Bab 11

1658 Words
Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden sutra yang tersingkap tipis, membiaskan garis-garis emas di atas lantai marmer dan tempat tidur berukuran king-size. Olivia perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Kepala dan seluruh persendian tubuhnya terasa pegal luar biasa. Namun, saat ia mencoba menggerakkan kakinya di balik selimut sutra tebal, sebuah sengatan rasa sakit yang tajam dan perih mendadak menyengat bagian bawah tubuhnya. "Nngghh..." Olivia meringis pelan, memejamkan mata rapat-rapat seraya menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang berdenyut-denyut di sana. Ingatan tentang kejadian semalam langsung menghantam kesadarannya bagaikan pukulan godam yang telak. Sentuhan panas, d******i mutlak, ciuman yang menuntut, dan keintiman tanpa celah yang dilakukan Vernon secara intens sepanjang malam berputar cepat di dalam kepalanya. Sialan memang Vernon Abraham! Rasa perih dan kebas di bagian bawah tubuhnya ini menjadi bukti fisik yang teramat nyata bahwa perkiraan, dugaan, dan cemoohan yang selama bertahun-tahun ia pegang teguh hancur berantakan. Vernon sama sekali tidak impotensi. Pria itu adalah pemangsa yang teramat perkasa dan ahli dalam menguasai seluruh tubuhnya. Dengan jemari yang gemetar hebat, Olivia memberanikan diri menarik sedikit ujung selimut putih yang membungkus tubuh polosnya. Sepasang mata karamelnya menatap nanar ke arah permukaan seprei putih bersih di bawah tubuhnya. Di sana, di atas kain sutra putih yang terlipat samar, terpatri bercak merah pekat yang telah mengering. Darah keperawanannya. Napas Olivia tertahan di tenggorokan. Seluruh badannya membeku seketika. Pertahanan terakhir, kehormatan, dan martabat murni yang ia jaga mati-matian selama 26 tahun hidupnya—bahkan selama empat tahun pernikahan pertamanya dahulu dan dua tahun masa-masa sulitnya di jalanan—kini telah lenyap tanpa sisa dalam satu malam di tangan mantan suami yang paling ia benci. Air mata panas langsung merebak menutupi pandangannya. d**a Olivia bergemuruh oleh kombinasi rasa syok, marah, penyesalan, dan kesedihan yang teramat mendalam. "Hiks... hiks..." Isakan halus lolos dari bibirnya. Olivia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik selimut makin rapat ke dadanya, dan mulai menangis sesenggukan. Rasa kehilangan itu begitu nyata dan menyesakkan d**a. Ia merasa telah kalah sepenuhnya. Pria itu tidak hanya menculiknya dan mengurungnya di sangkar emas ini, tetapi juga telah merebut bagian paling berharga dari dirinya. Tangisan Olivia yang makin lama makin tak terkontrol dan dipenuhi isakan keras merusak keheningan pagi di dalam kamar utama tersebut. Di sampingnya, gundukan selimut bergerak pelan. Vernon Abraham, yang sejak tadi tertidur lelap setelah kelelahan menguasai Olivia sepanjang malam, mendadak terusik dari tidurnya. Pria berusia 34 tahun itu mengerutkan alisnya tajam, merasa terganggu oleh suara tangisan yang memecah ketenangannya. Vernon membuka matanya perlahan. Sepasang mata elangnya yang biasanya tajam masih tampak agak redup khas orang baru bangun tidur, namun kilat keangkuhan di dalamnya sama sekali tidak memudar. Pria bertelanjang d**a itu memutar tubuhnya, menyandarkan siku ke atas bantal, dan menatap Olivia yang sedang menangis terisak-isak di sampingnya. Raut wajah Vernon tidak menunjukkan rasa bersalah atau kelembutan sedikit pun. Pria itu justru menghela napas panjang, merasa jenuh dengan drama pagi hari yang disuguhkan wanita di hadapannya. "Diam, Olivia!" perintah Vernon dengan suara berat, dalam, dan teramat dingin yang sarat akan nada frustrasi karena tidur nyenyaknya terganggu. Bukannya berhenti, teriakan bernada perintah itu justru makin memicu emosi dan rasa sakit hati di d**a Olivia. Isakan Olivia berubah menjadi raungan tangis ketidakberdayaan. Ia memukul d**a bidang Vernon yang tak dilapisi benang itu dengan kepalan tangannya yang gemetar. "Kamu jahat, Vernon! Kamu jahat!" jerit Olivia dengan suara parau yang pecah oleh air mata. "Kehormatanku... keperawananku... kamu merebut segalanya dariku! Kenapa kamu lakukan ini padaku?! Kenapa?!" Vernon menahan kedua pergelangan tangan Olivia dengan satu genggaman tangannya yang besar dan bkuat, menghentikan pukulan tak bertenaga wanita itu tanpa kesulitan sedikit pun. Pria itu menatap lurus ke dalam mata karamel Olivia yang memerah dan dibasahi air mata. "Aku tidak merebut apa pun, Olivia. Aku hanya mengambil apa yang sejak awal memang menjadi hak milikku sebagai suamimu," balas Vernon dingin tanpa keraguan sedikit pun, suaranya terdengar begitu datar namun menekan. "Berhentilah menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Kamu yang menantangku semalam, dan kamu mendapatkan jawaban yang pantas." Vernon melepaskan genggaman tangannya, lalu pandangannya melirik sejenak ke arah bercak darah merah di atas seprei putih. Seringai tipis yang sangat tipis dan hampir tak terlihat terukir di sudut bibirnya—sebuah rasa puas yang terselubung atas kepastian bahwa wanita yang paling ia inginkan ini sepenuhnya adalah miliknya seorang. "Sekarang, hapus air matamu dan diam," lanjut Vernon seraya menyibak selimut dan bangkit dari tempat tidur tanpa rasa canggung sedikit pun dengan tubuh tegapnya yang atletis. "Menangis sampai matamu bengkak tidak akan mengubah kenyataan bahwa kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya mulai semalam." Vernon melangkah menuju kamar mandi tanpa memedulikan Olivia yang masih tergugu lelah di atas pembaringan. Pintu kamar mandi tertutup rapat, menyisakan Olivia yang menangis dalam diam, meratapi takdir baru yang kini mengikatnya lebih erat dari sebelumnya di dalam cengkeraman sang miliarder arogan. ** Pintu kamar mandi berderit terbuka, memperlihatkan Vernon yang sudah kembali segar dengan pakaian kerja lengkap. Setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap buatan penjahit ternama di Savile Row membalut tubuh jangkungnya dengan sangat pas. Rambut hitamnya tertata rapi, dan aroma minyak kayu cendana bercampur citrus eksklusif kembali menguar kuat dari tubuhnya. Pria berusia 34 tahun itu merapikan jam tangan peraknya di pergelangan tangan seraya melangkah mendekati meja rias. Di atas tempat tidur king-size, Olivia masih bergeming. Wanita itu enggan beranjak sedikit pun dari tempat tidur, membungkus rapat tubuh polosnya dengan selimut sutra tebal hingga mebnutupi d**a. Mata karamelnya sembap, memerah akibat tangisan panjang yang tak kunjung mereda. Isakannya mungkin sudah berhenti, namun rasa sakit hati, ngilu di bagian bawah tubuhnya, dan bayangan bercak darah di atas seprei putih masih menghantuinya secara telak. Vernon melirik Olivia dari balik cermin besar. Raut wajah pria itu tampak datar, tanpa ada jejak penyesalan atau rasa bersalah sedikit pun atas tindakan dominannya semalam. Dari dalam dompet kulit mewahnya, Vernon menarik dua lembar kartu tipis berwarna emas dan perak berkilat premium—kartu kredit tanpa batas tambahan dengan limit yang jauh lebih fantastis dari kartu hitam yang dibawa Olivia kemarin. Dengan gerakan santai dan keangkuhan yang alami, Vernon melempar kedua kartu tersebut ke atas kasur, tepat di samping lipatan selimut tempat Olivia berbaring. Suara puk halus kartu yang mendarat di atas kain sutra bergema singkat di dalam kamar yang hening. "Gunakan itu," ujar Vernon dengan suara berat dan dingin yang bernada perintah tak terbantahkan. "Isinya jauh lebih banyak dari yang kamu pakai kemarin. Beli apa pun yang bisa membuat otakmu berhenti berisik." Olivia menatap dua lembar kartu di sampingnya, lalu beralih menatap wajah tampan nan arogan milik Vernon. Rasa terhina yang luar biasa panas mendadak meledak di dalam dadanya. Bibir tipisnya gemetar, bukan lagi karena takut, melainkan karena amarah murni yang membakar seluruh kesadarannya. "Kamu pikir aku ini apa, Vernon?!" seru Olivia dengan suara parau yang sarat akan kebencian. Tangannya yang gemetar menyambar kedua kartu itu dan melemparkannya kembali ke arah d**a Vernon dengan sekuat tenaga. Kartu-kartu mahal itu mengenai jas mewah Vernon sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas lantai marmer. "Aku bukan p*****r!" jerit Olivia dengan mata berkaca-kaca, dadanya naik turun memburu akibat emosi yang meluap. "Kamu pikir dengan melemparkan kartu-kartu bernilai miliaran itu setelah kamu merebut kehormatanku semalam, kamu bisa membayarku?! Aku bukan w************n yang bisa kamu tiduri lalu kamu bayar dengan uang harammu itu, Vernon!" Vernon menghentikan gerakannya yang sedang merapikan kerah jas. Pria itu menghela napas kasar—sebuah hembusan napas berat yang menunjukkan betapa batas kesabarannya menghadapi ketegasan dan kebalikan logika Olivia mulai menipis. Pria itu memutar tubuhnya, melangkah perlahan menuju tepi tempat tidur, lalu menunduk menatap Olivia dari ketinggian posturnya yang intimidatif. Sepasang mata elangnya memicing tajam, mengunci pandangan Olivia tanpa memberi ruang untuk melarikan diri. "Jaga bahasamu, Olivia," tegur Vernon dengan suara pelan namun teramat dingin, mengandung getaran ancaman yang sanggup membekukan udara di sekeliling mereka. "Jangan pernah menyamakan dirimu dengan wanita-w************n di luar sana, apalagi menyebut dirimu sendiri p*****r di hadapanku." "Lalu apa bedanya?!" potong Olivia menantang, air mata kembali menetes membasahi pipinya yang mulus. "Kamu menculikku, mengurungku di sini, dan merenggut keperawananku secara paksa! Lalu sekarang kamu melemparkan uang padaku!" Vernon terkekeh rendah—sebuah tawa satir yang tajam dan sarat akan cemoohan murni. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahannya, menatap Olivia dengan raut wajah meremehkan. "Pergi berbelanja saja daripada kamu merungut dan murung tak berguna di dalam kamar ini sepanjang hari," ujar Vernon datar, mengabaikan tuduhan emosional istrinya. "Pergi ke luar, habiskan uang itu, atau beli seluruh butik di kota ini jika itu bisa mengalihkan pikiran konyolmu." "Aku tidak mau uangmu!" ketus Olivia seraya memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gaya angkuh yang terluka. "Dengarkan aku baik-baik, Olivia," Vernon membungkukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Olivia hingga aroma minyak kayu cendananya menguasai indra penciuman wanita itu. Suara beratnya berbisik tegap dan dingin: "Mau kamu menangis air mata darah sekalipun, mau kamu meratapi nasibmu seribu kali hari ini, tetap saja kenyataannya tidak akan pernah berubah: kamu tidak perawan lagi." Kata-kata Vernon menghantam d**a Olivia seperti tusukan belati dingin. Tubuh Olivia membeku di tempat. "Dan ingat satu hal," lanjut Vernon seraya menegakkan kembali tubuhnya, menatap Olivia dengan keangkuhan mutlak. "Kita ini sudah menikah secara sah. Kamu adalah istriku, dan apa yang terjadi semalam adalah hubungan yang sah di mata hukum dan agama. Aku tidak memungutmu dari jalanan untuk dibayar, aku menafkahimu sebagai suamimu. Jadi berhentilah bertingkah seolah kamu adalah korban kejahatan." Vernon melirik jam tangan peraknya sejenak, lalu berbalik menuju pintu keluar kamar utama tanpa menunggu balasan dari Olivia yang kini terdiam menahan sesak di dadanya. "Marco dan para pengawal sudah siap di bawah," ucap Vernon sebelum memutar gagang pintu. "Sekembaliku dari kantor nanti malam, aku tidak ingin melihat wajah murungmu lagi. Mengerti?" BAM. Pintu jati tebal itu tertutup rapat, menyisakan Olivia yang terpaku di atas pembaringan mewah dalam keheningan yang menyiksa. Olivia mengebpalkan tangannya di balik selimut sutra, menatap dua kartu kredit yang tergeletak di lantai marmer dengan pandangan benci yang bercampur dengan kenyataan pahit bahwa dirinya kini benar-benar telah terikat sepenuhnya dalam lingkaran kekuasaan Vernon Abraham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD