Bab 08

1549 Words
Sepatu berhak tinggi milik Olivia keluaran terbaru Louboutin membalut kaki jenjangnya dengan sangat sempurna. Hak tipis berwarna merah menyala di bagian sol bawahnya berdenting nyaring dan berkelas setiap kali ia melangkah di atas lantai granit mengkilap pusat perbelanjaan paling mewah di tengah kota. Suara ketukan itu bak irama kemenangan yang mengiringi setiap jalannya. Olivia menghentikan langkahnya sejenak di tengah atrium mall yang megah, menatap sekeliling dengan seringai tipis yang anggun namun sarat akan niat licik. Udara dingin beraroma wangi parfum mahal khas butik-butik kelas atas menyapa indra penciumannya. Sepasang mata karamelnya berkilat penuh kegembiraan yang tak lagi disembunyikan. Ia sudah tidak sabar untuk melangkah masuk ke dalam beberapa toko branded ternama yang berderit menanti kedatangannya. Namun, Olivia memegang teguh skala prioritasnya hari ini. Tujuan utamanya sekarang adalah mendatangi toko handphone premium untuk membeli ponsel termahal yang ada di pasaran, membuang ponsel butut berlayar retak yang selbama ini menemaninya dalam kemelaratan. Setelah urusan handpone selesai, barulah ia akan menyerbu toko pakaian haute couture, deretan koleksi sepatu hak tinggi, tas kulit eksklusif edisi terbatas, dan segala macam aksesori mewah lainnya yang dulu hanya bisa ia pandangi melalui etalase kaca. "Hidup memang sangat menyenangkan kalau banyak uang," ucap Olivia pelan dengan nada penuh rasa senang. Suaranya diwarnai tawa kecil yang renyah dan puas. Dua orang pengawal pribadi berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi yang diperintahkan Vernon untuk mengawalnya berjalan mengekor dua langkah di belakang Olivia. Mereka membawa beberapa kantong belanjaan awal dengan sikap sangat sigap dan penuh hormat, memastikan tidak ada seorang pun pengunjung malln yang berani mengganggu atau menghalangi jalan sang nyonya besar. Olivia melangkah masuk ke dalam gerbang toko elektronik khusus penyedia gadget eksklusif berbalut logam mulia dan edisi khusus kolektor. Seorang manajer toko berjas rapi langsung menyambutnya dengan senyuman lebar dan bungkukan dalam, mengenali kelas dan status Olivia dari perhiasan berlian yang melingkari lehernya serta pengawal pribadi yang mengapitnya. "Selamat datang, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu untuk hari ini?" tulus sang manajer dengan suara teramat sopan. "Berikan aku ponsel seri terbaru dengan spesifikasi paling tinggi dan harga termahal di tempat ini," ujar Olivia santai seraya menyandarkan sebelah tangannya di atas meja kaca etalase. "Dan tolakan seluruh proses rumitnya. Pindahkan seluruh dataku sekarang juga dan siapkan kartu perdana dengan nomor paling eksklusif." "Tentu, Nyonya! Kami memiliki seri edisi khusus dengan lapisan titanium murni dan kustomisasi berlian di bagian bodi belakang. Ini adalah unit satu-satunya di kota ini," terang manajer toko itu dengan mata berbinar-binar penuh semangat. "Bagus. Aku ambil itu," balas Olivia tanpa ragu sedikit pun. Ia merogoh tas tangan mewahnya, mengeluarkan dompet kulit dan menarik sebuah kartu tipis berwarna hitam pekat—Black Card tanpa batas milik Vernon Abraham. Olivia menyerahkan kartu tersebut ke atas meja dengan gerakan sangat elegan, seolah-olah ia sedang melempar selembar kertas biasa. "Proses pembayarannya sekarang," perintah Olivia singkat. Mesin EDC berbunyi bip halus saat kartu bertuliskan nama Vernon Abraham itu digesek. Dalam hitungan detik, transaksi senilai ratusan juta rupiah untuk sebuah ponsel edisi terbatas berhasil disetujui tanpa hambatan sedikit pun. Olivia tersenyum puas ketika memegang ponsel baru yang berkilau dingin di jemarinya. Ia melemparkan ponsel butut lamanya ke dalam tong sampah terdekat di luar toko tanpa rasa menyesal sedikit pun. Puas dengan ponsel barunya, perburuan Olivia yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia melangkah ke zona butik fashion kelas atas. Dari butik Chanel, Dior, Hermes, hingga Gucci, Olivia masuk bak seorang ratu yang sedang melakukan inspeksi wilayah. Ia menunjuk gaun-gaun malam sutra, mantel bulu, tas kulit buaya langka, serta belasan pasang sepatu tanpa perlu melihat label harga. "Bungkus yang ini, yang itu, dan gaun merah di patung sana," tunjuk Olivia anggun pada pramuniaga butik yang sampai kebingungan mencatat daftar belanjaannya. "Kirimkan sebagian besar barangnya langsung ke mansion keluarga Abraham, dan sisanya biarkan pengawalku yang membawa." Setiap kali transaksi dilakukan, mesin EDC di butik-butik megah itu terus menyedot nominal fantastis dari rekening sang miliarder. Ratusan juta, satu miliar, dua miliar, hingga angka terus merambat naik dengan cepat. Olivia menikmati setiap detik desiran halus saat kartu hitam mgilik suami keparatnya itu digunakan untuk memuaskan seluruh keinginannya. --- Sementara itu, di dalam ruang kerja megahnya di mansion utama keluarga Abraham, suasana begitu hening dan tenang. Ruangan berukuran luas dengan interior kayu jati tua, dinding perpustakaan pribadi yang menjulang, dan jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang bernuansa Eropa itu dipenuhi aroma kopi hitam pekat dan minyak kayu cendana. Vernon Abraham duduk tegap di balik meja kerja ukir mewahnya. Pria berusia 34 tahun itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan perak bernilai fantastis di pergelangan tangannya. Rahagnya yang tegas dan terpahat sempurna tampak tenang saat ia memeriksa berkas-berkas dokumen akuisisi perusahaan bernilai triliunan di layar monitor tipis di hadapannya. Suara getaran halus dari ponsel pintar milik Vernon yang tergeletak di atas meja kaca memecah keheningan. Dua kali, tiga kali, hingga belasan kali notifikasi transaksi perbankan masuk secara bertubi-tubi. Ponselnya terus menyala menampilkan pesan singkat dari otoritas bank prioritas tertinggi yang mengabarkan setiap pengeluaran yang dilakukan oleh kartu kredit utamanya. Vernon menghentikan ketukan jemarinya di atas meja. Pria itu mengulurkan tangan panjangnya, mengambil ponsel tersebut, dan mengusap layarnya dengan tenang. Sepasang mata elangnya yang berwarna cokelat gelap menyapu deretan teks notifikasi yang masuk tanpa henti sejak dua hjam lalu. Notifikasi Transaksi: IDR 250.000.000 - Luxury Mobile Store. Notifikasi Transaksi: IDR 850.000.000 - Hermes Boutique. Notifikasi Transaksi: IDR 1.200.000.000 - Chanel Haute Couture. Notifikasi Transaksi: IDR 1.700.000.000 - Fine Jewelry Collection. Vernon menatap layar ponselnya dengan pandangan datar. Total pengeluaran Olivia dalam kurun waktu kurang dari tiga jam di mall telah menembus angka empat miliar rupiah. Sebuah nominal yang mungkin bisa membuat pengusaha kelas menengah jantungan atau bangkrut dalam sekejap. Namun, bagi seorang Vernon Abraham—pria yang memegang kendali atas konglomerasi bisnis raksasa yang menggurita di berbagai sektor internasional—angka empat miliar rupiah itu terlalu kecil. Jangankan empat miliar, angka itu hanyalah remah-remah yang tak berarti, serpihan kecil dari bunga simpanannya yang terus bertambah setiap detik. Vernon tidak akan pernah jatuh miskin atau goyah sedikit pun meskipun wanita itu menghabiskan nominal yang sama sebanyak 27 kali turunan sekalipun. Sudut bibir tegas Vernon perlahan terangkat tipis. Bukan raut wajah marah atau tegang, melainkan sebuah seringai dingin yang sarat akan keangkuhan murni dan rasa geli yang terselubung. Pria itu menyandarkan punggungnya yang kokoh ke sandaran kursi kulit mewahnya, meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja dengan ketukan pelan. "Empat miliar?" gumam Vernon dengan suara berat dan dalam, bergema halus di dalam ruang kerjanya yang sepi. "Hanya segini kemampuanmu untuk membalas dendam, Olivia?" Vernon terkekeh rendah—suara tawa tipis yang begitu dominan dan penuh rasa percaya diri. Ia tahu betul apa yang sedang direncanakan oleh wanita karamelnya itu. Olivia berpikir dengan menghabiskan uangnya secara ugal-ugalan, wanita itu bisa membuat Vernon kesal, panik, atau berlutut memohon agar ia berhenti belanja. Olivia berpikir ia sedang memegang kendali atas permainan ini. Wanita itu sangat menggemaskan dalam ketidaktahuannya. Vernon mengetuk-ngetuk meja kerjanya pelan, menyapu bayangan wajah Olivia yang tadi pagi menatapnya dengan senyuman licik dan tantangan terbuka di depan tangga mansion. Semakin Olivia berusaha melawan, semakin Olivia berpura-pura menjadi wanita tangguh yang menguras hartanya, justru semakin tinggi rasa tertarik yang membakar d**a Vernon. Olivia tidak seperti enam mantan istrinya terdahulu yang merengek meminta barang mewah dengan aura murahan dan wajah haus hharta. Olivia melakukan ini dengan aura kebanggaan, kemarahan, dan harga diri yang sangat tinggi—sebuah kombinasi yang membuat darah Vernon berdesir penuh obsesi. Pintu ruang kerja Vernon diketuk pelan. Marco, kepala pengawal kepercayaannya, melangkah masuk dengan sikap tegap dan menunduk hormat. "Tuan," panggil Marco dengan suara rendah. "Laporan dari tim pengawal di lapangan. Nyonya Olivia baru saja menyelesaikan belanjaannya di sektor perhiasan dan saat ini sedang menuju restoran paling eksklusif di lantai teratas pusat perbelanjaan untuk makan siang." Vernon tidak mengalihkan pandangannya dari layar komputer. "Apakah ada kendala?" "Tidak ada, Tuan. Seluruh transaksi berjalan lancar tanpa kendala batas kredit. Namun... Nyonya Olivia sempat menyampaikan pesan melalui pengawal agar invoice pembelian beberapa barang branded dikirimkan langsung ke meja kerja Anda sebagai tanda 'salam hangat'." Mendengar laporan itu, tawa kecil Vernon kembali terdengar di ruangan. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan seraya membasahi bibir bawahnya. "Kirimkan dua tim pengawal tambahan ke sana," perintah Vernon datar namun penuh penekanan mutlak. "Pastikan dia aman dari jangkauan wartawan atau orang-orang yang tidak berkepentingan. Dan katakan pada manajer restoran itu bahwa seluruh tagihan makanan hari ini di area tersebut saya yang tanggung, tutup seluruh lantai untuk umum agar Olivia bisa makan dengan tenang." "Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan," jawab Marco patuh, lalu membungkuk dan berbalik mundur meninggalkan ruangan. Setelah Marco pergi, Vernon kembali menatap notifikasi angka empat miliar rupiah di layar ponselnya. Mata elangnya berkilat berbahaya di bawah pendar lampu ruangan. "Bersenang-senanglah sepuasmu siang ini, Olivia," bisik Vernon dingin dengan suara yang teramat penuh kepemilikan. "Kuras seluruh rekeningku jika itu bisa membuatmu tersenyum licik seperti tadi pagi. Tapi ingat janji kita... ketika kamu melangkah kembali melewati pintu mansion ini malam nanti, seluruh permainan belanja ini selesai, dan kamu harus membayar setiap sennya di atas pembaringanku." Vernon menggenggam gelas kristal berisi ajir mineral di mejanya, menyesapnya perlahan seraya membayangkan pertemuan mereka nanti malam. Pria itu tidak sabar untuk melihat bagaimana reaksi Olivia ketika menyadari bahwa rencana "pembalasan dendam lewat belanja" yang dirancangnya sama sekali tidak melukai sang miliarder, melainkan justru makin menjerat dirinya ke dalam sangkar emas yang tak terlepaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD