanya. "Dasar wanita bodoh."
Vernon memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja. Ia baru saja ingin memerintahkan Marco untuk segera bergerak menjalankan rencana penjemputan paksa—menculik Olivia dari kontrakan kecilnya malam ini juga—ketika suara gebrakan pintu utama di lantai bawah mendadak memecahkan ketenangan mansion.
---
BAMMM!
Langkah kaki berhak tinggi berdenting nyaring dan kasar, beradu dengan marmer mahal aula utama. Suara melengking yang sangat dikenal Vernon langsung melayang naik menembus tangga melingkar hingga ke ruang kerjanya.
"VERNON! Di mana kamu, Vernon?!"
Sesosok wanita paruh baya dengan gaya busana serba mencolok melangkah masuk ke dalam ruang kerja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Itu adalah Jeslin Abraham, ibu kandung Vernon. Meski usianya sudah memasuki kepala enam, Jeslin selalu tampil dengan riasan tebal, gaun sutra berwarna terang, dan pemerah bibir berwarna merah menyala yang teroles tebal di bibirnya. Perhiasan berlian melingkari leher dan jemarinya, berkilau mencolok saat ia berjalan dengan langkah-langkah lebar penuh emosi.
"Mana cucuku, Vernon?! Mana?!" teriak Jeslin nyaring, mengabaikan keberadaan Marco yang langsung menunduk makin dalam.
Vernon menghela napas panjang. Pria itu memutar bola matanya malas, mengusir rasa jenuh yang mendadak menusuk kepalanya. Ini adalah drama repetitif yang harus ia dengarkan hampir setiap minggu.
"Bisakah Mama masuk tanpa berteriak seperti sedang di pasar?" tegur Vernon datar tanpa bergeming dari kursinya.
Jeslin berkacak pinggang, napasnya naik turun terengah-engah karena amarah yang memuncak. "Pasar kamu bilang?! Vernon, dengarkan Mama baik-baik! Umur Mama ini sudah memasuki kepala enam! Enam puluh dua tahun! Kamu tahu apa artinya itu?! Di usia seperti ini, jantung atau organ tubuh Mama bisa saja berhenti bekerja kapan saja! Mama bisa tiba-tiba mati mendadak dan tidak sempat menggendong cucu laki-laki penerus darah keluarga Abraham!"
Vernon mengusap wajahnya pelan. Mamanya ini benar-benar terlalu berlebihan. Setiap kali berkunjung, alasannya selalu tentang kematian yang dibuat-buat demi menuntut seorang keturunan.
"Mama tidak akan mati hanya karena belum memegang bayi," sahut Vernon dingin dan santai. "Sabar sebentar. Nanti aku berikan Mama cucu."
"Sabar?! Kamu menyuruh Mama sabar lagi?!" pekik Jeslin dengan suara yang semakin melengking. "Enam kali, Vernon! Enam kali kamu menikah dan menceraikan wanita-wanita itu dalam waktu dua tahun! Semua teman-teman sosialita Mama menertawakan Mama! Mereka bilang putra tunggal keluarga Abraham ini tukang kawin yang tidak becus membuat anak!"
Vernon tidak menanggapi tuduhan itu dengan emosi. Wajahnya tetap tenang dan angkuh. Bagi Vernon, keenam mantan istri pascaperceraiannya dengan Olivia hanyalah wanita-wanita tidak berguna yang mengejar hartanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang pantas melahirkan darah dagingnya. Hanya ada satu wanita yang memenuhi kriterianya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Lagian," lanjut Vernon dengan suara pelan namun penuh penekanan, "wanita yang mau menampung benihku sedang direncanakan untuk dibawa kje rumah ini. Malam ini juga."
Jeslin tertegun sejenak. Bibir merah menyalanya agak terbuka. Namun bukannya senang, Jeslin justru mencibir keras-keras. Ia mengibaskan tangannya di udara dengan raut wajah meremehkan.
"Cih! Jangan memberi janji palsu lagi! Wanita mana lagi yang kamu maksud? Model-model berisik yang cuma bisa menghabiskan uangmu itu?!" Jeslin menghentakkan kakinya keras-keras ke atas lantai marmer, membuat suara *klak!* yang memantul di seluruh ruangan. "Cepat bawa dia ke sini dan hamili dia! Cepat, Vernon! Kalau sampai bulan depan tidak ada kabar kehamilan di mansion ini, Mama akan gantung diri di ruang tengah! Mama tidak bercanda, Mama akan benar-benar gantung diri!"
Mendengar ancaman gantung diri yang konyol itu, Vernon justru bangkit dari kursi kerjanya. Dengan sikap tubuh tegap dan amat santai, pria berhati dingin itu melangkah berjalan melewati ibunya begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Saat posisinya tepat berada di samping Jeslin, Vernon menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbisik dengan nada datar tanpa beban:
"Gantung saja kalau berani, Ma. Gunakan tali yang bagus agar tidak merusak pemandangan ruang tengah."
Jeslin membeku di tempat. Wajahnya berubah dari merah padam menjadi pucat karena terkejut atas jawaban putranya yang teramat tega.
"V-Vernon...!" jerit Jeslin hysteris saat melihat Vernon terus melangkah keluar meninggalkan ruangan. Jeslin kembali menghentakkan kakinya berulang kali seperti anak kecil yang sedang merajuk. "DASAR PUTRA DURHAKA! KAU TUKANG KAWIN b******k! AKU MENGUTUKMU, VERNON! MENGUTUKMU!"
Vernon mengabaikan kutukan dan teriakan ibunya yang bergema di sepanjang koridor. Pria itu mengibaskan tangannya memberi sinyal kepada Marco yang berjalan cepat di belakangnya.
"Lakukan sekarang," perintah Vernon pendek. "Bawa Olivia ke sini sebelum fajar."
"Baik, Tuan."