Bab 10

1598 Words
Uap air hangat masih membumbung halus di dalam kamar mandi berdinding marmer putih yang megah. Aromaterapi mawar liar dan minyak essensial eksklusif membungkus tubuh Olivia yang baru saja selesai memanjakan diri. Rasa lelah akibat berbelanja seharian telah meluntur bersama guyuran air hangat. Di depan cermin rias yang lebar, Olivia menatap pantulan dirinya dengan kepuasan murni. Bibir tipisnya terangkat membentuk sunggingan angkuh. Ia sengaja memilih gaun tidur sutra paling seksi yang ia temukan di dalam walk-in closet—sebuah gaun tidur bertali tipis berwarna hitam pekat yang meliuk pas membungkus lekuk tubuhnya, memamerkan punggung mulusnya yang terbuka serta bagian d**a yang terbingkai renda transparan secara elegan. Pakaian itu begitu menggoda, namun Olivia memakainya bukan untuk merayu Vernon. Justru sebaliknya. Ia memakai pakaian itu sebagai bentuk provokasi telak, sebuah tes untuk membuktikan teorinya sendiri bahwa pria arogan itu memang tidak memiliki gairah atau kemampuan seksual sebagai seorang pria sejati. "Mari kita lihat seberapa bertahan topeng sombongmu itu, Vernon," gumam Olivia pelan, menyisir rambut karamelnya yang basah ke belakang bahu. Dengan keyakinan diri yang membubung tinggi dan asumsi bahwa Vernon hanyalah pria impotensi yang pandai bersilat kata, Olivia memutar gagang pintu kamar mandi dan melangkah keluar. Klek. Begitu kakinya menyentuh karpet tebal di luar kamar mandi, embun dingin udara kamar langsung menyapu kulit mulusnya yang hangat. Namun, yang membuat langkah Olivia mendadak terhenti bukan udara dingin ruangan, melainkan sosok jangkung yang berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya. Vernon Abraham sudah menunggu di sana. Pria berusia 34 tahun itu bertelanjang d**a. Kemeja mewahnya telah dilepas sepenuhnya, memperlihatkan d**a bidang yang kokoh, perut berotot yang terpahat sempurna tanpa lemak, serta garis-garis otot tubuh yang tampak amat bugar dan maskulin di bawah pendar redup lampu kamar. Celana santai abu-abu gelap masih membalut pinggang hingga kakinya, namun postur tubuhnya yang begitu dominan dan intimidatif membuat atmosfer di ruangan itu mendadak menjadi sangat sempit dan panas. Sepasang mata elang milik Vernon yang berwarna cokelat gelap membara dengan kilat berbahaya. Tatapannya lurus, tajam, dan tidak berkedip sedikit pun saat menyapu penampilan Olivia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu terasa seperti sentuhan fisik yang nyata, membakar setiap inci permukaan kulit mulus Olivia yang terbuka. Olivia mendadak lupa cara bernapas sejenak. Jantungnya berdegup kencang menghantam dadanya, terkejut oleh pemandangan fisik Vernon yang begitu matang dan kuat. Namun, sebelum Olivia sempat menarik napas atau mengucapkan kata-kata cemoohan barunya, Vernon sudah melangkah maju. Gerakan Vernon begitu tenang namun mematikan, bak seekor pemangsa yang telah memojokkan mangsanya ke sudut ruangan. "V-Vernon..." cicit Olivia, refleks berniat mundur satu langkah ke belakang. Namun, jeda waktu itu sudah terlambat. Vernon memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik. Tanpa ragu dan tanpa ada celah untuk Olivia melarikan diri, pria itu mengulurkan tangan tangannya yang lebar dan hangat, langsung mendarat tepat di pinggang ramping Olivia. DEG! Genggaman jemari Vernon di pinggangnya terasa begitu protektif sekaligus posesif. Pria itu menarik tubuh molek Olivia dengan satu dorongan halus, membuat bagian depan tubuh mereka beradu rapat tanpa jarak. Panas tubuh Vernon yang bertelanjang d**a langsung menyengat bagian d**a dan perut Olivia yang hanya dilapisi kain sutra tipis. Olivia tersentak hebat. Hawa panas dari kulit duada Vernon merambat cepat menembus pakaian tidurnya, membakar saraf-saraf tubuhnya hingga membuat bulu kuduknya berdiri seketika. "Mau lari ke mana, Olivia?" suara berat dan serak Vernon bergema tepat di atas kepala Olivia, bernada begitu rendah dan dipenuhi intensitas yang memabukkan. "Lepaskan aku, Vernon!" seru Olivia dengan napas yang mulai terengah-engah, berusaha menekan d**a bidang Vernon dengan kedua telapak tangannya untuk mendorong pria itu menjauh. Namun, usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. d**a Vernon keras bagaikan dinding batu. Percobaan Olivia untuk mendorongnya justru membuat jemari lentiknya merasakan langsung ketegangan otot-otot d**a dan detak jantung pria itu yang bergemuruh kencang dan stabil. Vernon menyunggingkan senyum tipis yang teramat berbahaya. Bukannya melepaskan, tangan kiri Vernon justru bergerak naik menyusuri tulang punggung terbuka milik Olivia. Jemari panjangnya yang sedikit kasar mengelus permukaan kulit halus Olivia secara perlahan, menyapukan sentuhan sensual yang menyengatkan rasa geli dan desiran aneh di sepanjang saraf tulang belakang wanita itu. Tubuh Olivia gemetar hebat akibat sentuhan langsung itu. "V-Vernon... jangan—" "Jangan apa, Istriku?" bisik Vernon penuh nada intimidasi yang lembut. Jemari Vernon yang lain merayap naik ke rahang tegas Olivia, memegang dagunya dengan lembut namun berkuasa, memaksa Olivia untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam sepasang mata elangnya yang kini dipenuhi gairah dan keangkuhan mutlak. Vernon mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter. Hembusan napas hangat bernuansa masculine dan kayu cendana dari mulut Vernon menyapu langsung ke permukaan bibir dan leher Olivia. "Bukannya tadi kamu begitu percaya diri menuduhku impotensi?" lanjut Vernon dengan nada mengejek yang sangat tipis, jemarinya kini mengelus perlahan garis rahang dan leher mulus Olivia hingga turun ke tulang selangkanya. "Kamu menantangku, Olivia. Dan kamu memakai gaun tidur seksi ini seolah-olah kamu siap membuktikan tuduhan konyolmu itu." Setiap sentuhan jari Vernon yang mengusap kulit lehernya terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi. Olivia berusaha keras untuk mempertahankan tatapan menantangnya, berusaha untuk tetap bersikap angkuh seperti tadi siang, tetapi reaksi alami tubuhnya justru berkhianat. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya makin memburu, dan bagian leher serta pipinya merona merah padam akibat keintiman yang teramat dekat ini. Vernon bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana tubuh molek Olivia menegang dan bergetar di dalam pelukannya. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan perlahan menyapukan bibirnya di sepanjang garis rahang Olivia, memberikan ciuman-ciuman kecil nhan panas yang merambat turun menuju leher sensitif istrinya. "Nnggh..." sebuah bisikan pasrah tak sengaja lolos dari tenggorokan Olivia sebelum ia sempat menahannya. Olivia memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan jemarinya di atas d**a bidang Vernon. Rasanya sungguh luar biasa membingungkan. Akal sehatnya berteriak agar ia mendorong pria k*****t ini, menampar wajah mewahnya, dan menegaskan kembali kebenciannya. Namun, sentuhan sensual Vernon yang begitu ahli, hangat, dan mendominasi membuat seluruh persendiannya mendadak melumpuh dan lemas. Vernon terkekeh rendah saat mendengar cicitan halus dari bibir Olivia. Suara tawa itu terasa bergetar langsung di d**a bidangnya yang menempel pada d**a Olivia. Tangan kanan Vernon yang masih berada di pinggang Olivia perlahan merambat turun, memeluk pinggul molek wanita itu dengan cengkeraman yang makin erat, menekan tubuh Olivia agar makin menempel rapat pada tubuh bagian bawahnya. Dan pada detik itulah, Olivia merasakan bukti nyata yang tak terbantahkan. Sensasi panas yang teramat keras dan bangkit sempurna menekan bagian bawah tubuhnya menembus kain celana halus yang dikenakan Vernon. Sebuah bukti fisik yang begitu perkasa, menembur habis seluruh teori dan anggapan konyol yang selama bertahun-tahun ini Olivia percayai di dalam kepalanya. Mata karamel Olivia seketika terbuka lebar karena terkejut setengah mati! Wajahnya terasa kian terbakar oleh rasa malu dan kepanikan murni yang mendadak menyerang seluruh kesadarannya. Teorinya hancur berkeping-keping dalam satu sentuhan nyata! Vernon tidak impotensi! Pria ini sama sekali tidak mengidap disfungsi seksual seperti yang selalu ia cemoohkan! "B-Vernon... kamu..." cicit Olivia dengan suara yang bergetar hebat, matanya menatap Vernon dengan pancaran rasa tidak percaya dan ketakutan yang bercampur aduk. Vernon menyapu pandangan matanya ke wajah Olivia yang kini memucat bercampur rona merah padam. Seringai di bibir tegas pria itu makin lebar, penuh kemenangan murni dan keangkuhan yang tak tertandingi. Pria itu mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga Olivia, berbisik dengan suara berat yang teramat sensual dan dalam: "Bagaimana, Olivia? Apakah buktinya sudah cukup jelas untuk menghancurkan anggapan konyol di otak cantikmu itu?" Olivia menelan salivanya dengan sangat susah payah. Lidahnya terasa kelu, tak mampu menyusun satu kata pun untuk membalas godaan tajam pria itu. Seluruh pertahanan diri dan sikap sok angkuh yang tadi ia pamerkan saat pulang berbelanja mendadak runtuh tanpa sisa. Vernon tidak membiarkan Olivia berpikir lebih jauh. Jemari tangannya mengusap lembut punggung bawah Olivia, merayap naik hingga ke tali sutra gaun tidurnya di bahu. Dengan gerakan yang teramat pelan namun penuh tuntutan, Vernon menarik tali sutra itu hingga tergelincir turun melintasi bahu mulus Olivia, memperlihatkan lebih banyak permukaan kulit bagian atasnya yang sehalus porselen. Gatal gairah dan sentuhan sensual Vernon yang makin berani membuat napas Olivia makin tidak teratur. Pria itu menyapukan bibirnya kembali ke leher Olivia, memberikan hisapan-hisapan halus yang meninggalkan jejak panas membakar di kulit mulusnya, sementara telapak tangannya yang hangat menyusuri lekuk pinggang dan pinggul Olivia dengan keahlian luar biasa, membangkitkan getaran sensasi aneh yang belum pernah Olivia rasakan sebelumnya sepanjang hidupnya. "Vernon... hentikan..." bisik Olivia parau, namun suaranya sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Kedua tangannya yang berada di d**a Vernon justru mencengkeram kulit pria itu lebih erat, mencari pegangan saat lututnya terasa makin lemas di bawah kendali sentuhan sang suami. "Hentikan?" tulus Vernon di atas kulit leher Olivia, lalu menarik wajahnya kembali untuk menatap mata karamel Olivia yang berkaca-kaca oleh luapan emosi. "Kamu sendiri yang memulai permainan ini malam ini, Istriku. Kamu yang menantang kejantananku, dan aku hanya memberikan respons yang paling pantas untuk wanita keras kepala sepertimu." Vernon menatap bibir tipis Olivia yang sedikit terbuka dan gemetar. Tanpa memberikan waktu bagi Olivia untuk memproses keadaan, Vernon memangkas sisa jarak di antara mereka dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Olivia. Ciuman itu tidak lagi sekadar ciuman formalitas seperti yang pernah mereka lakukan empat tahun lalu. Ciuman kali ini menuntut, dalam, panas, dan sarat akan rasa kepemilikan yang mutlak. Vernon mengunci kepala Olivia dengan satu tangannya di belakang tengkuk wanita itu, menyesap dan menguasai bibir Olivia dengan d******i murni yang membuat seluruh isi kepala Olivia menjadi kosong seketika. Olivia mengerang pelan di dalam ciuman panas itu. Rasa benci, gengsi, ketakutan, dan desiran gairah yang belum pernah terjamah menyatu menjadi satu badai emosi yang mengagumkan sekaligus menakutkan. Tubuh moleknya pasrah terkurung penuh di dalam dekapan bertelanjang d**a Vernon, tenggelam ke dalam pesona dingin dan sentuhan sensual sang miliarder yang kini siap menagih seluruh haknya malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD