Tujuh hari berlalu bagaikan siksaan lambat yang memutar saraf. Selama seminggu penuh, Olivia tidak pernah diizinkan melangkah keluar dari kamar utama tanpa pengawasan ketat. Borgol besi yang semula mengikat kedua tangannya di tiang tempat tidur baru dilepas saat tim perancang busana, penata rias, dan pengawal pribadi memasuki ruangan atas perintah langsung Vernon Abraham.
Hari yang paling ditakuti Olivia akhirnya tiba. Hari di mana ia harus kembali diikat dalam lingkaran pernikahan bersama pria paling arogan, dingin, dan gila kendali yang pernah ia kenal.
Di dalam kamar rias yang megah, Olivia berdiri kaku di hadapan cermin berukir emas setinggi tubuh. Gaun pengantin berwarna putih bersih membalut tubuh mulusnya dengan sempurna. Gaun berbahan sutra dan organza impor itu dirancanng khusus oleh perancang papan atas—tertutup rapat dari leher hingga pergelangan tangan, tanpa bahu terbuka atau d**a yang terekspos, sesuai dengan standar posesif yang selalu ditetapkan Vernon. Gaun itu tampak sangat murni, sangat elegan, dan memancarkan kemewahan yang tak ternilai.
Namun bagi Olivia, putih bersih gaun itu adalah simbol penghinaan murni. Gaun itu terasa seperti kafan yang membungkus kebebasannya.
"Nyonya tampak sangat anggun," puji salah seorang penata rias dengan suara gemetar, takut salah bicara di depan calon pengantin yang sejak tadi menatap cermin dengan pandangan sekilat es. "Semua persiapan di chapel pribadi sudah selesai. Tuan Vernon sudah menunggu."
Olivia tidak menjawab. Matanya yang berwarna karamel menatap gaun putih bersih di tubuhnya dengan kepulan amarah yang meluap-luap di d**a. Bersih? Murni? Pria duda k*****t yang sudah menikah dan menceraikan enam wanita berbeda itu ingin menggelar pernikahan yang terkesan 'suci' dengannya? Vernon ingin segalanya terlihat sempurna di mata hukum dan keluarganya, sementara hidup Olivia dihancurkan tanpa sisa.
"Kalian semua keluar," perintah Olivia datar, suaranya dingin dan menusuk.
para penata rias dan asisten saling pandang dengan cemas. "Tapi Nyonya, Tuan Vernon memerintahkan kami untuk—"
"AKU BILANG KELUAR!" bentak Olivia histeris, memutar tubuhnya dan menatap mereka dengan mata memerah. "Keluar dari kamarku sekarang sebelum aku menghancurkan seluruh peralatan rias ini!"
Melihat amukan sang calon pengantin, para pekerja itu tidak berani mengambil risiko. Mereka dengan tergesa-gesa membereskan barang-barang mereka dan melangkah keluar, mengunci pintu dari luar untuk memastikan Olivia tidak melarikan diri.
Begitu keheningan kembali menguasai ruangan, napas Olivia memburu. Tangannya gemetar hebat karena emosi murni yang membakar jiwanya. Ia menatap sekeliling meja rias yang luas. Di sudut meja, di antara tumpukan dokumen administrasi pernikahan yang sengaja ditinggalkan oleh pengacara Vernon, terdapat beberapa botol tinta kaligrafi berwarna-warni—merah menyala, biru pekat, dan hijau tua—yang digunakan untuk menandatangani berkas khusus.
Sebuah senyuman satir dan licik terukir di bibir Olivia.
"Kamu ingin pernikahan yang sempurna, Vernon?" bisik Olivia dengan nada sarat kebencian. "Mari kita lihat seberapa sempurna pernikahan ini di matamu."
Tanpa ragu sedikit pun, Olivia menyambar botol tinta warna merah menyala. Ia membuka tutupnya dan dengan gerakan kasar mencipratkan tinta cair itu tepat ke bagian d**a gaun pengantin putihnya yang bersih!
BOH!
Noda merah pekat langsung meresap ke dalam kain sutra mahal, menyebar bagaikan bercak darah yang liar. Belum puas, Olivia mengambil botol tinta biru pekat dan hijau tua. Ia mencelupkan jemarinya dan mencoret-coret bagian rok gaun pengantinnya dengan goresan-goresan kasar, garis-garis abstrak yang berantakan, serta tulisan besar bernada umpatan yang mengotori kain sutra putih tersebut.
Gaun pengantin seharga miliaran rupiah itu kini tampak hancur, bernoda, dan kacau balau—persis seperti perasaan dan harga diri Olivia yang dicabik-cabik oleh Vernon.
Olivia menatap pantulan dirinya di cermin. d**a gaunnya dipenuhi bercak merah, roknya tercoreng warna biru dan hijau yang kontras. Wajahnya tetap cantik dengan riasan halus, namun sorot matanya memancarkan keberanian dan pembangkangan mutlak.
"Biar tahu rasa duda k*****t itu," umpat Olivia pelan, menyapu sisa tinta di tangannya ke bagian belakang gaun.
---
Beberapa menit kemudian, pintu kamar digedor dari luar. Dua pengawal bertubuh kekar melangkah masuk untuk mengawal Olivia menuju chapel pribadi keluarga Abraham yang berada di sayap timur mansion. Para pengawal itu sempat tertegun membeku ketika melihat kondisi gaun pengantin Olivia yang sudah dipenuhi coretan tinta warna-warni, namun mereka tidak berani berkomentar. Tugas mereka hanya satu: memastikan Olivia sampai di depan altar.
Pintu ganda kayu jati chapel yang berukir megah terdorong buka secara perlahan.
Suara denting organ tunggal memainkan nada pernikahan yang sakral. Chapel pribadi itu dihiasi oleh ribuan tangkai mawar putih segar dan lampu kristal gantung yang memancarkan pendar keemasan. Di dalam chapel, hanya ada beberapa saksi penting, termasuk Jeslin Abraham—ibu kandung Vernon yang duduk di barisan depan dengan gaun sutra ungu mencolok, pemerah bibir merah menyala, dan ekspresi wajah yang masih terlihat jengkel akibat perkelahian verbalnya dengan sang putra beberapa hari lalu.
Di ujung lorong chapel, berdiri Vernon Abraham di depan altar.
Pria berumur 34 tahun itu tampak teramat tampan dan gagah dalam balutan tuxedo hitam buatan penjahit ternama Italia. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang tajam dan hidungnya yang mancung sempurna. Pria itu berdiri dengan postur tegap, kedua tangannya terlipat di depan tubuh, menanti kedatangan sang calon pengantin dengan ketenangan yang angkuh.
Olivia melangkah menyusuri lorong altar dengan langkah-langkah yang tegas dan kasar. Tidak ada kelembutan atau keanggunan seorang pengantin pada dirinya. Wajahnya datar sempurna, dipenuhi oleh kebencian murni yang tak berusaha ia sembunyikan sedikit pun. Matanya mengunci sepasang mata elang milik Vernon tanpa rasa takut.
Saat Olivia semakin mendekat ke altar, tatapajn Vernon turun menyusuri gaun pengantin yang dikenakan oleh mantan istrinya itu.
Bercak tinta merah menyala di bagian d**a, coretan biru pekat dan hijau tua yang berantakan di sepanjang rok sutra putih bersih yang tadinya sangat dipuja oleh sang perancang busana. Gaun itu benar-benar hancur oleh aksi vandalisme Olivia.
Jeslin yang duduk di kursi tamu langsung menganga lebar, memegang dadanya dengan telapak tangan yang dipenuhi cincin berlian. "Astaga Tuhan! Apa-apaan wanita itu?! Gaun mahal itu ditumpahi tinta?!" bisik Jeslin histeris pada dirinya sendiri, wajahnya memerah padam karena terkejut.
Namun, reasksi Vernon justru berbanding terbalik.
Bukannya marah, memaki, atau membatalkan prosesi, sudut bibir Vernon justru terangkat tipis. Pria itu menyeringai sinis—sebuah seringaian dingin yang penuh dengan rasa kepemilikan dan kepuasan yang aneh.
"Pfft..."
Sebuah tawa kecil keluar dari tenggorokan Vernon. Tawa rendah yang bergema halus di dalam chapel yang hening. Sepasang mata elangnya berkilat penuh hiburan saat menatap wanita yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya di atas podium altar.
Memang mantan istrinya ini seorang pembangkang sejati. Olivia berpikir bahwa dengan mengotori gaun pengantin putih itu, ia bisa mempermalukan Vernon atau memancing amarahnya hingga pernikahan ini dibatalkan. Namun Olivia lupa dengan siapa ia berhadapan. Bagi Vernon, aksi pemberontakan kecil ini justru membuktikan bahwa Olivia belum berubah—wanita ini tetaplah sosok liar yang menantang dominasinya, dan hal itu hanya semakin menyulut obsesi Vernon untuk menaklukkannya sepenuhnya.
"Aksi lukis yang cukup kreatif, Olivia," bisik Vernon dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, menyeringai makin lebar ke arah gaun berdoda tinta itu. "Tapi warna-warni ini tidak akan mengubah kenyataan bahwa malam ini kamu akan tetap berbaring di bawah tubuhku."
"Tutup mulutmu, duda b******k," balas Olivia dingin, gigi-giginya bergemelutuk menahan murka. "Aku membencimu sampai ke dasar neraka."
Vernon tidak terpengaruh sedikit pun oleh kalimat kejam itu. Pria itu justru mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menyambar telapak tangan Olivia yang dingin lalu menggenggamnya dengan jemari yang saling mengunci secara erat—sebuah genggaman besi yang menandakan bahwa Olivia tidak akan pernah bisa lepas lagi.
Pendeta yang berdiri di depan mereka terbatuk pelan untuk menetralkan ketegangan yang pekat di udara, lalu memulai pembacaan ikrar pernikahan.
Selama prosesi berlangsung, Olivia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan hati yang membeku. Ketika giliran Vernon mengucapkan janji suci, suara berat pria itu terdengar begitu mantap, tanpa ada ragu sedikit pun, mengikat Olivia kembali dalam sangkar hukum yang sah. Dan ketika tiba giliran Olivia, pria itu menatapnya dengan ancaman terselubung di balik mata elangnya, memaksa Olivia untuk menguapkan kata "Saya bersedia" dengan suara parau yang sarat akan rasa kalah.
KLIK.
Cincin pernikahan dari platina berhiaskan berlian langka dilingkarkan secara memaksa ke jari manis Olivia oleh Vernon. Cincin yang terasa begitu berat, mengunci takdirnya kembali sebagai Nyonhya Abraham.
"Selamat datang kembali ke dalam hidupku, istriku," bisik Vernon seraya menundukkan kepala, mendaratkan ciuman menuntut yang dingin dan penuh d******i di atas bibir Olivia di hadapan saksi altar.
Olivia memejamkan mata rapat-rapat, menanhan gejolak mual dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Pernikahan gila ini telah resmi terjadi. Sangkar emas itu kini telah terkunci rapat, dan permainan obsesi Vernon Abraham baru saja dimulai.