Bab 04

1479 Words
Malam berganti malam, namun kegelapan yang mengurung Olivia Yosephine terasa seolah tak pernah usai. Dua hari sudah berlalu sejak malam mengerikan di mana ia diculik secara paksa dari rumah kontrakan sederhananya. Dua hari yang penuh dengan keputusasaan, ketakutan, dan rasa tertekan yang menggerogoti jiwanya hingga ke batas terendah. Mansion mewah milik Vernon Abraham—sangkanr emas berornamen klasik Eropa yang dilapisi kemewahan bernilai tak terhingga—kini menjadi penjara tak kasat mata bagi Olivia. Setiap sudut ruangan di kediaman megah ini dijaga ketat oleh puluhan pengawal berjas hitam yang siap menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam. Tidak ada celah. Tidak ada sudut yang tak diawasi. Namun, Olivia bukanlah wanita yang pasrah begitu saja pada nasib muram yang dipaksakan kepadanya. Sejak hari pertama terkurung di kamar utama yang serba mewah itu, Olivia telah berulang kali mencoba meloloskan diri. Ia mencoba menyelinap keluar melalui pintu belakang saat para pelayan berganti giliran tugas, namun langkahnya langsung diadang oleh dua pengawal bertubuh tinggi besar di koridor bawah. Ia mencoba melompati balkon kamar di lantai dua dengan memanfaatkan pilinan kain sprei sutra, tetapi sebelum kakinya sempat menyentuh rumput taman, lampu tembak otomatis langsung menyala dan mengunci posisinya. Setiap usaha pelariannya selalu berakhir dengan kegagalan yang menyakitkan. Malam ini, Olivia kembali mencoba peruntungannya. Jam dinding emas antik di sudut kamar menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana mansion sudah sangat hening. Lampu utama di koridor telah diredupkan, menyisakan pendar keemasan yang remang-remang. Olivia melangkah sangat pelan tanpa alas kaki di atas karpet tebal yang meredam setiap suara langkahnya. Gaun tidur sutra panjang berwarna krem yang membungkus tubuhnya mengayun halus seiring gerak tubuhnya yang penuh kehati-hatian. Dada Olivia berdebar kencang. Ia memegang gagang pintu kayu jati yang tebal dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin. Perlahan, ia memutar gagang pintu itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pintu terbuka beberapa inci. Olivia mengintip ke luar koridor. Suasana tampak kosong. Dua pengawal yang biasanya berdiri di depan pintunya sedang berjalan menjauh di ujung lorong untuk berpatroli. Ini adalah kesempatan terbaiknya. "Aku harus keluar dari tempat gila ini..." bisik Olivia dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan yang kering. "Aku tidak boleh membiarkan pria gila itu menghancurkan hidupku lagi." Dengan napas tertahan, Olivia menyelinap keluar. Ia berjalan menempel pada dinding marmer, memanfaatkan bayang-bayang pilar besar untuk menyembunyikan posisinya. Langkah kakinya membawa dirinya menuju tangga melingkar di sudut lorong barat—jalur alternatif menuju area dapur yang terhubung langsung dengan pintu keluar belakang mansion. Setiap meter yang ia lewati terasa seperti maraton yang menyiksa jantungnya. Keringat dingin terus mengucur di pelipisnya. Olivia berhasil mencaupai puncak tangga melingkar. Di bawah sana, pintu keluar menuju area taman belakang tampak tertutup rapat, namun engselnya tidak terkunci secara penuh. Harapan kecil mulai membara di dalam dadanya. Olivia mempercepat langkahnya, bersiap menuruni anak tangga pertama. Namun, tepat saat jemari kakinya hendak menyentuh undakan kayu mahoni, sebuah tangan berurat tebal yang berhawa dingin merengkuh pergelangan tangannya secara mendadak dari balik pilar! Greb! "Niat pelarian yang gigih, Olivia. Tapi sayang, sangat amat amatir." Suara berat, dingin, dan sarat akan d******i mutlak itu menggelegar tepat di samping telinganya. Cengkeraman tangan di pergelangan tangannya terasa bak jepitan besi yang tak mungkin bisa dilepaskan. Olivia tersentak hebat. Jantungnya serasa melompat keluar dari d**a. Ia menoleh dengan patah-patah dan menemukan Vernon Abraham berdiri tegak di dalam kegelapan lorong. Pria berusia 34 tahun itu mengenakan piama sutra hitam dengan dua kancing atas terbuka, memperlihatkan d**a bidangnya yang kokoh. Sepasang mata elang beriris cokelat gelap milik Vernon menatapnya tajam di bawah pendar remang lampu dinding, memancarkan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk Olivia berdiri. Di bibir tegas pria itu, terukir sebuah seringaian sinis yang teramat merendahkan. "Lepaskan aku, Vernon! Lepas!" jerit Olivia spontan, memukul-mukul lengan tegap mantan suaminya dengan tangan satunya yang bebas. "Lepaskan aku, pria b******k!" Vernon sama sekali tidak terpengaruh oleh pukulan lemah wanita di hadapannya. Tanpa mengeluarkan patah kata pun lagi, Vernon menarik tubuh Olivia ke dalam pelukannya secara paksa. Ia melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang Olivia, menggendong wanita itu seperti membawa sebuah barang ringan, lalu memutar langkahnya kembali menuju kamar utama. "Turunkan aku! Biarkan aku pergi! Aku membencimu, Vernon! Turunkan aku!" teriak Olivia histeris, kakinya menghentak-hentak di udara sembari jemarinya mencakar bahu tegap Vernon. Vernon mengabaikan teriakan dan amukan itu. Langkah kakinya yang lebar dan tenang membawa mereka masuk kembali ke dalam kamar penjara mewah tersebut. Pria itu menendang pintu kayu jati hingga tertutup rapat dengan dentuman keras yang memantul di seluruh ruangan. *BAMMM!* Tanpa sedikit pun kelembutan, Vernon melempar tubuh Olivia ke atas tempat tidur berukuran king-size. Olivia mendarat di atas sprei sutra hitam yang empuk, napasnya naik turun terengah-engah akibat emosi dan ketakutan yang membakar jiwanya. Ia berusaha melompat bangkit untuk berlari menuju pintu, namun Vernon bergerak jauh lebih cepat. Pria itu menindih tubuh Olivia, mengunci kedua pergelangan tangan wanita itu di atas kepala dengan sebelah tangannya yang besar dan kuat. "Lepas! Vernon, kamu gila! Jangan sentuh aku!" tangis Olivia memecah keheningan malam, air mata keputusasaan mulai menetes membasahi pipinya yang mulus. Vernon menyeringai makin lebar. Seringaian dingin yang mempertegas keangkuhan mutlaknya. Pria itu menyusupkan tangan satunya ke dalam saku piamanya dan mengeluarkan sepasang borgol besi mengilap yang biasa digunakan oleh aparat kepolisian. KLIK! Suara dentang logam yang dingin mengunci pergelangan tangan kanan Olivia pada tiang ukiran tembaga di kepala tempat tidur. "A-apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku! Vernon!" jerit Olivia histeris saat menyadari pergelangan tangannya telah terbelenggu secara permanen pada struktur tempat tidur. KLIK! Borgol kedua mengunci pergelangan tangan kirinya di tiang sebelah kiri. Kini, Olivia berbaring terlentang di atas tempat tidur, kedua tangannya terentang ke atas dan terikat kuat oleh borgol logam yang dingin menempel pada kulit mulusnya. Vernon menegakkan tubuhnya, merapikan piama sutra hitamnya yang agak kusut akibat pergumulan singkat tadi. Pria itu menatap Olivia dari atas dengan pandangan puas dan berkuasa—seperti seorang raja yang baru saja menaklukkan wilayah kekuasaan barunya. "Ini jawaban untuk ketidakpatuhanmu, Olivia," ucap Vernon dengan nada suara yang amat tenang, namun terasa sangat kejam. "Dua hari ini aku sudah cukup sabar menonton drama pelarianmu yang konyol. Dan mulai malam ini, kamu tidak akan pernah bisa melangkah satu inci pun keluar dari tempat tidur ini tanpa izinku." "Kamu manusia iblis, Vernon!" umpat Olivia dengan nafas memburu, matanya memerah menahan tangis dan amarah murni. "Kamu tidak berhak mengurungku seperti ini! Kita sudah bercerai dua tahun lalu! DUA TAHUN LALU!" Vernon melangkah mendekat ke tepi tempat tidur. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, menopang berat badannya dengan sebelah tangan di samping kepala Olivia. Jemari tangannya yang panjang mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Olivia dengan gerakan yang terkesan lembut, namun terasa seperti sentuhan ancaman. "Dua tahun lalu hanyalah kesalahan teknis di atas kertas," bisik Vernon dingin, matanya menatap langsung ke dalam manik mata karamel milik Olivia. "Dan kesalahan teknis itu akan segera kuperbaiki." Olivia membeku. Firasat buruk mendadak menyerang seluruh saraf tubuhnya. "A-apa maksudmu?" Vernon menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan d******i. "Seminggu lagi, kita akan menikah kembali," ujar Vernon santai, seolah sedang membicarakan cuaca esok hari. "Seluruh berkas administrasi dan dokumen pernikahan sudah disiapkan oleh pengacaraku. Pernikahan ini akan digelar secara privat di chapel pribadi milik keluarga Abraham di mansion ini." Mata Olivia membelalak sempurna karena terkejut. "Menikah?! Kamu gila! Aku tidak akan pernah mau menikah lagi denganmu! TIDAK AKAN PERNAH!" "Kamu tidak punya pilihan untuk menolak, Olivia," potong Vernon tegas, memangkas jeritan wanita itu. "Aku menginginkan seorang putra dari rahimmu. Dan aku tidak akan pernah membiarkan penerus darah keluarga Abraham lahir sebagai anak di luar pernikahan yang sah. Namaku terlalu berharga untuk cemar oleh status anak haram. Kamu akan kembali menjadi Nyonya Abraham sebelum kamu mengandung benihku." "AKU TIDAK MAU!" jerit Olivia histeris, tubuhnya berontak liar di atas tempat tidur hingga rantai borgol besi memukul-mukul tiang tembaga, menciptakan suara dentang nyaring yang memecah malam. "LELAKI GILA! KAMU b******k! AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGAN MANTAN SUAMI GILA SEPERTIMU! KELUAR! KELUARRR!" Vernon hanya menatap amukan histeris itu dengan ekspresi datar tanpa riak emosi sedikit pun. Ia mengusap pipi Olivia sekali lagi, mengabaikan tatapan kebencian mendalam yang dipancarkan oleh wanita di bawahnya. "Berteriaklah sesukamu sampai suaramu habis, Olivia," bisik Vernon pelan di telinga wanita itu, membuat napas hangatnya menerpa kulit leher Olivia. "Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu dariku. Dalam seminggu, kamu akan kembali menjadi milikku—secara hukum, dan secara utuh di atas tempat tidur ini." Setelah mengucapkan kalimat intimidasi yang dingin itu, Vernon berbalik dan melangkah pergi menuju pintu. Sebelum keluar, pria itu mematikan lampu utama kamar, menenggelamkan ruangan luas itu ke dalam pendar remang lampu dinding yang kelam. Cklek. Pintu terkunci rapat dari luar. Di dalam kamar yang dingin dan megah itu, Olivia menangis terisak-isak di atas tempat tidur. Kedua tangannya yang terborgol terasa ngilu, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa. Ia terjebak. Terjebak dalam sangkar emas milik mantan suaminya yang sangat arogan dan gila kendali. Dan waktu seminggu menuju pernikahan paksa itu terasa seperti hitung mundur menuju kehancuran hidupnya yang sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD