OD | Kebohongan Dewa

1121 Words
Sedari tadi Alena merasa jika ada seseorang yang tengah menatapnya. Namun dia berusaha untuk mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaannya. Sibuk melayani para pengunjung, Genta tiba-tiba memanggilnya. Membuat Alena mau tidak mau harus menghampiri pria itu. "Ada apa, Bang?" tanya Alena pada pria berkaca mata tersebut yang menjadi atasannya. Cafe tempatnya bekerja memang dirintis oleh Genta sejak kuliah dulu. "Nanti malem lo ada waktu luang nggak?" tanya Genta. "Em, gue harus ngerjain PR sih, Bang. Biasa kelas 3 banyak banget tugasnya." jawab Alena jujur. Pria berusia 28 tahun itu mendesah kecewa. "Sebenernya gue mau ngajak lo makan di warungnya Mang Tejo sih. Mumpung gue lagi baik." cengir Genta. Alena tampak berpikir. Dia juga sudah lama tidak makan di warung bebek milik Mang Tejo tersebut. Alena sudah merindukan kelezatan bebek pria asal Surabaya itu. "Tawaran lo bikin gue ngiler, Bang. Tapi gimana lagi, tugas gue banyak banget." desah Alena meratapi nasib. Apalagi tugas-tugasnya menumpuk karena Alena yang sedikit malas mengerjakannya karena sudah lelah setelah pulang kerja. "Gini aja, nanti gue tutup nih cafe lebih cepet biar kita berdua bisa ke warungnya Mang Tejo." usul Genta. "Berdua? Bukannya rame-rame, Bang?" tanya Alena mengernyit. Genta tersenyum miring yang membuat gigi ginsulnya terlihat. "Gue cuma mau ngajak lo aja, Len." jawab Genta setengah berbisik. Alena manggut-manggut. Biasanya mereka semua akan beramai-ramai pergi ke warung langganan para anak kos tersebut. Tapi kali ini Genta hanya mengajaknya saja. "Tumben, Bang?" kata Alena mengernyit. Sebelum gadis di depannya bertanya yang tidak-tidak, Genta buru-buru menyuruh Alena untuk kembali bekerja. Dan Alena tentu langsung menuruti perintah dari bosnya itu. "Huft.. aman. Jangan sampek dia tau niat gue ngajak dia ke sana." gumam Genta tersenyum kecil dengan mata yang tidak lepas dari sosok cantik itu. Interaksi di antara keduanya ternyata dilihat oleh seorang pria matang yang duduk di area khusus smoking. Pria jangkung dengan jambang tipis yang menghiasi ranjangnya tampak menatap mereka tidak suka. Dia menghisap batang rokok yang dia apit di antar dua jarinya. Menghembuskan asap putih mengepul yang beraroma khas. Pekerjaan yang menumpuk membuat pikirannya penat. Dan dia memutuskan untuk mampir di cafe yang berada di dekat sekolah. Dan siapa yang menyangka jika dia akan bertemu dengan tetangganya yang bekerja di sini juga. Gadis yang sedari tadi diperhatikannya. "Om Dewa.." Panggilan yang terdengar begitu dekat dengan telinganya membuat pria itu menoleh. Di sampingnya kini berdiri seorang gadis cantik yang baru saja memanggil namanya dengan suara yang halus. Dewa sempat membeku saat mendapati gadis yang diperhatikannya sedari tadi kini sudah berdiri di sampingnya. Namun dia buru-buru menetralkan ekspresinya. "Kamu.." gumam Dewa pura-pura terkejut. Gadis itu tersenyum tipis. "Alena kerja part time di cafe ini, Om." ujarnya. Dewa mengangguk samar dan memilih menyeruput kopi untuk menghilangkan rasa canggungnya. "Om Dewa udah dari tadi?" tanya Alena ramah. "Baru beberapa menit yang lalu." jawab Dewa seadanya. Kini gantian Alena yang mengangguk samar. Gadis itu hendak membuka suaranya lagi saat seseorang tiba-tiba memanggil namanya. "Em, ya udah Om, Alena tinggal dulu ya." ujar Alena meringis dan hendak pergi. "Tunggu." cegah Dewa dengan refleks memegang sebelah tangan Alena. Alena mengerjap beberapa kali saat mendapati tangannya dipegang oleh Dewa. Membuat kinerja jantungnya semakin meningkat dua kali lipat tanpa bisa dia cegah. Dewa belum menyadari akan sikapnya yang tidak biasa. Tangannya masih memegang lengan Alena dengan netra kelamnya yang menatap gadis itu dengan teduh. "Jam berapa kamu pulang?" tanya Dewa tanpa sadar melembutkan suaranya. "Ja-Jam 8 malam, Om." balas Alena tergagap. Dewa mengangguk singkat dan melepaskan genggaman tangannya. Membuat Alena dapat kembali bernapas dengan lega. "Kalau gitu Alena tinggal dulu ya, Om." pamit Alena menundukkan kepalanya ringan sebagai bentuk kesopanan. "Semangat." balas Dewa tersenyum tipis. Deg Hanya dengan satu kata penyemangat yang dilontarkan dari pria di depannya, membuat jantung Alena bergemuruh. Rasa hangat mulai melingkupi hatinya. Dan membuat perutnya terasa tergelitik. "Makasih, Om." ucap Alena dengan senyum mengembang dan setengah berlari menjauhi Dewa yang tengah tersenyum teduh melihatnya. |•| Langit senja yang tadinya dihiasi mega merah yang terlihat indah, kini telah digantikan oleh kelamnya langit malam. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Seperti ucapan Genta tadi sore, pria itu benar-benar menutup cafe miliknya lebih cepat. Membuat beberapa pekerja bersorak senang karena bisa beristirahat lebih awal. Begitu juga dengan Alena. Gadis itu sudah selesai berganti baju dengan kaos polos oversize yang dipadukan dengan celana pendek sebatas lutut yang sengaja dia bawa di dalam tas sekolahnya. Setelah suasana di dalam cafe mulai sepi, Genta menghampiri gadis manis itu dengan senyum mengembang. "Udah siap, Len?" tanya Genta. "Udah, Bang. Kita berangkat sekarang?" tanya Alena tersenyum canggung. Genta mengangguk dan tanpa disangka-sangka menggapai tangan Alena untuk digenggamnya. Tanpa bisa dikomando, kedua pipi Alena memerah seketika. Genta tersenyum manis menanggapi raut wajah Alena yang tampak terkesiap. Dia lalu menarik tangan Alena untuk keluar dari cafe miliknya. Pria itu lalu menghentikan langkahnya di depan motor sport miliknya. Membuat Alena mengernyit. "Kita naik motor, Bang?" tanya Alena dengan sebelah alisnya terangkat naik. "Iya, kenapa? Atau lo mau naik mobil?" tanya Genta balik dengan suara beratnya. "Bukan. Gue ngerasa aneh aja gitu. Lo nggak kaya biasanya sih." kata Alena tersenyum meringis. Genta hanya membalas ucapan Alena dengan cengiran. Dia lalu mengambil helm yang ada di atas joknya kemudian memakaikannya pada Alena. "Gue bisa sendiri kali, Bang." kekeh Alena merasa geli dengan perlakuan pria tersebut. "Dikasih perhatian malah nggak mau, cih." decih Genta main-main. Alena hanya mempoutkan bibirnya dan menunggu Genta selesai memasang helm-nya. "Buruan naik." suruh Genta yang sudah siap menunggangi motor sport nya. Alena mengangguk dan bersiap naik di jok belakang motor Genta. Namun tiba-tiba.. "Alena.. " panggil sebuah suara yang ada di belakang mereka. Alena dan Genta serempak menoleh. Menatap seorang pria dewasa yang tengah berdiri tak jauh di tempat mereka berada. Alena menyipit dengan raut heran. Mengapa pria itu ada di sini? Jangan bilang.. "Om Dewa? Om Dewa ngapain di sini?" tanya Alena heran. Dewa berjalan mendekat ke arah Alena. Menatap gadis itu dengan pandangan tak terbaca. Kedua tangannya berada di saku celana panjangnya. "Pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Dewa dengan suara tenangnya. Alena mengangguk samar dengan netra yang tak lepas menatap netra kelam Dewa. "Saya menunggu kamu sedari tadi." tutur Dewa mengeluarkan tangan kirinya dari saku celananya dan menatap arloji yang melingkar di lengannya. "Apa? Jadi Om Dewa nungguin Alena dari tadi?" tanya Alena syok. Anggukan kecil dari Dewa menjadi jawaban dari pertanyaan gadis itu. "Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Dewa kembali bertanya. "Tapi.. " "Maaf, Anda siapa ya?" tanya Genta yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi antara Alena dengan pria asing yang baru pertama kali ini dia temui. Dewa beralih menatap pria yang berada di belakang Alena. Sudut bibirnya terangkat naik walau hanya beberapa detik saja. "Saya Dewa, kekasih Alena." ujar Dewa yang membuat dua orang yang ada di depannya membelalak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD