Olivia berdiri tegap di depan cermin berukir emas setinggi dua meter yang melintang menawan di sudut walk-in closet. Pandangannya menatap lekat pada pantulan bayangan dirinya sendiri.
Gaun malam ala haute couture berwarna krem lembut berbahan sutra terbaik membungkus tubuh moleknya dengan sangat pas, memeluk lekuk pinggangnya secara presisi tanpa memperlihatkan bagian d**a atau bahu yang terbuka berlebihan. Di leher mulusnya, melingkar sebuah kalung berlian murni dengan potongan emerald-cut yang berkilau menyilaukan di bawah pendar lampu kristal, berpadu sempurna dengan sepasang anting dan gelang senada. Total perhiasan yang menempel di tubuhnya saat ini dengan mudah menyentuh angka miliaran rupiah.
Olivia menyeringai tipis. Jemari lentiknya terangkat, mengusap berlian dingin di lehernya sebelum ia mengibaskan rambut karamelnya yang mengembang indah hingga melambai anggun di udara.
"Aku memang sangat cantik sekali," cicit Olivia pelan, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengagumi pantulan dirinya. "Ah! Dan begitu pantas memakai barang mahal."
Olivia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar memanjakan dirinya sendiri setelah sekian lama terkungkung dalam kesengsaraan. Untuk apa ia terus-menerus meratapi nasib? Untuk apa ia berlarut-larut dalam kesedihan bak pemeran utama wanita dalam novel tragis yang menangis di pojokan kamar, memohon-mohon dilepaskan, atau berusaha kabur berulang kali tapi selalu gagal dan berujung tersiksa?
Itu tindakan bodoh dan membuang-buang energi. Jika takdir yang dipaksakan ini membawannya kembali menjadi istri dari si b******k Vernon Abraham, maka ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban yang malang. Lebih baik ia menikmati seluruh fasilitas dan kekayaan melimpah yang ada di depan mata. Jika Vernon ingin memenjarakannya di dalam sangkar emas, maka Olivia akan memastikan sangkar itu menjadi tempat bermain termahal yang akan menguras kantong pria itu!
Saat hendak mengambil tas tangan kulit eksklusifnya, mata Olivia tak sengaja tertambat pada sebuah benda kecil yang tergeletak di atas meja rias.
Ponsel butut miliknya.
Sebuah ponsel pintar keluaran empat tahun lalu dengan layar retak di sudut kanan dan casing plastik yang sudah mengelupas catnya—satu-satunya benda yang tersisa dari masa-masa sulitnya saat hidup melarat di kontrakan.
"Oh, Tuhan! Ini sudah tidak bisa dibiarkan," gumam Olivia seraya meringis jijik menatap ponsel lusuh itu.
Ponsel itu benar-benar tidak merestui penampilannya yang kini bergelimang kemewahan. Olivia melipat tangannya di d**a. Nanti, tujuan pertamanya di pusat perbelanjaan adalah membeli ponsel model terbaru, seri paling tinggi, dan termahal yang ada di pasaran. Tentunya dengan digesek menggunakan Black Card alias kartu kredit tanpa batas milik si k*****t Vernon.
Berbicara tentang pria itu, Olivia memutar bola matanya malas. Dari semalam setelah pria itu pamit pergi ke klub malam dengan alasan kurang ajar—mengaku belum tertarik pada tubuhnya—sampai siang hari ini, Olivia bahkan tidak tahu apakah Vernon sudah pulang ke mansion atau masih keluyuran di luar.
"Ah, masa bodoh!" bisik Olivia santai seraya mengibaskan tangannya di udara.
Pria itu mau pulang, mau hilang ditelan bumi, atau mau menginap di klub malam sekalipun, Olivia tidak peduli. Justru makin jarang Vernon menampakkan batang hidungnya, makin bebas Olivia menguasai mansion dan hartanya. Lebih baik ia pergi ke mall sekarang dan bersenang-senang.
---
Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, Olivia melangkah keluar dari kamar utama. Sepatu hak tingginya berdenting nyaring di atas lantai marmer, menarik perhatian seluruh pelayan yang berbaris di sepanjang koridor. Di lantai dasar, Bi Sumi sudah menunggu bersama dua orang pengawal pribadi berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam rapi.
"Nyonya Olivia," Bi Sumi membungkuk dalam-dalam. "Sesuai perintah Anda, tiga unit mobil mewah sudah disiapkan di depan. Dua pengawal dan seorang sopir pribadi siap menyertai perjalanan Anda ke pusat perbelanjaan."
"Bagus," balas Olivia singkat dengan senyum tipis yang menawan. "Pastikan kartu kredit atas nama suamiku yang terhormat itu sudah siap di dalam tas saya."
"Sudah terpasang rapi di dalam dompet Anda, Nyonya. Tuan Vernon juga telah memberikan instruksi khusus kepada pihak bank bahwa seluruh transaksi Anda hari ini harus langsung diotorisasi tanpa batasan nominal."
Olivia mengangguk puas. Pria arogan itu rupanya benar-benar tidak segan memamerkan kekayaannya. "Baiklah, mari kita lihat seberapa tahan kartu hitamnya itu menampung ambisi belanja saya hari ini."
Olivia berjalan menuju pintu keluar utama mansion. Namun, baru saja ia melewati pintu ganda dari kayu jati yang megah, sebuah mobil sedan limousine hitam mengkilap berhenti tepat di depan undakan tangga marmer luar. Pintu penumpang belakang terbuka otomatis.
Dari dalam kendaraan mewah tersebut, keluar sosok Vernon Abraham.
Pria berusia 34 tahun itu tampak segar meski baru kembali di siang hari. Kemeja mewahnya yang berwarna gelap tergulung rapi hingga ke siku, memamerkan jam tangan perak bernilai miliaran di pergelangan tangannya. Rambut hitamnya tertata rapi, dan rahang tegasnya terpahat sempurna di bawah paparan sinar matahari siang. Sepasang mata elangnya yang dingin dan dominan langsung mengunci pandangan tepat pada sosok Olivia yang berdiri anggun di atas tangga.
Langkah Olivia terhenti sejenak. Ia menatap Vernon dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. Dalam hati, Olivia kembali mendengkus. Pria ini tampak sangat bugar untuk ukuran seseorang yang menghabiskan malam di klub malam.
Vernon melangkah naik menaiki anak tangga marmer satu per satu. Pandangannya tidak pernah lepas dari Olivia—menilai gaun malam sutra krem yang membungkus tubuh mantan istrinya yang kini kembali menjadi istrinya, serta kilauan kalung berlian miliaran rupiah yang melingkari leher mulusnya.
Seringai tipis yang sarat akan keangkuhan kembali terukir di bibir tegas Vernon.
"Mau pergi ke mana dengan pakaian dan perhiasan semahal itu, Olivia?" tanya Vernon, suaranya berat, dalam, dan bergema halus di udara terbuka. Ia menghentikan langkahnya tepat dua pijakan di bawah Olivia, membuat tingginya sejajar dengan wanita itu.
Olivia tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia justru menegakkan bahunya, menatap Vernon lurus-lurus dengan pandangan menantang dan senyum manis yang penuh kepalsuan.
"Aku mau ke mall, Vernon," jawab Olivia dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, namun mengandung nada sarkasme yang tajam. "Pergi berbelanja, menghabiskan uangmu, dan mengganti ponsel bututku dengan keluaran terbaru. Kenapa? Kamu takut kartumu jebol?"
Vernon terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar dingin dan meremehkan. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Olivia dengan kilat mata yang sulit diartikan.
"Jebol?" ulang Vernon seraya membasahi bibir bawahnya perlahan. "Kamu bisa membeli seluruh toko di mall itu beserta bangunannya jika kamu mau, Olivia. Kekayaanku tidak akan pernah habis hanya karena kamu membeli ponsel atau beberapa perhiasan."
Vernon maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma wangi masculine bercampur kayu cendana dari tubuhnya menguasai indra penciuman Olivia. Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Olivia, berbisik dengan nada rendah yang intimidatif namun terasa begitu dekat.
"Nikmati uangku sepuasmu hari ini, Istriku. Beli apa pun yang kamu inginkan. Karena setelah kamu puas bersenang-senang di luar..." Vernon menarik wajahnya kembali, menatap mata karamel Olivia dengan seringai yang makin lebar dan berbahaya, "...malam ini kita punya urusan yang belum selesai di kamar."
Dada Olivia berdesir hebat mendengar kalimat bernada ancaman halus itu. Namun, membayangkan ironisnya bahwwa Vernon mengidap gagal tegak dan mungkin impotensi, Olivia menyembunyikan keterkejutannya dengan sempurna. Ia membalas tatapan tajam Vernon dengan senyuman paling licik yang ia miliki.
"Kita lihat saja nanti, Vernon. Jangan sampai kamu melarikan diri lagi ke klub malam seperti semalam," bisik Olivia penuh cemooh tepat di depan wajah tampan pria itu.
Tanpa menunggu balasan dari Vernon, Olivia mengibaskan rambutnya, melangkah melewati tubuh jangkung pria itu dengan anggun, dan masuk ke dalam mobil mewah yang telah membukakan pintu untuknya.
Vernon berdiri di atas tangga marmer, menmutar tubuhnya perlahan menaatap mobil yang kini mulai meluncur pergi meninggalkan area mansion. Seringai di wajahnya tidak memudar, justru makin dalam. Sepasang mata elangnya berkilat penuh rasa tertarik yang makin membara terhadap wanita yang kini berani menantangnya secara terang-terangan itu.