Alena meringis karena lagi-lagi dia tidak bisa mengontrol ucapannya. Sebelum suasana di antara mereka menjadi awkward, gadis itu memilih untuk pura-pura menggeleng dengan wajah polos.
Alena menghembuskan napas lega karena Dewa sepertinya tidak ingin mempermasalahkannya lebih lanjut. Dia memilih diam dengan mengikuti langkah lebar pria itu menuju parkiran kos.
"O-Om.." cicit Alena kikuk saat Dewa berhenti di samping motor sport berwarna hitam.
Dewa hanya menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan seolah menanyakan 'kenapa' pada gadis itu.
"Gimana cara Alena naik, Om? Alena pake rok." ujar Alena menyuarakan kebingungannya.
Dewa tampak diam dan melihat penampilan Alena saat ini. Rok abu yang panjangnya 5 senti di atas lutut mengusik penglihatannya. Apa rok sekolah Alena harus sependek itu?
"Sebentar." ucap Dewa singkat dan membuka tas hitam yang dia bawa.
Pria itu lalu mengeluarkan sebuah jaket dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Alena.
"Pakai ini." suruh Dewa menatap Alena.
Alena mengerjap, menatap jaket berwarna hitam yang Dewa sodorkan. Sekali lagi dia mendongak, menatap manik kelam Dewa yang juga tengah menatapnya. Dan entah mengapa membuat jantung Alena menjadi berdebar.
Karena tak kunjung mendapat respon dari gadis di depannya, Dewa berdecak samar. Tanpa sepatah kata dia langsung melingkarkan lengan jaketnya ke pinggang ramping Alena.
Jarak di antara mereka begitu dekat. Membuat tubuh depan mereka saling bersentuhan. Dan Dewa dengan jelas bisa merasakan sesuatu yang empuk terasa menekan perutnya.
Tuing
Alena mengerjap saat Dewa tanpa aba-aba melingkarkan jaketnya pada pinggangnya. Jantungnya berdebar cepat merasakan kedekatan mereka. Apalagi saat sesuatu yang keras terasa menekan perutnya.
Shit
Di sisi lain, Dewa sadar akan miliknya yang bereaksi hanya karena berdekatan dengan Alena. Pria itu buru-buru menjauh agar Alena tidak menyadari akan apa yang terjadi pada benda yang ada di antara selangkangannya. Dia tidak ingin gadis itu berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya.
"Sudah." ujar Dewa berdehem dan sedikit menjaga jarak.
Alena mengulum bibirnya dengan wajah memerah. Dia mendongak, bertemu pandang dengan Dewa yang juga tengah menatapnya.
"Segera naik jika tidak ingin terlambat." kata Dewa yang kini sudah menunggangi motor sport nya.
Alena mengangguk lirih dan berusaha untuk naik ke jok belakang motor Dewa. Karena kakinya yang mungil, dia cukup kesusahan untuk naik jika tidak dibantu oleh Dewa.
"Kamu harus rajin olahraga agar bertambah tinggi." tiba-tiba Dewa mengatakan kalimat itu saat mereka keluar dari area parkir kos.
"Secara nggak langsung Om Dewa mau bilang kalau Alena pendek kan?" seloroh Alena dengan bibir mengerucut.
"Benar. Tenyata kamu paham apa yang saya maksud." balas Dewa terkekeh pelan.
Alena mendengus, tetangganya ini memang sangat menyebalkan.
"Alena udah rajin olahraga, Om. Tapi nggak tau kenapa masih gini-gini aja." timpal Alena tanpa sadar merapatkan tubuh depannya pada punggung Dewa.
Damn
Dewa mengumpat dalam hati karena merasakan sesuatu yang terasa menekan punggungnya. Rasanya empuk dan besar, membuatnya sedikit kehilangan konsentrasi karena hal tersebut.
Dewa tak lagi menanggapi ucapan Alena. Dia lebih fokus pada kemudinya agar tidak jatuh karena tekanan pada punggungnya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia jadi sensitif jika berdekatan dengan gadis manis ini.
Alena yang tak mendapati tanggapan dari Dewa juga memilih untuk diam. Dia menatap punggung lebar pria berstatus duda itu dengan tatapan tak terbaca. Lalu tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.
|•|
"Gue pulang duluan ya, Len." pamit Runa saat melihat mobil jemputannya datang.
Alena yang tengah memakan es krimnya mengangguk singkat dan mengacungkan jempol. Membuat Runa berlari meninggalkan gadis itu sembari melambaikan tangannya.
Kini Alena tengah duduk di halte depan sekolahnya seorang diri. Seperti biasa, tujuannya kali ini adalah sebuah cafe yang berada di sebrang sekolahnya.
Gadis itu membuang stik es krim di tempat sampah setelah menghabiskannya. Alena lalu beranjak dan bergegas menyebrang ke cafe sebrang saat jalanan terlihat lenggang.
Ting
Lonceng yang berada di pintu masuk cafe berdenting saat dia memasuki tempat kerjanya. Terhitung sudah hampir satu tahun dia bekerja di cafe bernama Genta's Caffe.
"Baru dateng, Len?" sapa seorang pria berkaca mata dengan ramah.
"Eh, Bang Genta." Alena memegangi dadanya karena terkejut dengan kehadiran pria bernama Genta itu.
Genta tertawa kecil hingga memperlihatkan gigi ginsulnya. Membuat kesan manis tampak di wajahnya yang dihiasi keringat tipis.
"Buruan ganti baju sana. Bentar lagi waktunya anak kuliah pada ke sini." suruh Genta yang langsung diangguki oleh Alena.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Alena mengganti seragam sekolahnya menjadi segaram kerja. Alena keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan blazer hitam, serta rok pendek sebatas lutut yang juga berwarna hitam.
Gadis itu tampak sangat cantik dengan penampilan sederhananya itu. Tak menyadari jika sedari tadi ada seorang pria yang tengah menatapnya dengan intens.
Pria bersetelan kerja yang terlihat sudah berusia matang tersebut selalu mengikuti kemana arah Alena pergi. Dia datang beberapa menit setelah gadis itu masuk ke dalam cafe.
"Jadi ini tempat dia bekerja part time." gumam pria itu menyesap rokoknya. Dia memang memilih area khusus smoking karena merasa penat dengan pekerjaannya.
Pria itu bergumam tidak jelas dan menatap sekitar cafe yang cukup ramai. Dan netra kelamnya berhenti pada satu titik dimana ada seorang pria berkaca mata yang tampak menatap Alena dengan pandangan tak terbaca.
Melihat hal tersebut, entah mengapa membuat pria itu merasa tidak senang. Namun secepat kilat dia berusaha mengenyahkan pikiran itu.
"Lena.."
Seruan yang terdengar di indra pendengarannya membuat pria itu yang awalnya menunduk seketika menoleh. Netra kelamnya lalu tak lepas menatap gadis cantik yang tengah menghampiri pria berkaca mata yang sebelumnya membuat dia merasa tidak suka.
"Sial, pria itu sepertinya berusaha mendekatinya." umpat pria itu kesal.
Kedua netranya tak berhenti menatap interaksi di antara dua orang itu. Alena tampak sesekali tersenyum manis yang membuatnya menggeram karena tak rela. Sedangkan pria berkaca mata tersebut terlihat terus mengoceh.
"Mengapa kamu harus tersenyum seperti itu, Al? Jangan biarkan pria itu melihat senyum indahmu. Hanya aku yang boleh melihatnya." gumam pria itu pelan.
Namun lagi-lagi setelah menyadari apa yang dia pikirkan dan ucapakan barusan membuat pria itu kembali menyalahkan dirinya sendiri. Ada apa dengan dirinya? Mengapa dia harus semarah itu melihat Alena bersenda gurau dengan pria yang tidak dia ketahui namanya.
Terlalu sibuk dengan pikirannya, pria itu sampai tidak menyadari jika gadis yang tengah dipikirkannya itu kini tengah berjalan menuju ke arahnya.
"Om Dewa.." sapa sebuah suara yang membuat pria bernama Dewa itu gelagapan karena Alena mengetahui keberadaannya.
***