Bab 06

1536 Words
Pintu kamar mandi utama terbuka perlahan, mengembunkan uap hangat bercampur aroma minyak kayu cendana dan citrus eksklusif yang memabukkan. Vernon Abraham melangkah keluar hanya dengan balotan jubah mandi sutra hitam yang terikat longgar di pinggangnya. Tetesan air dari rambut hitamnya yang basah jatuh menetes, mengalir di sepanjang garis rahang tegas dan tulang selangkanya yang kokoh. Sepasang mata elang pria berusia 34 tahun itu langsung tertuju tepat ke arah ranjang berukuran king-size di tengah ruangan. Di atas pembaringan yang telah dihiasi sedemikian rupa—lengkap dengan seprei sutra krem bersih dan taburan kelopak mawar merah yang ditata rapi bak kamar pengantin baru yang saling mencintai—Olivia duduk membeku. Gugup menyengat seluruh jemari tangannya yang saling bertaut erat di atas pangkuan. Pakaian tidur sutra menutup rapat yang ia kenakan terasa begitu dingin di kulitnya yang mulus. Jantung Olivia berdegup kencang seperti genderang perang. Dalam hati, ia terus berdoa dan berharap dengan sangat bahwa Vernon tidak akan menyentuh dirinya malam ini. Bagaimanapun juga, Olivia memegang teguh ingatan masa lalu mereka. Selama empat tahun usia pernikahan pertama mereka dahulu, Vernon—lelaki yang begitu dominan dan arogan—tidak pernah menyentuh Olivia terlalu dalam. Selain ciuman menuntut dan pelukan posesif di atas ranjang saat malam hari, Vernon tak pernah menembus batas terlarang itu. Langkah kaki Vernon memantul samar di atas karpet tebal saat ia berjalan mendekati tempat tidur. Pria yang kini sah kembali menjadi suaminya setelah aksi pemaksaan dan penculikan tempo hari itu menatap Olivia lurus-lurus. Sudut bibir Vernon terangkat, membentuk seringai tipis yang teramat dingin dan penuh keangkuhan. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh lekuk tubuh Olivia dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum dengan sengaja ia menjilat bibir bawahnya secara perlahan. Sebuah gestur yang sangat intimidatif. Olivia refleks menarik napas tajam dan semakin merapatkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Namun, alih-alih merangkak naik ke atas ranjang atau menyentuh kulit Olivia, Vernon justru menghentikan langkahnya tepat di sisi tempat tidur. Ia bersedekap d**a, menatap Olivia dari ketinggian tubuhnya yang jangkung. "Jangan menatapku seperti korban penjahat kelamin begitu, Olivia," suara berat Vernon bergema halus di udara kamar yang hening. Seringai di wajahnya makin lebar, sarat akan nada ejekan. "Jujur saja... malam ini aku belum tertarik untuk menyentuh tubuh molekmu itu." Olivia mengerjap, sedikit tersentak oleh kejujuran kurang ajar yang keluar dari mulut pria itu. "Sentuhanmu tidak akan ke mana-mana. Lagipula, mengurus wanita yang terus-menerus menatapku dengan wajah ketakutan hanya akan merusak selera makan malamku," lanjut Vernon tanpa dosa. Pria itu berbalik santai menuju area walk-in closet, mengambil jas kasual gelap dan jam tangan mewahnya. "Aku akan pergi ke klub malam saja. Suasana di sana jauh lebih menyenangkan daripada meladeni formalitas kamar pengantin ini." Vernon mengenakan jasnya dengan gerakan elegan, melirik Olivia sekali lagi melalui cermin besar sebelum akhirnya melangkah menuju pintu keluar kamar utama. BAM! Pintu jati tebal itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar mewah bernuansa romantis palsu tersebut. Di atas ranjang, Olivia terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya yang tegang. Ia membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di d**a. Dalam hati, Olivia mendengkus keras. Rasa kesal dan geli menyatu menjadi satu emosi yang menggelegak di dadanya. "Klub malam? Tidak tertarik?" cicit Olivia pelan pada ruangan yang kosong. Bibirnya tersenyum sinis. Olivia semakin yakin dengan teori lama yang selalu berputar di kepalanya sejak bertahun-tahun lalu. Lelaki sialan itu pasti mengidap disfungsi seksual! Vernon itu impotensi, atau setidaknya memiliki kelainan yang membuatnya takut menyentuh wanita secara nyata! Mana ada pria normal berumur 34 tahun yang sudah menikah berturut-turut—bahkan sampai enam kali—tapi selalu melarikan diri ke klub malam saat berhadapan langsung dengan istrinya di atas ranjang pengantin? "Coba saja lari terus, Vernon. Kita lihat berapa lama kamu bisa menyembunyikan kelemahanmu itu di balik topeng aroganmu," batin Olivia penuh kemarahan dan cemooh, berusaha mengusir rasa takutnbya sembari menarik selimut sutra untuk menutupi seluruh tubuhnya. *** Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra setinggi lima meter, membiaskan pendar keemasan di atas lantai marmer kamar utama. Olivia menggeliat pelan, lalu memegang kepalanya yang terasa sedikit berat. Matanya memicing, berusaha menyesuaikan diri dengan kemewahan menyilaukan yang menyapa penglihatannya. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang serba megah ini. Bau kayu cendana mahal dan wangi mawar segar kembali menyengat indra penciumannya. "Ah..." cicit Olivia pelan, suaranya parau khas bangun tidur. Ingatan tentang hari kemarin langsung berputar cepat di dalam kepalanya bak kaset rusak. Kemarin ia benar-benar telah resmi menikah kembali dehngan Vernon Abraham. Pernikahan mendadak dan penuh paksaan yang digelar tertutup namun sangat mewah. Dan semalam... mantan suami k*****t yang kini kembali menjadi suami sahnya itu sama sekali tidak menyentuh dirinya. Pria itu justru memilih pergi ke klub malam setelah melontarkan kalimat kurang ajar dan ejekan dingin tentang tubuhnya. Olivia menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, merapikan gaun tidur sutranya yang tertutup rapat. Sejenak, wanita berusia 26 tahun itu memikirkannya dalam-dalam. Selama dua tahun terakhir, ia berdarah-darah hidup di jalanan, dihina oleh atasan di kantor-kantor murahan, dituduh merayu pria-pria tua tak berotak, dan harus memutar otak hanya untuk mempertahankan uang sisa empat ratus ribu rupiah di dompetnya. Ia menahan lapar dan menahan dinginnya kontrakan kusam demi mempertahankan apa yang ia sebut sebagai "harga diri". Tapi untuk apa? Untuk diintai, diculik, dan diseret kembali ke sangkar emas ini oleh Vernon? Olivia menunduk, menatap jemari tangannya yang kini kembali dihiasi cincin berlian murni berukuran fantastis—cincin yang dipasangkan Vernon secara paksa kemarin. Lalu pandangannya beralih mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar utama yang bernilai miliaran rupiah ini. Kartu kredit tanpa batas, pakaian berlabel desainer ternama, fasilitas mewah, dan pelayan yang siap melayaninya 24 jam. Kenapa ia harus terus-menerus bertingkah seperti korban yang malang dan tersiksa? Kenapa ia harus membuang-buang energi untuk meratapi nasibnya? Jika Vernon ingin memenjarakannya di sini demi ego dan ambisi absurdnya untuk memiliki anak laki-laki, maka Olivia tidak akan lagi menjadi tawanan yang menangis di pojokan kamar. Jika Vernon begitu bangga dengan kekayaannya yang tak berseri itu, maka Olivia akan memastikan pria itu membayar mahal untuk setiap detik kebebasan yang telah dicurinya! Senyum Olivia yang tadinya muram perlahan berubah. Bibir tipisnya terangkat membentuk sebuah sunggingan licik yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Kamu mau bermain-main denganku, Vernon?" gumam Olivia pelan, matanya berkilat penuh tekad dan niat jahat yang terselubung. "Baik. Kalau begitu, mari kita nikmati kekayaanmu sampai ke sen terakhir." Jika pria itu berpikir bisa mengontrolnya seperti dulu, Vernon salah besar. Olivia yang sekarang bukan lagi wanita lugu dan rapuh seperti empat tahun lalu. Karena Vernon tidak menyentuhnya dan sibuk mencari kesenangan di luar—yang makin memperkuat keyakinan Olivia bahwa lelaki itu memang mengalami impotensi—maka Olivia akan memanfaatkan celah ini sepenuhnya. Ia akan menghambur-hamburkan uang Vernon, menguras rekeningnya, memborong barang-barang termewah di kota ini, dan menjadikan hidup Vernon dipenuhi tagihan fantastis setiap harinya. Pintu kamar mendadak diketuk tiga kali dengan sangat sopan. "Nyonya Olivia?" suara ramah seorang kepala pelayan wanita terdengar dari balik pintu. "Saya membawa sarapan pagi dan tim penata busana yang telah diperintahkan oleh Tuan Vernon untuk melayani Anda. Apakah saya boleh masuk?" Olivia menyapu sisa-sisa gaun tidurnya, menepuk pipinya pelan, dan mengubah senyum liciknya menjadi ekspresi wajah seorang ratu yang anggun namun dingin. "Masuklah," sahut Olivia dengan suara tenang dan penuh penekanan. Pintu berderit terbuka. Kepala pelayan bernama Bi Sumi melangkah masuk diikuti oleh empat orang pelayan lain yang membawa nampan berisi sarapan ala kerajaan. Tak hanya itu, di belakang mereka, tiga orang desainer pribadi berbusana rapi tampak mendorong rak-rak beroda yang penuh berisi pakaian-pakaian haute couture terbaru, tas-tas kulit terbatas, serta kotak-kotak perhiasan yang berkilauan. "Tuan Vernon berpesan agar Nyonya memilih pakaian apa pun yang Nyonya sukai untuk hari ini," ucap Bi Sumi seraya membungkuk hormat. "Tuan juga menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa menemani Nyonya sarapan, beliau baru saja pulang dari luar sejam yang lalu dan saat ini sedang beristirahat di ruang kerjanya." Olivia menatap deretan perhiasan dan pakaian mahal di hadapannya. Kilatan berlian itu memantul indah di mata karamelnya. Dulu, ia mungkin akan menolak semua ini dengan alasan tidak ingin berutang budi pada Vernon. Tapi sekarang? "Bi Sumi," panggil Olivia datar namun tegas. "Ya, Nyonya?" "Panggilkan manajer dari butik langganan termahal di pusat kota," ujar Olivia santai seraya mengambil cangkir teh porselen dan menyesapnya perlahan. "Katakan padanya untuk membawa seluruh koleksi edisi terbatas musim ini ke mansion. Saya ingin berbelanja." Bi Sumi dan para desainer yang berdiri di sana sempat tertegun sejenak. Mereka tidak menyangka wanita yang kemarin datang dengan wajah penuh kemarahan dan perlawanan itu kini menyuruh mereka berbelanja dalam skala besar dengan begitu santai. "B-baik, Nyonya," Bi Sumi membungkuk tergesa-gesa. "Apakah ada batas anggaran yang ditentukan untuk pembelian hari ini?" Olivia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme. "Tanyakan pada suamiku yang terhormat itu. Tapi setahuku, seorang Vernon Abraham tidak pernah punya batas dalam kamus keuangannya, bukan?" "Tentu saja, Nyonya. Tuan Vernon memberi instruksi bahwa seluruh kartu dan rekening beliau terbuka sepenuhnya untuk Anda tanpa batas." "Bagus," balas Olivia dingin. "Kalau begitu, siapkan mobil mewah di depan nanti siang. Sayba tidak hanya ingin berbelanja di rumah, saya juga ingin keluar dan menghabiskan uangnya di luar." Dalam hati, Olivia tertawa puas. Ini baru permulaan. Vernon boleh saja mengurungnya secara fisik di dalam mansion megah ini, tapi Olivia akan memastikan bahwa harga yang harus dibayar pria arogan itu untuk menyanderanya tidak akan pernah murah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD