Mobil limousine hitam yang mengantar Olivia akhirnya berhenti dengan mulus di depan undakan tangga marmer mansion keluarga Abraham. Hari sudah berganti malam. Langit gelap membungkus kota, sementara pendar lampu-lampu kristal mansion memancarkan kemewahan yang megah.
Tiga pengawal pribadi bergegas turun, membawa berpuluh-puluh kantong belanjaan bermerek internasional yang telah Olivia borong sepanjang hari. Dari ponsel edisi terbatas berbalut titanium, gaun-gaun haute couture, tas kulit eksklusif, hingga perhiasan berlian—semua berhasil ia dapatkan tanpa hambatan.
Olivia melangkah turun dari mobil dengan rasa puas yang meluap-luap di dadanya. Sepatu hak tinggi Louboutin-nya berdenting anggun saat ia melangkah masuk menembus pintu jati utama. Senyum menang terukir manis di bibirnyba. Dalam pikirannya, ia telah berhasil memberi pelajaran telak pada mantan suami keparatnya itu. Menguras empat miliar rupiah dalam hitungan jam tentu bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja—atau setidaknya, begitulah anggapan polos Olivia.
"Malam yang sangat menyenangkan," gumam Olivia pada dirinya sendiri seraya merapikan gaun sutramu yang mengalir anggun.
Tubuhnya terasa agak lelah setelah seharian berkeliling pusat perbelanjaan paling mewah di kota. Langkah kaki wanita berusia 26 tahun itu berayun cepat menyusuri koridor marmer, menuju kamar utama di lantai dua. Keinginan utamanya saat ini hanyalah satu: segera membersihkan duiri di kamar mandi berbahan granit mahal, merendam tubuhnya dengan air hangat, dan menikmati malam pertama kemenangan finansialnya atas Vernon.
Dengan gerakan santai, Olivia mendorong pintu kayu jati tebal kamar utama hingga terbuka lebar.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti tepat di ambang pintu. Seluruh rasa lelah dan kepuasan yang baru saja ia nikmati menguap seketika, berganti dengan sengatan terkejut yang membuat dadanya naik turun.
Olivia terkejut setengah mati ketika mendapati Vernon sudah menunggunya di dalam kamar.
Suasana ruangan itu terasa sangat berbeda dari tadi siang. Pendar lampu kamar dibuat redup bernuansa hangat, menciptakan atmosfer yang teramat intim dan pekat. Dan di tengah ruangan, berdiri sosok Vernon Abraham.
Pria berusia 34 tahun itu tidak lagi mengenakan kemeja rapi atau jas mewahnya. Vernon hanya memakai celana pendek santai berwarna abu-abu gelap, membiarkan bagian d**a bidangnya yang tegap, berotot, dan terpahat sempurna terbuka lebar tanpa sehelai benang pun. Tetesan sisa air mandi masih tampak mengkilap samar di atas kulit tubuhnya yang kekar. Di jemari tangannya yang panjang, pria itu memegang sebuah gelas kristal berisi red wine cair yang diputar-putarnya secara perlahan.
Sepasang mata elang milik Vernon yang dingin, tajam, dan sarat akan d******i mutlak langsung terkunci tepat pada Olivia begitu wanita itu melangkah masuk.
"Sudah pulang, Sayang?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir tegas Vernon itu diucapkan dengan nada suara yang teramat berat, dalam, dan serak memikat. Pria itu menghentikan putaran gelas wine-nya, melangkah maju satu tapak dengan keangkuhan murni yang menguar kuat dari tubuhnya.
Panggilan 'Sayang' yang terucap begitu alami namun sarat penekanan itu membuat Olivia mendadak menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa mengering seketika. Desiran halus menyengat seluruh saraf tubuhnya akibat keintiman yang mendadak menyeruak di udara kamar. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, terintimidasi oleh aura maskulin Vernon yang teramat kuat di ruang terbatas tersebut.
Namun, Olivia bukan lagi wanita lemah yang akan menunduk takut. Detik berikutnya, Olivia menyadarkan dirinya. Ia sengaja menegakkan kepalanya tinggi-tinggi, menatap lurus ke dalam mata elang Vernon, dan mencibirkannya dengan nada penuh keangkuhan balik.
"Sudah!" jawab Olivia dengan suara lantang yang sengaja dikeras-kencangkan untuk menutupi kegugupannya. "Terima kasih banyak untuk hartamu yang sangat banyak itu. Senang rasanya bisa menghabiskan uangmu tanpa sisa!"
Olivia melipat tangannya di d**a, menyunggingkan senyum menantang, bersiap menantikan reaksi marah atau setidaknya raut wajah kesal dari pria arogan di hadapannya.
Namun, bukannya marah atau menunjukkan kekecewaan, Vernon justru terkekeh pelan.
Suara tawa rendah dan berat bergema halus di dalam kamar yang redup itu. Vernon menggelengkan kepalanya sedikit, menaruh gelas wine-nya ke atas meja rias bernilai ratusan juta di sampingnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Olivia. Seringai tipis yang sangat berbahaya terukir di wajah tampannya.
"Sama-sama, Istriku," balas Vernon tenang seraya melangkah mendekat. Setiap helaian pergerakan tubuhnya yang atletis terpancar penuh percaya diri. "Uang itu ada memang untuk kamu habiskan. Kamu bisa memborong isi mall itu lagi besok kalau mau."
Vernon menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Olivia. Aroma wangi masculine bercampur minyak kayu cendana dan wine mahal dari tubuh pria itu merambat cepat menguasai indra penciuman Olivia, mengurungnya dalam kurungan aura yang pekat.
Vernon memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah cantik Olivia yang dilapisi riasan halus, lalu berbisik dengan nada perintah yang berat dan tak terbiaskan:
"Sekarang... segeralah mandi. Dan pakailah sabun sewangi mungkin."
Olivia mengerjap, dadanya berdesir hebat. "Apa maksudmu?"
Seringai di bibir Vernon makin dalam, matanya berkilat penuh rasa kepemilikan yang membara.
"Karena malam ini..." bisik Vernon tepat di depan wajah Olivia, suaranya pelan namun sanggup menggetarkan setiap inci keberanian wanita itu, "...aku ingin menyentuhmu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanpa ada yang terlewat, Olivia."
DEG!
Tubuh Olivia mendadak menegang sempurna! Seluruh otot-ototnya seolah terkunci kaku di tempatnya berdiri. Kalimat bernada ancaman intim itu menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong. Bayangan jari-jemari panjang Vernon yang akan menyentuh seluruh permukaan kulit mulusnya membuat dadanya bergemuruh hebat oleh rasa panik yang teramat sangat.
Namun, ingatan akan masa lalu mereka dan serangkaian kejadian aneh selama bertahun-tahun kembali berputar cepat di kepala Olivia.
Selama empat tahun pernikahan pertama mereka dulu, pria ini tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekadar ciuman dan pelukan. Semalam, pria ini melarikan diri ke klub malam dengan alasan belum tertarik. Dan pasca perceraian mereka, Vernon mengencani dan menikahi enam wanita berbeda secara kilat tanpa pernah menghasilkan seorang anak pun!
Segala fakta itu merajut satu kesimpulan kokoh yang dipercayai Olivia mati-matian sejak dulu: Vernon Abraham itu hanya gertak sambal! Pria ini mengidap disfungsi seksual alias impotensi yang sengaja ditutup-tutupi di balik topeng keangkuhan dan gaya hidup mewahnya!
Rasa tegang di tubuh Olivia perlahan meluntur, berganti dengan rasa percaya diri yang berlebihan. Olivia melepaskan lipatan tangannya, merapikan gaun malamnya, lalu melepaskan tawa meremehkan yang sangat nyaring dan sarat akan nada cemoohan murni.
"Ha! Menyentuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki?" ujar Olivia seraya menatap Vernon dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan.
Ia tidak percaya sedikit pun bahwa kejantanannya Vernon bisa berdiri atau berfungsi sebagaimana mestinya seorang pria normal.
"Jangan berhalusinasi terlalu jauh, Vernon," lanjut Olivia dengan nada mengejek yang sangat tajam, melangkah satu tapak maju untuk menantang pria itu secara terang-terangan. "Kamu pikir aku tidak tahu rahasia terbesarmu? Kamu boleh berpura-pura menjadi pria paling dominan di dunia ini, tapi kita berdua tahu fakta yang sebenarnya. Kamu itu impotensi!"
Ruangan mendadak menjadi hening luar biasa setelah kata 'impotensi' terlontar bebas dari bibir Olivia.
Olivia mengibaskan rambut karamelnya dengan gaya sangat angkuh, menyunggingkan senyum kemenangan yang paling memprovokasi. "Jadi berhentilah bertingkah seolah kamu bisa melakukannya, Vernon. Lebih baik kamu ganti bajumu dan tidur di sofa sana!"
Tanpa menyadari kilat bahaya yang mendadak membara hebat di dalam sepasang mata elang Vernon, Olivia berbalik dengan santai, berniat melangkah menuju kamar mandi untuk menikmati air hangatnya. Ia merasa telah memenangkan pertempuran emosional malam ini.