Bab 13

1115 Words
Lantai marmer mengkilap dan pendar lampu hangat menyambut kehadiran Olivia di salah satu salon dan spa medis paling eksklusif di pusat kota. Aroma terapi esensial berbau lavender bercampur minyak mawar yang menenangkan langsung menyerbu indra penciumannya begitu ia melangkah masuk. Tempat ini adalah langganan para wanita daari kalangan elit dan sosialita kelas atas yang ingin memanjakan diri dengan perawatan tubuh berharga fantastis. Setelah insiden kecilnya menakut-nakuti Marco di mansion tadi, Olivia memutuskan untuk mampir ke salon premium ini sebelum melanjutkan perburuan belanjanya. Rasa pegal dan linu yang menjalar di seluruh persendiannya—akibat gempuran tak berkesudahan dari Vernon semalam—membuat tubuhnya sangat membutuhkan pijatan relaksasi. Seorang manajer salon dengan senyum ramah dan gestur sangat sopan langsung menyambut kedatangan Olivia. Tanpa perlu mengantre, Olivia dipandu menuju private suite—sebuah ruangan perawatan VIP berukuran luas yang dilengkapi dengan fasilitas mandi uap, area pijat pribadi, dan pencahayaan lembut yang dirancang untuk kenyamanan maksimal. "Silakan ganti pakaian Anda dengan jubah mandi yang sudah kami sediakan, Nyonya. Terapis kami akan segera masuk untuk memulai perawatan body massage dan essential oil therapy," ucap sang manajer dengan sangat santai dan sopan sebelum membungkuk hormat dan pamit keluar ruangan. Olivia mengunci pintu ruangan pribadi itu dari dalam. Ia melangkah menuju cermin besar berdinding emas, lalu perlahan melepaskan gaun terusan sutra Dior yang membalut tubuhnya. Namun, begitu kain sutra itu terlepas dan meluncur turun ke lantai, Olivia mendadak membeku di tempat. Sepasang mata karamelnya membelalak lebar menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Wajahnya seketika merona merah padam, membakar sampai ke ujung telinganya. Rasa malu dan gejolak kekesalan yang luar biasa mendadak menyeruak memenuhi dadanya. "Vernon sialan... pria gila!" bisik Olivia dengan suara bergetar menahan geram. Di atas permukaan kulit mulusnya yang seputih porselen, terukir 'karya' brutal dari mantan suaminya semalam. Bercak-bercak merah keunguan—kissmark yang teramat jelas, tebal, dan melimpah—tersebar tanpa ampun di area leher bagian bawah, tulang selangka, bahu, hingga merambat turun ke d**a dan punggung mulusnya. Jejak-jejak keberadaan Vernon itu seolah sengaja dicetak untuk menandai seluruh inci tubuh Olivia sebagai wilayah kekuasaan mutlak sang miliarder. Olivia mengepalkan jemarinya erat-erat, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Mengingat bagaimana pria arogan itu menjamah, menyesap, dan menguasai tubuhnya tanpa celah sepanjang malam membuat dadanya berdesir antara rasa benci dan rasa malu yang campur aduk. Vernon benar-benar brutal dan tanpa belas kasihan. Klek. Suara ketukan pintu pelan menyadarkan Olivia dari lamunannya. Seorang terapis wanita paruh baya berpenampilan sangat rapi masuk membawa nampan berisi botol-botol minyak esensial dan handuk hangat. "Selamat siang, Nyonya. Saya Heni yang akan memijat Anda hari ini," sapa terapis itu ramah seraya menundukkan kepala. Olivia cepat-cheap menarik jubah mandi berbahan handuk tebal dan mengikat tali pinggangnya rapat-rapat hingga menutupi lehernya. Ia berusaha bersikap setenang dan seanggun mungkin, meski jantungnya berdebar kencang akibat rasa malu yang teramat sangat. "Ya, silakan. Tolong fokuskan pijatannya di bagian punggung dan pinggang, tubuhku terasa sangat pegal," ujar Olivia seraya melangkah dan merebahkan tubuhnya secara tengkurap di atas ranjang pijat yang empuk. "Baik, Nyonya. Mohon izin untuk menurunkan sedikit bagian atas jubah mandi Anda agar saya bisa mengoleskan minyak terapi ke area punggung dan bahu," terang sang terapis dengan lembut. Olivia menahan napasnya sejenak. Dengan sangat perlahan dan perasaan cemas luar biasa, ia membiarkan terapis itu melonggarkan bagian atas jubah mandinya. Saat kain tebal itu terkelupas dan mengekspos area bahu serta punggung atas Olivia, suasana di dalam ruangan itu mendadak hening sejenak. Terapis wanita yang tadinya bersiap mengoleskan miinyak mendadak menghentikan pergerakan tangannya selama beberapa detik. Mata terapis itu membelalak tipis melihat pemandangan di hadapannya. Punggung dan bahu mulus Olivia dipenuhi oleh puluhan jejak kepemilikan berwarna merah pekat yang sangat kentara. Sebagai seorang terapis berpengalaman yang sering melayani pelanggan kaya, wanita itu tentu paham betul apa arti dari tanda-tanda keintiman yang teramat intens tersebut. Olivia yang bisa merasakan jeda mengagetkan dari sang terapis langsung meremas pinggiran kasur busa. Wajahnya yang menghadap ke bawah tertutup bantal pijat terasa terbakar hebat. Rasa malu yang meluap-luap membuatnya ingin rasanya melenyapkan diri dari tempat itu sekarang juga! "M-maaf, Nyonya..." cicit sang terapis dengan nada agak canggung, berusaha bersikap seprofesional mungkin meski senyum tertahan sempat terukir di bibirnya. "Apakah... apakah tekanan pijatannya mau dibuat sangat lembut di area yang memar ini? Agar tidak terasa sakit?" Pertanyaan halus namun sarat akan pemahaman itu makin membuat Olivia serasa disiram minyak panas. Rasanya ia ingin berteriak dan menyumpahi Vernon seribu kali! Pria b******k itu benar-benar sukses membuatnya menanggung malu di hadapan orang lain! "I-iya... pelan-pelan saja di bagian sana," balas Olivia dengan suara pelan yang agak tertahan, berusaha keras mempertahankan wibawanya sebagai seorang nyonya besar yang angkuh. "Suamikuh... dia agak keterlaluan semalam." Terapis wanita itu mengangguk-angguk paham seraya tersenyum mengerti. "Tentu, Nyonya. Itu hal yang sangat wajar bagi pasangan suami istri yang sedang hangat-hangatnya. Tuan pasti sangat mencintai dan terobsesi pada Anda sampai meninggalkan jejak sebanyak ini." Sangat mencintai? Terobsesi?! Olivia ingin sekali tertawa satir mendenngar penilaian polos sang terapis. Vernon bukan mencintainya, pria itu hanya menganggapnya sebagai barang taruhan dan kepemilikan yang harus tunduk di bawah kendalinya! Namun, Olivia memilih untuk tetap bungkam dan membiarkan jemari terapis mulai memijat lembut bahunya yang tegang dengan minyak lavender hangat. Setiap kali usapan lembut terapis itu melewati jejak-jejak kissmark di kulitnya, gambaran keintiman panas semalam kembali berputar secara liar di kepala Olivia. Sentuhan hangat tangan Vernon, suara bisikan berat di telinganya, hingga tatapan mata elang pria itu saat menguasainya secara utuh di atas pembaringan. "Sialan kamu, Vernon Abraham..." batin Olivia mengutuk dalam hati seraya memejamkan matanya rapat-rapat. "Tunggu saja balasku nanti. Setelah ini, aku pastikan kartu kreditmu akan menjerit sampai kamu menyesal telah menyentuhku!" Seusai sesi pijat relaksasi yang cukup menguras ketahanan mental dan rasa malunya, Olivia kembali mengenakan pakaian mewahnya. Ia memastikan gaun terusan Dior-nya terpasang rapi, bahkan menambahkan sebuah syal sutra eksklusif yang dililitkan mengelilingi lehernya untuk menutupi jejak-jejak kejam Vernon yang masih tersisa. Setelah menyelesaikan pembayaran salon dengan menggesek kartu kredit tanpa batas milik Vernon tanpa melihat angkanya sama sekali, Olivia melangkah keluar dari salon dengan gaya melangkah yang kembali angkuh dan elegan. Di luar salon, Marco dan empat pengawal lainnya sudah berdiri sigap di samping mobil *limousine* hitam yang mengkilap. Marco, yang masih agak trauma dengan godaan gila Olivia di mansion tadi pagi, dengan cepat membukakan pintu mobil seraya menjaga jarak aman sejauh dua meter. "Tujuan kita selanjutnya ke mana, Nyonya Olivia?" tanya Marco dengan suara teramat formal dan penuh kewaspadaan. Olivia masuk ke dalam mobil, menyandarkan punggungnya di atas jok kulit yang nyaman, lalu menatap Marco melalui kaca jendela yang terbuka separuh. Seringai cantik namun berbahaya kembali terukir di bibir merah menyalanya. "Ke butik perhiasan termahal di kota ini, Marco," perintah Olivia dingin namun penuh kegembiraan yang meluap. "Aku ingin membeli berlian paling besar yang mereka miliki hari ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD