OD | Sadar Lena, Dia Duda

1050 Words
Kedua netra berbeda warna itu saling membelalak dengan bibir yang saling bersentuhan. Alena yang menyadari pertama kali langsung saja menarik wajahnya menjauh. Membuat Dewa mengerjap karena kehilangan kehangatan bibir gadis itu. "Ma-Maaf, Om." cicit Alena dengan memegangi bibirnya. Wajahnya memerah karena mengingat apa yang baru saja terjadi pada mereka. Dewa tak bergeming dan berkali-kali mengerjap. Walau kecupan itu tak sengaja, namun berhasil membuatnya kalang kabut. "O-Om.." cicit Alena saat tak kunjung mendapat respon dari pria di depannya. Gadis itu terduduk kaku di atas kursinya. "Om Dewa.." suara Alena sedikit keras kali ini. Namun cukup membuat Dewa kembali ke alam sadarnya. "H-Hah? Ada apa?" tanya Dewa tergagap. "Alena nggak sengaja jatuh. Maafin Alena ya, Om." kata Alena dengan suara pelan. Kedua tangannya saling bertaut dengan wajah resah. "Ti-Tidak apa-apa. Tidak perlu dipikirkan." ujar Dewa berusaha setenang mungkin. Alena mengangguk kaku dan membuat suasana di antara mereka semakin terasa canggung. Dewa beberapa kali mengusap bibirnya yang masih terasa manis akan rasa bibir Alena barusan. "Om Dewa nggak mau balik? Alena takut ada yang nyariin." Alena berkata dengan hati-hati. Dia tidak ingin Dewa berpikir jika dia tengah mengusir pria itu dari kamar kosnya. "Memangnya siapa yang akan mencari saya?" Dewa justru melontarkan pertanyaan sebagai jawabannya. "Istri Om, mungkin. Alena cuma nggak mau istri Om Dewa mikir yang nggak-nggak." jawab Alena menggigit bibirnya gugup karena kali ini Dewa menatapnya dengan intens. "Saya tidak punya istri." timpal Dewa yang kembali ke setelan awalnya menjadi pria datar. "Om belum nikah?" tanya Alena mengerjap yang diangguki oleh Dewa. "Jadi Om perjaka tua dong?" celetuk Alena dengan polosnya. Uhukk Dewa seketika tersedak ludahnya sendiri mendengar celetukan Alena. Mengapa gadis belia ini bisa beranggapan seperti itu? "Apa saya terlihat seperti pria malang yang tak kunjung mendapat jodoh di mata kamu?" seloroh Dewa memicingkan matanya. Alena gelagapan. Dia merutuki mulutnya yang suka sekali berbicara frontal. "Bu-Bukan gitu Om maksud Alena. Alena cuma-" "Saya duda." Belum sampai Alena membela dirinya di depan Dewa, pria itu sudah lebih dulu memotong ucapannya. "O-oh.." Hanya itu yang bisa Alena suarakan. Dia terlalu bingung untuk mengakhiri pembicaraan yang sensitif ini. "Jadi tidak ada yang akan mencari saya." lanjut Dewa yang masih terlihat tidak ingin beranjak dari duduknya. Alena mengangguk samar menimpali ucapan Dewa barusan. Dia menggosok-gosok lengannya yang tidak gatal untuk menghalau rasa canggung yang dia rasakan. "Kamu sendiri kenapa memilih tinggal di kos? Saya lihat kamu sepertinya berasal dari keluarga yang berkecukupan." ujar Dewa yang mulai tertarik untuk mengorek informasi pribadi Alena. "Panjang ceritanya, Om. Yang jelas Alena lebih suka tinggal sendiri daripada di rumah." Alena tampak enggan membahas mengenai keluarganya. Dewa mengangguk maklum. Sepertinya dia terlalu lancang untuk menanyakan hal itu pada Alena. Tapi.. "Kamu tidak takut ada seseorang yang berniat buruk sama kamu? Apalagi kamu tinggal sendiri." tanya Dewa lagi. Alena tampak diam sejenak. Jika dipikir-pikir apa yang ditanyakan Dewa memang benar. Tapi dia berusaha bersikap setenang mungkin dan tidak memperlihatkan itu pada Dewa. "Sejauh ini nggak ada sih, Om. Alena ngerasa aman-aman aja tinggal sendiri." balas Alena pada akhirnya. Dewa manggut-manggut. Sebenarnya jantungnya sedari tadi masih berdetak hebat mengingat akan ciuman mereka yang tidak sengaja beberapa menit lalu. Namun dia berusaha untuk terlihat biasa saja agar Alena tidak lagi menghindarinya. Dewa sadar jika gadis itu sebenarnya memang menjaga jarak darinya dua hari lalu. Tapi kenapa Dewa harus memikirkan hal itu? Biasanya dia akan bersikap biasa saja terhadap wanita-wanita yang berusaha mendekatinya. Namun kenapa jika dengan Alena, Dewa menjadi seperti ini? Aneh.. |•| "Kamu mau berangkat sekolah?" tanya seorang pria yang melihat Alena tengah memakai sepatu yang dia letakkan di depan kamar kosnya. "Eh, Om Dewa. Alena kira siapa." celetuk Alena yang sedikit terkejut melihat sosok yang sudah berdiri di depannya. "Kamu belum jawab pertanyaan saya." ujar Dewa datar. Alena mengangguk paham. Sudah hampir satu bulan dia tinggal di sini dan menjadi tetangga dari pria duda itu. Dan setelah perbincangan yang cukup panjang setelah kejadian first kiss Alena hilang di tangan duda tersebut membuat hubungan mereka menjadi akrab. Dan Alena mulai sedikit mengetahui sifat Dewa. Seperti saat ini, pria itu tidak suka jika pertanyaannya tidak dijawab. Sehingga Alena yang memang sudah paham mengangguk ringan dengan tersenyum tipis. "Iya, Om. Alena baru mau berangkat sekolah." jawab Alena yang selesai memasang tali sepatunya. "Ya sudah, berangkat saja sama saya. Kantor saya dan sekolah kamu searah kan?" ujar Dewa menawari. Alena menggigit bibir bawahnya mendengar penawaran dari Dewa. Sudah beberapa kali pria itu menawarinya untuk berangkat bersama. Namun Alena selalu menolaknya karena tidak ingin merepotkan. "Kamu pasti akan menolaknya lagi." seloroh Dewa yang melihat Alena diam saja. Entah apa lagi alasan yang akan gadis itu berikan. "Alena cuma nggak enak aja sama Om Dewa. Takut ngerepotin." jawab Alena pada akhirnya. Dewa tampak menautkan alisnya dengan kedua tangan bersidekap d**a. Membuat otot bisepnya yang terbalut kemeja hitam tampak jelas di mata Alena. Dan itu sangat mengganggu kinerja jantungnya. Sadar, Lena. Dia duda. "Bagian mana yang membuat saya repot? Kantor saya lebih jauh dari sekolah kamu. Jadi apalagi alasan yang mau kamu berikan, hm?" ucap Dewa dengan suara deep voice nya. Please jantung, jangan baperan gini bisa kan? Dewa berdecak karena Alena justru terlihat melamun. Membuat pria itu mendekat dan berusaha menyadarkan gadis itu. "Alena? Hey, back to the earth." kata Dewa mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Alena. Alena yang sedari diam seketika tersadar dan mengerjap dengan raut kebingungan. Membuat Dewa gemas ingin menciumi pipi gembulnya itu, eh. "O-Om Dewa ngomong apa?" tanya Alena tergagap. "Lupakan. Sekarang lebih baik kamu ikut saya saja. Ini sudah hampir jam 7." ujar Dewa memutar bola matanya dan tanpa sadar menarik tangan Alena agar mengikuti langkahnya. Deg Deg Deg Jantung Alena seketika berjedag-jedug ria saat menyadari tangannya yang digenggam oleh pria di depannya. Dia mendongak, menatap sisi wajah Dewa yang nampak di indra penglihatannya. Jika Alena boleh jujur, Dewa memang memiliki paras yang tampan. Pria itu berwajah tegas dengan sorot matanya yang tajam bak elang. Maka dari itu Alena berpikir jika Dewa merupakan orang yang sangat menyebalkan. Apalagi perkenalan pertama mereka dulu. "Kalau diliat dari dekat gini, Om Dewa ternyata ganteng ya." Seharusnya ucapan itu hanya terlintas saja di pikiran Alena. Namun gadis itu justru tanpa sadar menyuarakan isi hatinya. Membuat Dewa seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alena. "Kamu bicara apa?" tanya Dewa dengan mata memicing. Ups.. Lagi-lagi Alena keceplosan!!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD