Bab 12

1646 Words
Lantai marmer yang terhampar luas di dalam walk-in closet mewah itu memantulkan pendar cahaya dari lampu gantung kristal di atasnya. Olivia berdiri tegap di depan cermin seukuran tubuh, menatap pantulan dirinya dengan pandangan mata yang telah berubah total. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata atau raut wajah rapuh yang menyedihkan seperti tadi pagi. Ia telah menyapu bersih bekas-bekas tangisannya, mengoleskan toner, pelembap mahal, dan riasan wajah bergaya editorial yang sempurna. Bibir tipisnya dipoles lipstick berwarna merah menyala—warna keberanian dan kekuasaan. Rambut karamelnya yang tebal ditata bergelombang lembut jatuh di atas bahu. Untuk pakaian hari ini, Olivia memilih setelan gaun terusan sutra bermotif eksklusif dari Dior yang membalut anggun tubuh moleknya, dilengkapi dengan sepatu hak tinggi keluaran Christian Louboutin berwarna senada yang membuat kakinya tampak makin jenjang. Olivia menatap pantulan dirinya sekali lagi, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kecerdikan dan keangkuhan murni. Kata-kata Vernon tadi pagi memang menyakitkan, tetapi di sisi lain, ucapan pria arogan itu membangkitkan kembali akal sehatnya. Vernon benar dalam satu hal: meratapi hilangnya keperawanan sampai air mata darah sekalipun tidak akan pernah memutar balikkan waktu. Keperawanannya sudah hilang, tubuhnya sudah terjamah, dan ia tidak boleh membiarkan dirinya terus-terusan menjadi korban yang menyedihkan di dalam sangkar emas ini. Jika Vernon ingin bermain-main dengan kekuasaan dan pernikahan sah ini, maka Olivia akan melayaninya dengan aturan permainannya sendiri. "Menangis hanya membuat wajahku keriput," gumam Olivia seraya menyemprotkan parfum beraroma floral eksklusif ke pergelangan tangan dan lehernya. "Mari kita lihat seberapa jauh aku bisa membuat hidupmu tidak tenang, Vernon Abraham." Olivia melangkah keluar dari walk-in closet dengan percaya diri. Langkah kakinya yang diiringi ketukan nyaring sepatu hak tinggi membelah keheningan kamar utama. Ia menunduk sebentar, mengambil dua lembar kartu kredit tanpa batas edisi emas dan perak yang tadi pagi dilemparkan Vernon ke lantai. Tanpa rasa ragu sedikit pun, Olivia memasukkan kedua kartu bernilai miliaran itu ke dalam tas tangan kulit buaya edisi terbatas miliknya. Gengsi? Masa bodoh dengan gengsi. Vernon sendiri yang menyuruhnya menghabiskan uang itu untuk mengalihkan pikiran konyolnya, jadi mengapa ia harus menolak fasilitas yang disodorkan secara cuma-cuma? Namun, begitu tiba di ambang pintu kamar mandi dan hendak melangkah keluar, langkah Olivia mendadak tertahan. Otaknya mulai berputar cepat. Kemarin ia sudah memborong belasan tas branded, gaun-gaun haute couture, sepatu, hingga ponsel titanium bernilai ratusan juta. Kalau hari ini ia kembali ke mall hanya untuk membeli barang-barang yang sama, rasanya terlalu biasa dan membosankan. Itu tidak akan cukup untuk membuat syaraf di kepala Vernon tegang. Pria itu terlalu kaya untuk terganggu hanya karena tagihan belanjaan bernilai miliaran rupiah. Vernon butuh kejutan yang jauh lebih ekstrem, sesuatu yang sanggup mencoreng harga diri tingginya sebagai seorang laki-laki dominan. Sebuah ide gila, nekad, dan sangat berbahaya mendadak melintas di dalam kepala Olivia. Sudut bibir merahnya terangkat membentuk garis senyum yang amat licik. Olivia memutar tubuhnya, melangkah keluar dari kamar utama menuju kooridor lantai dua mansion. Di sana, persis di dekat undakan tangga utama, berdiri Marco. Kepala pengawal kepercayaan Vernon itu tampil sangat tegap dengan setelan jas hitam rapi, kemeja putih bersih tanpa cela, dan dasi hitam yang terikat sempurna. Pria berusia awal tiga puluhan itu memiliki postur tubuh yang atletis, d**a bidang, rahang tegas, dan raut wajah yang bisa dikategorikan sangat tampan untuk ukuran seorang pria yang berprofesi sebagai pengawal pribadi. Marco sedang berbisik memberikan instruksi melalui earpiece kepada beberapa anak buahnya di lantai bawah saat mendengar ketukan nyaring sepatu hak tinggi milik Olivia. Begitu menyadari kehadiran sang nyonya rumah, Marco langsung mematikan salurannya, menegakkan posisi berdirinya, dan menundukkan kepala dengan sikap teramat sopan dan profesional. "Selamat pagi menjelang siang, Nyonya Olivia," sapa Marco dengan suara berat dan tenang. "Kendaraan dan tim pengawal sudah siap di depan lobby utama untuk mengantar Anda berbelanja sesuai perintah Tuan Vernon." Olivia tidak langsung menjawab. Ia menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di hadapan Marco. Sepasang mata karamelnya menyapu penampilan Marco dari ujung rambut hingga sepatu kulit yang terpoles mengkilap di kakinya. Tatapan Olivia begitu intens, terang-terangan, dan tanpa rasa canggung sedikit pun. Marco yang menyadari pandangan menilai dari Olivia tetap berusaha menjaga raut wajahnya agar tetap datar dan formal, meskipun di dalam hatinya ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan tatapan wanita di depannya ini. "Marco," panggil Olivia lembut, suaranya diwarnai nada rendah yang amat memikat. "Ya, Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Marco sigap. Olivia memiringkan kepalanya sedikit, mengamati rahang tegas Marco dan bahunya yang lebar. "Ternyata kalau dilihat-lihat dari dekat... kamu ini cukup tampan ya." DEG! Marco tersentak kecil di tempatnya berdiri. Namun, sebagai pengawal profesional yang terlatih menghadapi berbagai situasi ekstrem, ia berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya dalam hitungan detik. Ia menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam. "Terima kasih atas pujian Anda, Nyonya. Tapi saya hanyalah pengawal pribadi yang bertugas menjalankan perintah Tuan Vernon untuk menjaga keselamatan Anda," balas Marco dengan nada sangat formal, berusaha menarik batas tegas yang sangat jelas. Olivia terkekeh pelan—suara tawa renyah yang terdengar teramat manja sekaligus provokatif. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memangkas jarak profesional di antara mereka hingga aroma wangi parfum mewahnya merayap menguasai indra penciuman Marco. Dengan gerakan yang teramat berani dan tanpa tahu malu sedikit pun, Olivia mengulurkan tangannya yang lentik, menyentuh bagian leher jas hitam milik Marco, dan merapikannya secara perlahan seraya menatap lurus ke dalam mata pengawal itu. "Memangnya kamu tidak bosan terus-terusan menjadi anjing penurut Vernon?" bisik Olivia dengan nada suara yang penuh godaan berbahaya. "Menjalankan semua perintahnya siang dan malam, mempertaruhkan nyawamu hanya untuk pria arogan yang merasa bisa membeli dunia itu?" Jantung Marco berdesir hebat bukan karena terpesona, melainkan karena alarm bahaya tingkat tinggi mendadak meraung keras di dalam kepalanya! Sentuhan jemari Olivia di jasnya terasa bagaikan besi panas yang membakar kulitnya. "Nyonya Olivia, tolong jaga jarak Anda," ujar Marco tegap, suaranya sedikit tertahan seraya melangkah mundur satu tapak untuk melepaskan diri dari sentuhan Olivia. "Tindakan Anda sangat tidak sopan dan tidak pantas." Bukannya tersinggung atau mundur, Olivia justru menyunggingkan seringai yang kian lebar. Ia melipat kedua tangannya di d**a, menatap Marco dengan binar mata nakal yang sarat akan kegilaan. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang sebentar, Marco?" lontar Olivia santai, seolah-olah ia sedang mengajak pria itu minum teh di sore hari. "Ayo selingkuh denganku." DUARRR! Kalimat pendek yang keluar dari bibir merah Olivia menghantam kesadaran Marco bagaikan ledakan bom atom! Kepala pengawal yang biasanya selalu tenang, dingin, dan tak tersentuh itu seketika membelalakkan matanya lebar-lebar. Wajahnya yang tegap mendadak memucat pasi, dan nafasnya tertahan rapat di tenggorokan. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun bekerja pada keluarga Abraham, Marco benar-benar kehilangan topeng profesionalnya. "N-Nyonya?!" cicit Marco dengan suara yang sedikit bergetar karena syok luar biasa. "Apa yang baru saja Anda katakan?!" "Kamu tidak salah dengar, Marco," balas Olivia santai seraya mengibaskan rambut karamelnya ke belakang bahu. "Ayo selingkuh denganku. Kita buat hubungan gelap di belakang Vernon. Kamu tampan, gagah, dan sejujurnya jauh lebih menyenangkan untuk dilihat daripada mantan suamiku yang sok berkuasa itu. Lagi pula, bukankah ini tawaran yang sangat menarik untukmu?" Marco merinding diseluruh tubuhnya. Bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Kalimat gila dari wanita di hadapannya ini bukan lagi sekadar candaan atau godaan biasa—ini adalah tiket langsung menuju neraka! "Jangan gila, Nyonya!" seru Marco seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat keras dan cepat, melangkah mundur dua tapak lagi hingga punggungnya nyaris menabrak dinding koridor. Raut wajah Marco dipenuhi ketakutan murni. Pria tangguh yang tak pernah gentar menghadapi pistol atau pisau itu kini tampak seperti orang yang baru saja melihat malaikat pencabut nyawa berdiri di depannya. "Saya masih mau hidup!" tegas Marco dengan napas yang memburu dan suara yang ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar oleh anak buahnya di lantai bawah. "Saya tidak mau mati konyol di tangan Tuan Vernon!" "Coki... kenapa harus takut?" goda Olivia lagi, melangkah maju menyudutkan Marco dengan tawa meremehkan. "Vernon tidak akan tahu kalau kita melakukannya dengan rapi. Lagipula, bukankah seru kalau kita bisa membuat pria sombong itu gigit jari?" "Tolong, Nyonya Olivia! Hentikan lelucon gila ini!" potong Marco cepat dengan wajah yang kian memucat. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan d**a dengan sikap memohon yang sangat serius. "Tuan Vernon bukan pria sembarangan yang bisa Anda bodohi! Jika beliau tahu ada niat atau bisikan seperti ini—jangankan melakukannya, baru memikirkannya saja—Tuan Vernon akan dikuliti hidup-hidup dan tubuh saya akan dibuang ke tengah samudra sebelum matahari terbenam!" Marco tahu betul seberapa posesif dan kejamnya seorang Vernon Abraham. Vernon adalah pria yang sanggup meratakan satu perusahaan raksasa hanya karena pemiliknya menatap Olivia terlalu lama di sebuah acara pesta. Apalagi jika ada pria yang berani menyentuh atau berselingkuh dengan wanita yang paling diincarnya sepanjang hidup ini? Hukuman mati pun terasa terlalu ringan untuk menggambarkan murka Vernon. Olivia menatap reaksi panik dan ketakutan setengah mati dari Marco dengan tawa renyah yang meluap dari tenggorokannya. Rasa puas yang luar biasa membuncah di dadanya melihat betapa berkuasanya nama Vernon sampai-sampai pengawal terbaiknya saja gemetar ketakutan hanya karena sebuah ajakan selingkuh verbal. "Hahaha! Kamu penakut sekali, Marco," cemooh Olivia seraya merapikan gaun terusan Dior-nya. "Padahal aku hanya ingin melihat seberapa setia kamu pada majikanmu itu." Marco menghela napas lega yang teramat panjang, menyapu keringat dingin yang mendadak muncul di dahi dan pelipisnya. Dadanya masih naik turun memburu akibat serangan jantung mendadak yang baru saja diberikan oleh nyonya rumah yang teramat tidak terduga ini. "Lelucon Anda sangat tidak lucu, Nyonya," ucap Marco dengan suara parau seraya mengusap wajahnya lelah. "Tolong jangan pernah mengulanginya lagi, bahkan untuk bercanda sekalipun. Tuan Vernon memiliki mata dan telinga di mana-mana. Jika beliau mendengar desas-desus ini, bukan hanya saya yang hancur, tetapi Anda juga akan merasakan akibat dari kemurkaannya." Olivia hanya mengibaskan tangannya santaih, tidak memedulikan peringatan serius dari Marco. "Sudahlah. Ayo antar aku keluar sekarang. Mood-ku untuk menghabiskan uang Vernon sedang berada di puncaknya." "Baik, Nyonya," jawab Marco patuh, cepat-cepat membungkukkan tubuhnya dan memberi jalan untuk Olivia berjalan lebih dulu di depan. Pria itu bersumpah dalam hati untuk menjaga jarak setidaknya tiga meter dari wanita berbahaya ini sepanjang hari, demi menyelamatkan nyawanya dari murka sang juragan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD